Young Single Mom

Young Single Mom
Dia kan bukan anak sultan ?


__ADS_3

"Nak maafin mama ya, mama sedih terus, mama nangis terus. Kamu jangan ikut sedih ya, mama sayang sama kamu nak. Kamu yang kuat ya nak, harus jadi anak kuat. Kita hadapi ini sama - sama. Kamu semangat mama nak."


Aku beranjak dari tempat tidurku dan meraih makanan yang ibu berikan. Rupanya ibu memasak makanan kesukaanku. Aku kembali menangis terharu dan mulai menyuapkan makanan kedalam mulutku.


"Tuh kan nak, ibu sayang sama kita. Banyak yang sayang sama kamu. Kamu harus kuat ya, Mama janji gak akan males makan lagi biar kamu sehat." Aku menyemangati diriku sendiri dan terus menghabiskan makanan yang ibu buatkan untukku.


* * *


Drrrt Drrrrt Drrrrt


Aku terbangun dari tidurku lantaran mendengar suara bising yang berasal dari ponselku. Aku segera meraih ponselku dengan sedikit menyipitkan mata karena terkena pantulan cahaya yang sangat silau dari layar ponsel. Terlihat angka 06.00 saat aku mengusap layar pada ponselku.


"Siapa pagi-pagi begini?." karena masih sangat ngantuk,mulutku otomatis bergumam. Aku menemukan pesan dengan nomor baru di notifikasi ponselku.


"Hallo Ara, ini aku Siwi... kita harus ketemu, sekarang aku ada di dekat rumahmu." ~Siwi


Aku segera menemui Siwi setelah ia memberitahukan lokasinya. Ia berada di taman yang tak jauh dari rumahku. Saat ku perhatikan, ia terlihat duduk di kursi taman seorang diri.


"Ada perlu apa ?."


"Kamu sehat kan Ra?."


"Iya."


"Ra,aku paham posisi kamu,aku juga gak nyalahin kamu. Tapi keadaannya begini, aku sangat mencintai Aryo dan setahuku dia juga mencintaiku sebelum aku mengetahui semua kejadian ini. Asal kamu tahu Ra, Aryo sudah berkali-kali berbuat seperti ini dan aku selalu memaafkannya. Aku dan Aryo sudah pacaran sejak SMA, aku sudah sangat mengenalnya. Dulu dia juga pernah berhubungan dengan wanita hingga hamil dan punya anak Ra."


"Lalu ?."


"Keluargaku sudah banyak sekali mengeluarkan materi untuk mendukung Aryo. Keluargaku mau melakukan itu karena mereka tahu aku sangat mencintainya dan mereka pikir hanya Aryo yang dapat membahagiakanku. Kami sudah mendaftar pengajuan nikah. Dokumen pernikahanku dengan Aryo juga sudah diproses dan tidak mungkin dibatalkan."


"Kamu tenang, aku gak akan minta pertanggung jawaban Aryo kok."


"Keluarga kami sudah habis-habisan menegur kelakuan Aryo, mungkin sekarang dia sangat stress. Jadi aku mohon sama kamu, serahkan anak ini pada kami jika sudah lahir. Aku akan menanggung semua biayanya. Itung-itung buat nebus kesalahanmu karena sudah mengganggu hubungan kami. Kamu tenang aja, aku pasti rawat anak ini dengan baik."


"Kalau kedatanganmu hanya untuk itu,lebih baik kamu pulang sekarang !"


"Tunggu Ra ! Lagian kamu kenal sama cowok gak dicari tahu bener - bener dulu sih. Sekarang kalau sudah begini ya salahmu sendiri."


"Gini ya sis, kita memang bisa memilih dengan siapa kita menikah. Tapi kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta."


Aku berlalu pergi meninggalkan Siwi. Dadaku sudah terasa sangat sesak saling beradu argu dengannya. Aku khawatir jika terus - terusan meladeni ucapannya malah akan membuat emosiku semakin naik dan berdampak buruk pada bayiku.

__ADS_1


"Darimana nak ?."


"Nyari angin bu."


