
"Udah gitu keluarganya kurang ajar banget nuduh Ara mata duitan. Duit gak seberapa aja diminta lagi kok sok sok an! Dasar gak tahu malu." Tante Nda membiarkan Ibu untuk meluapkan amarahnya. Ia berharap itu bisa membuatnya lebih lega.
"Emang si Aryo bisa banget biar gak malu di depan keluarganya, Mba. Dia kayak gitu karna malu kalau keliatan kere di depan keluarganya." Tante Nda juga sebenarnya geram, tapi ia berusaha menahannya agar tidak membuat Ibu lebih emosi lagi.
"Nda, kamu bisa bantuin jual mobil Ara gak?" Ibu menatap Tante Nda. Ia tersenyum setelah melihat Tante Nda yang malah ikut marah-marah.
"Bisa Mba, nanti biar Mas Dul yang jualin. Kita turuti kemauan Ara dulu aja Mba. Saat ini mentalnya pasti lagi down banget, kita harus dukung dia Mba biar dia tetap kuat". Tante Nda memberi pengertian sebaik mungkin pada Ibu agar ia bisa mengerti kondisi anaknya yang sedang terpuruk dan sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya.
"Iya Nda, yang penting Ara nyaman jalaninya." Ibu menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Bener Mba. Ara anak yang kuat, dia pasti bisa melewati masalah ini." Tante Nda menyunggingkan senyuman setelah berhasil membujuk Ibu. Ia memeluk Ibu dengan erat.
***
Ara masih terjaga saat Ibu dan Tante Nda sudah tidur lelap. Ia sedang menonton televisi yang ada di kamarnya. Ia pun sudah bisa memiringkan badannya sedikit demi sedikit.
Drrrrt. Drrrrt. Drrrrt.
Ia mendengar bunyi ponselnya yang terletak di atas nakas. Ada satu panggilan dari nomor Aryo, namun ia hanya memandangnya dan membiarkannya begitu saja.
Saat panggilan itu mati, Ara segera mengeluarkan kartu sim yang dipasang di dalam ponselnya. Ia mematahkannya menjadi beberapa bagian dan melemparkannya keluar jendela yang masih terbuka di sebelah kiri tempat tidurnya dengan penuh amarah. Dengan begitu, Aryo dan semua orang yang berhubungan dengannya tak akan lagi bisa menghubunginya.
Ara menatap tajam keluar jendela yang terlihat gelap itu. Ia mengepalkan kedua tangannya mengingat kejamnya Aryo pada dirinya.
Aryo tidak pantas meski hanya untuk bicara padanya. Lari dari tanggung jawab dan membuang anaknya sudah menjadi keputusannya sendiri yang artinya, Aryo tidak boleh berharap bisa bicara apalagi bertemu dengan mereka lagi.
***
__ADS_1
Tanpa Ara sadari, ternyata pagi sudah datang. Pasien di sebelahnya yang operasinya bersamaan dengannya terlihat berjalan ke kamar mandi didampingi suaminya. Ia melewati ranjang Ara.
"Loh Mba, udah bisa jalan?"
"Iya nih Mba, hehe". Ara merasa heran, karena untuk duduk saja ia belum kuat tapi pasien itu malah sudah mampu berjalan.
Tak lama kemudian beberapa perawat datang ke kamarnya untuk membantu membersihkan badannya, ada juga yang membawakan sarapan untuknya.
"Sudah kentut belum, Bu?".
"Sudah, Mba."
"Infusnya saya lepas ya kalau gitu?"
"Ya, Mba." Perawat itu sangat hati-hati saat melepaskan plester bekas infus yang ada di tangan kiri Ara.
Melihat pasien yang di sebelahnya lebih cepat pulih daripada dirinya membuat Ara semakin semangat untuk segera pulih. Ia lebih semangat menggerak-gerakkan badannya, ia juga lebih banyak makan dan minum untuk mengembalikan tenaganya.
"Ayo semangat, Bu! pasien sebelah udah bisa jalan lho." Perawat yang sedang memeriksa tensi darahnya memberi semangat untuk Ara.
