
Pernikahan kami sudah berjalan tanpa ada suatu masalah,kami selalu melakukan apapun berdua,Aryo juga terlihat selalu berusaha membahagiakanku. Ya,harusnya kami berdua bahagia....
* * *
"Dek bangun ! kamu gak kerja ?."
"Duhh aku pusing nih mas." Aryo memegang leher dan keningku.
"Gak panas tuh." Saat Aryo sedang sibuk mengecek suhu badanku tiba-tiba rasa mual menyerangku begitu kuat dan tak sanggup ku tahan. Aku segera berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutku.
"Yok ayok periksa ke dokter aja." Dengan sigap Aryo membalutkan baju hangat di tubuhku dan membawaku ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit,aku langsung menuju Front Office untuk menanyakan perihal dokter yang bertugas dihari itu,namun petugas yang berjaga memberikanku beberapa lembar kertas yang harus aku isi terlebih dahulu untuk keperluan registrasi. Setelah selesai dengan semua urusan registrasi,petugas mengarahkanku untuk pergi keruangan dokter yang sedang praktik. Aku mendudukkan badanku di kursi yang berjajar rapi didepan ruangan dokter menunggu giliran untuk diperiksa. Tinggal satu orang lagi di depanku,itu artinya antrianku akan segera sampai. Aryo setia menemaniku selama di rumah sakit,hingga giliran pemeriksaanku pun tiba. Dokter mulai memeriksa kondisiku didampingi oleh seorang perawat.
"Kondisinya baik,sepertinya ibu hamil,namun untuk memastikan silahkan tes kehamilan dulu menggunakan test pack ini dengan urin ibu ya agar analisanya lebih akurat."
Tak pikir panjang aku segera melakukan tes kehamilan dikamar mandi dan hasilnya aku dapatkan dua garis biru. Aku segera keluar dengan perasaan yang bercampur-campur,perasaan bahagia dan juga sedikit aneh karena baru pertama kali merasakan perasaan yang seperti ini.
"Dua garis biru dok." Keringat di tubuhku mengalir deras, aku mengeluarkan ekspresi bahagia bercampur kaget yang membuat bingung tak karuan.
"Selamat ya bu,selamat juga pak. Saya akan meresepkan beberapa vitamin untuk ibu ya."
Aku dan Aryo keluar dari ruangan dokter dan menuju tempat pembayaran sekaligus pengambilan obat. Kami mengantri lagi cukup panjang. Disela-sela antrian kami berdua duduk di kursi yang disediakan oleh rumah sakit dan berbincang.
"Mas kapan kita ketemu orang tuamu ? mereka pasti bahagia mendengar kabar ini."
"Iya nanti kita bilang sama orang tuaku."
Aku bahagia ketika mengetahui aku hamil,itu artinya aku akan segera menjadi ibu. Sebagai seorang perempuan yang sudah menikah tentunya merasa sangat sempurna ketika akan menjadi ibu. Namun perasaan bahagiaku masih terasa mengganjal lantaran aku belum bertemu dengan orang tua Aryo juga.
Aku tidak masuk kerja hari itu, aku lebih memilih beristirahat karena dokter juga menyarankan untuk banyak istirahat. Selesai mengantarku pulang Aryo pun pergi bekerja.
Hingga larut malam aku menunggu kepulangan Aryo namun ia tak kunjung pulang hingga aku mendapatkan pesan singkat darinya.
"Hari ini aku gak pulang,aku kerumah orang tuaku untuk memberi kabar kehamilanmu." ~ Aryo
* * *
Keesokan harinya aku pergi bekerja karena sudah terlalu banyak ijin. Aku bersemangat karena juga ingin berbagi kabar baik dengan kedua temanku. Aku memberitahu mereka saat sedang makan siang.
__ADS_1
"Kamu kemaren kenapa gak masuk lagi ra ?." Bianca melempar pertanyaan padaku yang kebetulan bisa digunakan untuk membuka perbincangan kami.
"Aku kerumah sakit kemarin,periksa mak."
"Hah? kamu sakit ?." Fafa terlihat khawatir dan memandangku.
"Haha enggak mak,aku hamil."
"Waaaa serius ?."
"Iya mak."
"Alhamdulillah,kita akan segera jadi bu dhe hahaha."
