Young Single Mom

Young Single Mom
Pascamelahirkan


__ADS_3

setelah selesai membersihkan diri, aku kembali beraktivitas seperti biasanya di rumah. Hingga waktu semakin siang dan perutku sudah mulai merasakan mulas.


Aku menunggu hingga malam hari dan rasanya masih sama. Sedangkan keluarga besarku sudah sigap berkumpul dirumah kecil ku untuk mendampingi persalinanku nanti.


Saat tengah malam, frekuensi sakitnya makin naik. Hingga kini, aku mulai merintih menahan rasa sakit saat perutku kencang. Namun, aku tak segera bergegas ke klinik juga. Aku memutuskan untuk menunggu hingga pagi karena jarak sakitnya masih belum terlalu dekat.


Sebenarnya aku sangat gelisah, tapi melihat seluruh keluargaku mendampingiku. Hal itu memberikan kekuatan tersendiri untukku.


Aku tetap berada di ranjangku. Posisi apapun yang aku lakukan tetap saja tidak mengurangi rasa sakitnya. Sepanjang malam aku terjaga hingga badanku mulai lelah. Kantung mataku menghitam, rambut pun berantakan. Ditambah nafsu makanku juga hilang. Ingin muntah rasanya setiap kali memasukkan makanan kedalam mulutku.


"Kamu harus tetep makan lho Ra biar nanti kuat ngedennya! Ini diminum teh angetnya!" Ibu menyodorkan satu cangkir teh hangat untukku.


"Tapi kok aku mual ya Bu? emang gini ya kalau mau lahiran? Ibu dulu begini gak?" Aku mencoba menggali informasi seputar persalinan pada Ibu.


"Dulu Ibu sih enggak. Orang hamil beda-beda pengalamannya Ra." Ibu memberi penjelasan sesuai pengetahuannya.


Setelah minum teh. Aku pun berjalan-jalan didepan rumah. Ke 2 tanteku pun menemaniku. Konon berjalan kaki memudahkan proses persalinan. Aku berjalan-jalan selama berjam-jam berharap bisa mempercepat proses persalinannya.


Tenaga ku mulai terkuras. Keluargaku pun semakin khawatir karena sudah begitu lama tapi tak kunjung ada kemajuan juga.


"Nak, kita ke klinik sekarang aja yuk!" Bapak memutuskan untuk membawaku ke klinik terdekat untuk memastikan kondisinya.


"Iya Pak." Ibu dan tante pun sudah siap membawakan perlengkapan persalinan. Mereka membantu ku masuk kedalam mobil.


Tak butuh waktu lama hingga sampai di klinik. Aku sampai diklinik tepat pukul 8 pagi. Tidak ada antrian sama sekali, Aku langsung mendapat kamar bersalin. Salah satu perawat juga membantu mengisi formulir pendaftaran dengan sangat ramah.


"Maaf Mba, saya tidak bisa isi formulir ini dengan data yang lengkap." Tante Nda yang sibuk di bagian pendaftaran karena ibu sedang sibuk menemaniku didalam kamar bersalin.

__ADS_1


"Apa ada yang kurang Bu?" Perawat itu terlihat bingung, tapi ia bertanya dengan nada sopan.


"Pasien ini sudah pisah dengan suaminya, jadi saya tidak bisa isi data suaminya sekarang."


"Tapi data suami sebagai penjamin Bu."


"Bisa diisi data orangtuanya kan? Orangtuanya yang akan menjaminnya."


"Bisa Bu kalau orangtuanya bersedia. Nanti akan saya bantu bilang dengan petugas registrasi disini." ia terlihat paham dengan kondisi ku.


Seorang bidan memeriksa kondisiku. Ternyata masih bukaan 2 yang artinya perjalanan yang ditempuh masih lah sangat jauh untuk mencapai bukaan ke 10.


"Nanti jam 12 saya periksa lagi ya bu."


Perawat menyuruhku untuk menunggu sembari berjalan-jalan hingga naik turun tangga lagi disekitar klinik.


Aku memandang keluargaku yang tengah menemaniku di klinik. Dalam hatiku sedih, Aku dan calon anakku sedang berjuang mempertaruhkan keselamatan dan nyawa kami. Sedangkan, Aryo malah sedang mempersiapkan pernikahannya dengan wanita lain. Pada umumnya suami lah yang menemani istrinya pada proses persalinan. Bukankah itu hal yang normal untuk wanita hamil? tapi hal normal seperti itu pun tak bisa aku dapatkan.