"Ini karna badan saya kecil, Mba. Beratnya cuma 40an. Jadi cepet bisa gerak, gak papa pelan-pelan aja, Mba." Pasien sebelah rupanya mendengar perbincangan Ara dan perawat itu.
"Iya, berat badan juga ngaruh Mba." Perawat itu beralih memeriksa pasien yang ada di sebelah.
"Kamu gak pengen apa gitu, Ra? biar aku beliin." Tante Nda heran karena selama di rumah sakit, Ara sama sekali tak minta apapun.
"Gak, Te. Makanan di sini juga enak kok." Ara terlihat sangat lahap saat makan, mungkin karena Ibu menyuapinya.
__ADS_1
"Bu, kalau kita udah pulang bikinin ayam goreng gini ya!" Entah mengapa semua makanan yang ia makan terasa sangat enak. Mungkin karena ia sudah merasa lega karena akhirnya Raden sudah lahir dan mereka berdua selamat. Tidak seperti hari sebelum ia melahirkan, bahkan hanya untuk minum saja Ara tak bisa menelannya.
Raden masih sering tidur, ia termasuk bayi yang jarang menangis. Ia tidur di trolly bayi yang disediakan rumah sakit. Tapi sesekali juga tidur di ranjang bersama Ara atau digendong Ibu dan Tante Nda.
Ara sangat senang memandang wajah imut itu. Menurutnya wajah Raden mirip dengan Ibu, tapi bibirnya mirip dengan dirinya. Dalam hatinya ia bersyukur karena Raden tidak mirip dengan Aryo.
***
Suatu hari di kos Ara saat usia kehamilannya masih 2 bulan. Aryo memegang perut Ara yang masih datar. Ia terlihat mengusapnya beberapa kali dengan tangan kanannya.
"Ingat perkataan ku baik-baik ya! Anakmu ini perempuan." Aryo mengatakannya dengan mantap. Merasa sangat percaya diri bahwa perkataannya itu benar.
"Tahu darimana kamu, Mas?" Ara mengernyitkan keningnya, ia heran. Darimana sikap sok tau nya itu berasal?
"Udah kamu percaya aja sama aku! iris leherku kalau sampai omonganku salah!" Wah wah bahkan dia berani mengatakan hal yang mengerikan semacam itu.
"Mau perempuan atau pun laki-laki yang penting sehat, Mas." Ara tak menghiraukan perkataan Aryo yang menurutnya tak masuk akal. Perkataan semacam itu menurut Ara seperti mendahului kuasa Tuhan bukan?
"Lihat aja besok kalau gak percaya!" Rupanya Aryo masih bersi keras bahwa perkataannya memang benar. Ara hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap wajah Aryo, kali ini ia sudah tak menggubris perkataan Aryo yang dirasa tak masuk akal itu.
Namun kini, terbukti bahwa perkataan Aryo salah kaprah. Anak yang lahir dari kandungan Ara adalah laki-laki. Itu semakin membuat Ara menyadari betapa konyolnya Aryo.
"Ya Aryo. Anggaplah anakmu memang perempuan! Raden, bayi laki-laki ini adalah anakku, dia bukan anakmu!" Ara bergumam mengingat kejadian waktu itu. Ia juga ingat saat Aryo mengelak bahwa anak yang ada dikandungan Ara bukanlah anaknya pada pertemuan antar keluarga Aryo dan keluarganya waktu itu.
Bukankah lebih bagus jika Aryo tak mau mengakui anaknya saat ini? Ara tak perlu repot-repot berhubungan dengan Aryo beserta keluarganya yang akan sangat mengganggu.
Bahkan Ara saat ini merasa lega karena aknhirnya Aryo sudah menikah dengan Siwi. Ia juga berterima kasih pada Siwi yang telah menyelamatkan hidupnya, membuat Ara bisa hidup tenang bersama Raden tanpa adanya gangguan dari mereka lagi. Berharap semoga hidup mereka selalu bahagia agar tidak mengganggu Ara dan Raden.
__ADS_1