
"Kasar gimana maksud mba Ara ?." Bima bertanya padaku.
"Dia berbuat kasar sama saya. ini bekas - bekas lukanya." Aku menunjukkan beberapa lebam bekas pukulan Aryo yang ada di tubuhku. Ayahnya terlihat menundukkan kepalanya melihat bekas luka yang ada di tubuhku.
"Melihat ini,saya jadi khawatir dengan Siwi." Bima menatap lukaku dengan raut wajah kasian.
"Mba Ara sudah ada rencana kedepannya mau gimana belom ? sudah memikirkan gimana nanti biar bisa jaga nama baik keluarga ? kasian kalau nanti tetangga mba Ara menghujat keluarga mba Ara." Bima melemparkan pertanyaan bertubi - tubi.
"Mas tenang aja,itu nanti urusan saya." Aku menjawabnya dengan mantap.
"Baiklah kalau sudah begitu berarti nanti dikemudian hari keluarga kalian tidak akan bikin laporan macam - macam kan ?." Ayahnya kembali meminta kepastian.
"Ya tergantung nanti kedepannya gimana, kami kan juga tidak tahu nanti akan bagaimana. Yang jelas saya tetap simpan semua rekaman dan dokumen pernikahan beserta surat pernyataan yang Aryo buat." Pak kepala desa masih bertahan dengan pembelaannya.
"Aryo buat surat pernyataan? Coba saya lihat ! " Ayahnya bersikeras ingin melihatnya. Aku segera mengambilnya dan memperlihatkan kepadanya.
"Ah ini bukan tulisan anak saya." Ayahnya mengelak.
"Saya memang tidak pernah menulis surat pernyataan yah." Aryo begitu percaya diri karena merasa tidak menuliskannya.
"Ternyata kamu sudah merencanakan kelicikan ini dari awal ya mas ? Hmmm amit-amit jabang bayi anakku punya bapak macam kamu." Aku mengelus perutku yang masih datar karena mengingat kelicikan Aryo yang setelah aku sadari ternyata dia dari awal sudah berjaga - jaga dengan semua kemungkinan yang terjadi. Tak heran dia bisa mempersiapkan semuanya,di samping pengalaman yang ia miliki dalam profesinya, ia juga memang terlahir licik. Pantas saja dia menyuruhku menulis suratnya, rupanya agar dia aman dari tuduhan ini ?.
"Lagian memangnya ada bukti kalau itu memang anak saya ? bisa aja kan itu anak orang lain." Rupanya Aryo masih berusaha keras memojokkanku.
"Saya juga gak terima kalau adik saya di porotin sama si Ara." Tari ikut menimpali.
"Iya, anggap saja dia bukan anakmu. Dia hanyalah anakku sekarang dan selamanya !." Mendengar tuduhannya aku semakin yakin ingin membesarkan anakku tanpanya.
__ADS_1
"Atas dasar apa kamu bilang anak saya morotin si Aryo yang gak modal itu?." Ibu tak terima dan melemparkan pertanyaan pada Tari.
"Waktu itu saya ke kos Ara dan lihat banyak sekali barang branded didalam kosnya. Pasti itu semua hasil morotin adik saya kan?." Tari sangat percaya diri.
"Oh jadi kamu didepan keluargamu berlagak berduit ya mas ? Haha kok malah aku yang malu sendiri ya. Kasih mahar aja ups yasudahlah tidak usah dibahas lagi" Mungkin Aryo tak mau harga dirinya didepan keluarganya rendah dan berlagak memberikan materi padaku sehingga semakin mendapat pembelaan dari keluarganya. Mungkin juga dengan cara itu ia bisa lebih mudah lari dari tanggung jawabnya.
"Aku gak kasih kamu materi karena emang aku gak mau barang yang aku kasih ntar kamu jual lagi kayak barang - barang kamu itu." Lagi - lagi Aryo membuat pembelaan yang tak masuk akal.
"Loh ya terserah Ara dong,mau barangnya dijual ! mau dibakar ! ya suka-suka dia,apa urusannya sama kamu ?." Perkataan ibu memang masuk akal dan berhasil membuat Aryo bungkam. Pak kepala desa terlihat menahan tawanya melihat tingkah lucu dan aneh keluarga Aryo.