Aku terus berjalan-jalan, menunggu durasi kontraksinya lebih cepat. Namun, kontraksinya tak kunjung menampakkan perubahan. Mambuatku mulai panik karena memang sudah melewati hari prakiraan lahir atau biasa disebut dengan (hpl). Takut terjadi apa-apa dengan persalinannya.


Aku menunggu hingga waktu yang ditentukan. Lapar, lelah, kantuk semua bercampur menjadi satu. Belum lagi merasakan sakitnya perut saat sedang kencang, hmmmm sungguh sangat nikmat. Perihal pusing dan mual? ah hiraukan saja.


"Baru nambah 1 Bu, nanti jam 4 saya periksa lagi ya. Ibu jangan cemas, tetap positif thinking jangan mikir yang aneh-aneh ya!"


Bidan memberi semangat padaku untuk tetap kuat. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan cinta pertama yang sudah ku nanti - nantikan. Bahkan aku sudah harus melupakan lelahnya dan terus bergerak berjalan - jalan berharap kontraksinya akan lebih cepat begitu pun bukaannya.


"Kok baru nambah dikit ya Bu? nanti pukul 20.00 saya periksa lagi. Tapi, kalau misal belum nambah juga terpaksa dirujuk ke rumah sakit ya Bu?"

__ADS_1


"Harus operasi ya?"


"Semoga saja tidak ya Bu, berdo'a supaya bisa normal. Soalnya ini kan juga sudah lewat hpl kan Bu? takutnya nanti ada kondisi yang tidak kita inginkan. Kasian Ibu dan bayinya juga sudah kelelahan dari kemarin merasakan kontraksinya." Mata ku seketika berkaca-kaca mendengar perkataan Bidan itu. Aku khawatir jika harus operasi. Di samping takut, aku juga memikirkan masalah biaya yang lebih mahal dibanding persalinan normal.


"Gak papa Bu. Jangan sedih, tetap semangat! Sekarang yang harus Ibu pikir adalah keselamatan Ibu sama adek nya." Bidan itu mengusap pundak ku untuk memberi semangat.


Semangat ku semakin bertambah, kali ini aku memaksa menelan makanan dan juga berjalan naik turun tangga lebih sering dari sebelumnya agar nanti kuat ketika persalinan. Aku terus melakukannya hingga waktu menunjukkan pukul 20.00.


"Ini belum juga nambah Bu, kita harus segera ke rumah sakit!"


"Gak bisa nunggu lagi ya Mba?" Aku masih berharap bisa bersalin normal di klinik itu.


"Kondisi ibu sudah tidak memungkinkan. Gak papa saya temani sampai ke rumah sakit Bu. Jangan takut ya!" Bidan itu terus berusaha membujuk ku agar mau kerumah sakit. Sebenarnya ia juga sudah khawatir dengan keadaan ku.


"Baik Mba, gimana nih Buk?" Aku mengiyakan perkataan Bidan itu. Kemudian meminta pendapat dari Ibu.


"Ya udah gak papa, ini demi nyawa Ra." Ibu menganggukkan kepalanya.


"Mau kerumah sakit umum atau khusus bersalin Bu? biar saya bantu urus rujukannya."


"Menurut kamu lebih baik kemana ya Mba?" Aku meminta pendapat Bidan itu.


"Kalau menurut saya sih mending di rumah sakit khusus bersalin biar langsung ditangani. Kalau di Rumah sakit umum takutnya pelayanannya kurang maksimal. Belum lagi sekarang kan sedang covid, jadi pasti dipersulit proses penanganannya." Ya, di kala pandemi ini biasanya dirumah sakit umum, pasien yang masuk harus melalui beberapa tahap tes. Sedangkan itu semua tidak memungkinkan untuk kondisi ku saat ini.


"Nanti kalau disana ditanya-tanya tentang data suami lagi gimana dong Mba?"


"Gak papa, saya yang bantu bilang sama petugas disana nanti Bu. Jangan cemas ya Bu." Bidan itu terlihat sangat tulus membantu ku selama berada di klinik itu seharian. Benar-benar membuat ku dan keluargaku nyaman berada disana.

__ADS_1


__ADS_2