
Mau tak mau aku dan keluarga mengiyakan perkataan bidan itu. Kami kemudian pergi menuju rumah sakit khusus bersalin yang telah ditentukan. Bidan itu juga setia mendampingiku hingga tiba di rumah sakit seperti janjinya. Sesampainya disana, kami langsung disambut oleh security yang berjaga didepan beserta perawat yang bertugas.
"Rujukan dari klinik ya?"
"Iya."
"Mohon maaf sebelumnya, ini yang boleh nunggu cuma 2 orang. Kalau sudah masuk gak boleh keluar lagi." Karena kondisi covid, mereka membatasi pengunjung bahkan keluarga pasien juga.
Setelah beberapa saat berunding, kami memutuskan untuk memilih Ibu dan Tante Nda yang tinggal dirumah sakit bersamaku.
"Ayo silahkan langsung masuk ke ruang dokter!" Perawat segera membawaku keruang dokter segera setelah Ibu dan Tante Nda berjalan dibelakangku.
Para petugas terlihat sangat sigap dan tanggap dalam menangani pasien. Tidak bertele-tele dan membuang waktu. Rupanya pilihan kami untuk datang kerumah sakit ini sudah tepat.
"Silahkan berbaring Bu, saya usg dulu." Aku masuk keruang dokter bersama dengan perawat yang mengantarku dari klinik. Ia terus setia mendampingiku.
"Baik Dok."
"Ini gak nambah ya bukaannya dari kemaren? udah lewat hpl juga?"
"Iya dok." Perawat tadi yang menjawab pertanyaan dokter itu karena ia yang lebih paham kondisiku.
"Loh? ini keliatan mukanya tuh! harusnya kalau bayi 9 bulan udah mau lahir tuh di usg gak keliatan mukanya. Ini posisinya malah mlumah Bu." Dokter itu menunjukkan jari telunjuknya kearah monitor yang menggantung tepat diatas ranjang yang aku tiduri.
"Terus gimana dong Dok?" Kali ini aku bertanya karena merasa semakin panik.
"Ya pilihannya ada 2 Bu, kalo gak di pacu ya operasi sesar. Tapi kalo dipacu nanti kemungkinan di vacum juga pas mau keluarnya dan itu sangat beresiko untuk keselamatan Ibu dan bayi. Kalau saran saya Lebih baik sesar aja Bu untuk lebih amannya." Dokter itu memberiku 2 pilihan yang membuat bingung.
"Tapi ya monggo, keputusan ada pada njenengan Bu." Dokter itu memberi kesempatan untukku mengambil keputusan.
"Yasudah baik kalo gitu Dok. Sesar aja."
__ADS_1
Aku keluar dari ruangan dokter, dan berjalan masih dibantu perawat dari klinik tadi. Perawat dari Rumah Sakit kemudian membawa kami ke counter pendaftaran untuk proses registrasi.
Benar saja, mereka kembali bertanya perihal suami untuk mengisi data penjamin. Namun, kali ini Ibu dan Tante Nda dibantu perawat dari klinik memberi penjelasan pada mereka. Hingga proses registrasi selesai.
Setelah itu, perawat dari rumah sakit segera membawaku keruang sterilisasi. Dan aku berjalan masih dibantu perawat dari klinik. Disitu perawat dari klinik baru menyerahkanku sepenuhnya pada pihak rumah sakit.
"Bu, saya pamit dulu ya. Semoga persalinannya lancar, Ibu sama dedeknya sehat. Semangat ya Bu." Perawat itu mengucapkan kalimat perpisahan yang membuatku terharu.
"Makasih banyak ya Mba udah mau bantuin saya. Oh ya Mba namanya siapa? Dari tadi saya sampai lupa kenalan hehe." Aku mengulurkan tangannya untuk berkenalan pada perawat yang sedari tadi mendampingiku itu.
"Saya Ratna Bu, kalau gitu saya permisi ya. Sampai ketemu di klinik ya Bu." Perawat itu berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah kepergian Ratna, perawat rumah sakit memberikanku baju ganti dan menyuruhku mengganti pakaian. Baru setelah itu aku berbaring. Mereka mulai menyuntik tangan kanan dan kiriku. Tangan kiri untuk suntik yang kemudian dipasang infus, dan suntikan tangan kanan untuk antibiotik. Suntikan kedua entah mengapa terasa sakit dan panas. Aku yang sebelumnya takut disuntik itu, kini sama sekali tak menghiraukan rasa sakitnya lagi.