Mereka berdua terlihat bahagia,hamburan pelukan dan juga ciuman pun pecah. Sungguh beruntung aku memiliki sahabat seperti mereka.
Ditengah-tengah kebahagiaan kami tiba-tiba aku mendapat telepon dari Aryo.
"Hallo,kamu kerja?"
"Iya mas,gimana?"
"Aku ngikut aja mas beliau bisanya kapan."
"Ya udah kalau gitu,kamu siap ya ?"
"Iya insyaalloh mas."
Kami mengakhiri perbincangan ditelepon dan aku melanjutkan kegiatanku bersama teman-temanku.
"Mak orang tua Aryo mau ketemu sama aku,aku harus gimana?."
"Kapan ketemunya?"
"Gak tau paling besok."
"Ciyeee yang mau ketemu mertua,mereka pasti seneng denger kabar kehamilanmu langsung. Aryo bilang kan mereka udah pengen punya cucu."
"Iya mak hihi,aku grogi banget soalnya belum pernah ketemu,kira-kira mereka suka gak ya sama aku,soalnya kalau Aryo cerita katanya mereka seneng gitu."
__ADS_1
"Pasti senenglah,kan pilihan anaknya dan mereka juga udah setuju."
* * *
Aryo menyuruhku pergi ke restaurant yang lokasinya tak begitu jauh dari tempat tinggalku. Ia memilih tempat itu untuk mempertemukanku dengan orang tuanya untuk pertama kalinya ketimbang bertemu di kos bermaksud agar bisa sekalian makan bersama.
Aryo dan orang tuanya terlebih dahulu tiba. Setibanya di depan, aku melihat mobil Aryo telah terparkir di halaman depan restaurant. Aku mulai mengedarkan mata elangku mencari keberadaan Aryo dan orang tuanya. Terlihat sepasang suami istri yang sudah sepuh tengah duduk di depan Aryo. Aku tersenyum karena telah menemukan keberadaan mereka dari kejauhan dan segera melangkahkan kaki untuk menghampiri mereka.
Mereka tidak menyadari kedatanganku hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengeluarkan suaraku menyapa mereka.
"Pak,bu..." Mendengar suaraku mereka langsung menoleh ke arahku dan memandangku hingga membuatku mati gaya dibuatnya. Aku gelisah tak karuan, setengah mati aku menahan badanku yang gemetar hingga keringat pun rasanya mengalir deras di tubuhku. Tak punya pilihan lain, aku menyunggingkan senyum kaku kearah mereka dan mendekat mulai mengulurkan tanganku untuk menyalami keduanya. Uluran tangan pertama aku tujukan pada sang ibu, Namun aku terkejut dibuatnya,ia menepis tanganku seolah jijik padaku. Aku terkejut dan hanya bisa menelan salivanku. Aku berusaha tak menghiraukan perlakuan ibunya dan beralih ke tangan sang Ayah dengan perasaan takut. Ternyata respon dari ayahnya pun tak jauh beda, ia juga menepis uluran tanganku.
Aku bingung dengan apa yang terjadi,kenapa mereka seperti ini ?. Senyum yang tadinya menghiasi wajahku pun seketika sirna bagai di telan badai.
"Duduk disini !" Aryo menyuruhku duduk disampingnya,tepat didepan ibunya.
"Pesan makan sana !" Tanpa memandang wajahku, ibunya menyuruhku untuk memesan makanan.
Aku sama sekali tak mengiyakan perintahnya. Bagaimana mungkin aku bisa makan dalam situasi dan kondisi seperti ini ? Aku masih bingung dan belum mengerti dengan apa yang terjadi,seperti semua tidak berjalan sesuai dengan bayanganku selama ini. Tentu saja hanya ada banyangan-bayangan indah di kepalaku lantaran kepercayaan yang telah kuberikan pada Aryo sepenuhnya.
Bersambung.
-
-
-
-
-
Hallo readers kesayangan aku,makasih banyak atas kesetiaan kalian di setiap episode YSM. Jangan bosan ya π
Jika kalian suka dengan karyaku,jangan lupa tinggalkan like,komen dan votenya ya biar rame π
Pembaca selalu diminta bijak dalam membaca novel ini !
Terimakasih.
__ADS_1