"Sudahlah pak,keluarga kami tidak minta pertanggung jawaban dari kalian. Ara anak saya ! jadi saya akan bertanggung jawab merawatnya dan juga cucu saya. Kalian tidak usahlah capek - capek cari alasan untuk memojokkan keluarga kami hanya untuk lari dari tanggung jawab." Bapak terlihat sudah mulai tidak sabar menghadapi perdebatan itu.
"Baguslah kalau gitu,lagian Aryo juga akan segera menikah." Tari memberikan informasi yang sama sekali tidak kami butuhkan.
"Jadi kalian sudah menolak kami kan ? Kalau begitu jangan sampai kalian mengganggu kami lagi." Aku memastikan lagi karena tidak mau dikemudian hari mereka mengganggu kehidupanku.
"Silahkan kalian tulis apa yang kalian mau !." Bapak mempersilahkan mereka untuk menulis surat pernyataan. Ayah Aryo kemudian mulai menuliskan beberapa kata di atas lembar kertas putih,kami semua hanya menunggunya. Setelah beliau selesai kami semua baca isinya satu persatu dan menandatanganinya.
"Baik sepertinya semuanya sudah cukup jelas. Jadi kalian boleh pergi sekarang." Bapak mengusir mereka dengan nada yang halus. Mereka berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya pamit. Mereka saling bersalaman.
"Pamit ya dik." Aryo menyalami tanganku sebelum ia keluar dari rumahku dan segera kulepaskan tanpa menatap ataupun menyahuti perkataanya.
"Ati - ati dijaga dedeknya ya !" Tari menyalami tanganku dengan ekspresi wajah yang menjijikan. Aku hanya sedikit meliriknya dan melemparkan senyum sinis.
Setelah semua orang keluar,hanya tinggal ayah Aryo yang masih didalam. Ia memeluk erat bapak sambil menangis yang sama sekali tak dibalas oleh bapak. Ia kemudian mendekat ke arahku dan mengusap rambut ujung kepalaku, ia juga mengusap air mataku karena memang setelah semua orang keluar akhirnya aku menangis dan sialnya ayah Aryo melihatnya. Sebenarnya dadaku sangat sesak selama perdebatan berlangsung,aku berusaha setengah mati agar terlihat tegar didepan mereka.
Setelah ayah Aryo keluar,bapak segera menutup pintu dengan keras ketika mereka masih ada di teras rumah tanpa menunggu kepergian mereka semua. Aku segera masuk kedalam kamar dan menangis sejadinya.
__ADS_1
"Udah gak usah di tangisin !." bapak terlihat geram. Ibu memelukku dan menenangkanku.
Aku menangis bukan karena patah hati pada Aryo, tapi sedih karena mengingat anakku ini. Anak yang tak berdosa dan terjadi atas dasar cinta harus ditolak oleh ayahnya sendiri. Bahkan diusianya yang masih 4 bulan dan masih didalam perut dia sudah tidak diterima. Betapa malangnya anak ini. Bahkan aku lebih beruntung waktu seusianya dulu,tapi kenapa aku membuat anakku ini tidak beruntung seperti aku ?. Bagaimana bisa ada manusia yang tega menolak darah dagingnya sendiri dan sangat egois memikirkan karir dan kebahagiaanya sendiri? Bahkan jika kulihat lagi, hewan pun masih punya kasih sayang terhadap darah dagingnya. Tapi manusia ini ? Apa benar dia bukan manusia ? Entahlah, yang jelas aku akan membahagiakan anakku apapun yang terjadi. Besar tanpa ayah bukan berarti dia tak bisa menjadi anak yang bahagia. Setidaknya aku harus mendidiknya agar menjadi anak yang pemberani dan tidak pengecut seperti ayahnya...
Bersambung...
-
-
-
-
-
Hallo readers kesayangan aku... apa kabar ? Selalu jaga kesehatan ya π
Terimakasih karena selalu setia membaca setiap episode YSM π jangan bosen-bosen ya...
Jika kalian suka dengan karya author harap tinggalkan like,komen dan juga votenya yah π
Author sangat senang kalau kalian mau komen dibawah jika ada kritik,saran dan juga unek-unek yang mau disampaikan βΊοΈ
Pembaca selalu diminta bijak dalam membaca novel ini !
Terimakasih.
__ADS_1