Tak lupa, mereka juga memasang selang pernafasan di hidungku untuk membantu bernafas karena memang tubuhku sudah mulai lemas. Namun beberapa saat setelah semua itu terpasang, tiba - tiba badanku mengginggil hebat. Hingga membuat ranjangnya ikut goyang, aku seperti kejang.
Ibu yang semula berada di sampingku pun panik dan segera memanggil perawat. Ia keluar mencari keberadaan perawat.
"Bu, itu pasien yang disana kok menggigil hebat kayak gitu." Ibu berteriak pada perawat yang pertama kali ia temui. Ia berlarian dengan air matanya yang sudah mengalir di pipinya.
Tak lama kemudian, terlihat banyak perawat berbondong - bondong datang menghampiri ranjangku. Mereka semua terlihat panik, salah seorang perawat mengatur alat kontrol infus yang sudah terpasang disisi kiriku. Ia juga melepaskan alat bantu pernafasan yang sebelumnya terpasang di hidungku.
Tante Nda dan Ibu terlihat menangis dan mondar mandir keluar masuk ruangan karena panik. Mereka bahkan menghubungi keluarga dirumah untuk ikut mendo'akan keselamatanku dan bayiku.
Aku sendiri hanya memperhatikan mereka dan terus berdo'a. Pikiranky sudah kacau, dipikiranku terlintas mungkin saja itu adalah akhir hidupku karena aku sama sekali tak bisa mengontrol tubuhku sendiri.
Berkat usaha para perawat yang begitu keras, beberapa saat kemudian aku berhasil ditenangkan. Ibu dan Tante Nda kembali duduk di sampingku. Mereka mencium dan memelukku yang kondisinya sangat lemas. Mereka berdua menangis di sampingku.
Aku mulai sadar kembali, dan masih menunggu saat dioperasi. Disebelahku ada pasien juga, ia terus berteriak kesakitan membuatku kembali panik. Namun, beberapa saat kemudian beberapa perawat datang keruangan itu untuk membawaku bersamaan dengan pasien yang tadi ada disebelah. Rupanya kami dioperasi diwaktu yang bersamaan.
"Bu pindah keruang operasi sekarang ya!"
__ADS_1
Dua perawat menuntunku, mereka memegang tangan kanan dan kiriku menuju ruang operasi. Aku kemudian duduk di ranjang operasi. Beberapa dokter dan perawat masih memegang tangan kanan dan kiriku dengan erat agar aku tak bergerak saat disuntik. Mereka mulai menusukkan suntikan bius di punggung bagian bawahku.
"Disuntik bius ya Bu. Tahan nafas jangan bergerak badannya rileks!" Aku menarik nafas panjang untuk menahan suntikan itu. Tentu saja aku terkejut saat suntikan itu menembus kulit di punggungku.
Setelah suntikan itu berhasil, mereka menyuruhku berbaring dan menggerakkan kakiku untuk mengecek reaksi biusnya.
"Coba diangkat kakinya Bu!" suntikan tadi adalah bius lokal yang membuat badan dari perut kebawah mati rasa.
Aku menaikkan kaki kiriku, dan memang terasa berat. Namun, aku masih bisa merasakannya. Hanya area perut kebawah saja yang mati rasa, area atas masih terasa normal. Ada satu dokter yang berada didekat kepalaku, ia terus mengajakku bicara untuk mengalihkan kepanikanku agar lebih rileks.
Besambung
-
-
-
-
-
Hai haiiii readers kesayangan aku. Makasih ya selalu setia membaca setiap episode YSM. Makasih juga buat semua pembaca yang sudah berbaik hati memberikan vote,like dan juga komennya. Semoga sehat dan rejekinya lancar selalu. π
Follow instagram mey.novel ya, disana ada banyak info tentang karya-karyaku yang lain.
Jangan bosan-bosan ya terus ikuti setiap episodenya.
Jika kalian suka dengan karya author. Tinggalkan like,komen dan juga votenya yah π
Komen dibawah jika ada kritik dan saran yang ingin disampaikan. Dan juga jika ada unek - unek yang mau disampaikan β€οΈ
__ADS_1
Pembaca selalu diminta bijak dalam membaca novel ini !
Terimakasih