"Tumben. Ini diminum susunya." Ibu membuatkan susu untukku yang ia letakkan di meja makan, lantas aku mendudukkan tubuhku tepat didepannya.


"Ra kamu gak papa kan kalau harus pisah sama Aryo?." aku menganggukkan kepalaku dan mataku pun mulai berkaca-kaca.


"Gak usah nangis ! nanti ibu yang bantu rawat anakmu, kamu gak usah khawatir !."


"Bu maafin Ara udah ngecewain ibu." tangisku pecah dan ibu memelukku erat.


"Kamu harus kuat ! buktiin ke mereka walaupun keluarga kita miskin harta tapi kita tidak miskin moral dan hati nurani ! buktiin ke mereka kalau kamu bisa hidup tanpa Aryo." Mendengar perkataan ibu, aku semakin mengeratkan pelukanku.


Ceklek


"Bu."


"Darimana pak ?."


"Bapak dari rumah pak kepala desa, tadi beliau nyuruh bapak kerumahnya."


" Tumben,ada apa pak ?."


"Lha terus ?."


"Kebetulan pak kepala desa punya kenalan disana,terus beliau langsung telpon kenalannya... eh katanya gak kenal tuh."


"Maksudnya apa sih mereka ? mau bikin keluarga kita takut gitu kali ya ?."


"Mau anaknya presiden, mau anaknya sultan, kalau salah ya tetep salah."


* * *


Aku tertidur hingga sore, mungkin karena terlalu lelah menangis. Atau karena lelah memikirkan semua masalah yang sedang ku hadapi.


"Ra bangun ra !."


"Iya ada apa buk ?."


"Aryo dateng tuh."

__ADS_1


"Hah ? sama siapa ?."


"Gak tahu,belum turun dari mobil. Coba kamu liat deh !."


Aku segera keluar dari kamarku menuju ruang tamu dan melihat keluar jendela. Aryo terlihat keluar dari dalam mobilnya seorang diri. Ia berjalan mendekat ke pintu rumahku. Aku segera membukakan pintu sebelum ia mengetuk. Aku masih menyambutnya dengan baik dan mencium punggung tangannya selayaknya seorang istri.


"Ini bawa masuk !." ia memberikan tasnya kepadaku yang kemudian aku masukkan kedalam kamar.


Aku kembali menemaninya duduk diruang tamu setelah kedua orang tuaku selesai menyapanya dan kembali lagi kedalam meninggalkan kami berdua.


"Kamu darimana mas ?."


"Dari rumah. Aku ada tugas keluar kota jadi aku menginap disini dulu saja malam ini biar gak ngantuk di jalan." Aku memang agak bingung dengan sikapnya, tapi aku tak curiga sama sekali. Karena memang biasanya dia menginap dirumahku kalau ada tugas ke kota yang melintasi rumahku. Kukira ia memang benar - benar sudah menyelesaikan masalahnya.


"Aku buatin kopi ya ?."


"Ya. Aku capek."


"Yaudah tiduran dikamar aja ! nanti kopinya aku bawain ke dalem."


Selesai membuatkan kopi,aku membawakannya ke dalam kamar dan aku menaruhnya di atas nakas. Aku merebahkan diri disampingnya. Meletakkan kepalaku di lengannya seperti biasa. Ia kemudian melemparkan beberapa candaan kepadaku seperti biasa. Kami masih saling peluk hingga ia tertidur, aku menangis di sampingnya. Berpikir apakah masih bisa seperti ini terus,apakah ia tidak akan meninggalkanku,apakah ia akan mempertahankan aku dan anaknya ketimbang siwi dan keluarganya ? semua pertanyaan itu memenuhi otakku bersamaan dengan tangisanku. Entah Aryo pura - pura tidak tahu atau memang tidak mau tahu lagi perihal kesedihanku saat ini. Aku hanyut dalam bayangan hal - hal indah yang dulu Aryo berikan untukku. Apakah mungkin aku sanggup melupakan dan melepaskannya begitu saja ? hal itulah yang membuatku sangat sedih ketika berada di pelukannya saat ini...


Bersambung


-


-


-


-


-


Hallo pembaca setia YSM, Terimakasih ya atas kesetiaan kalian. Jangan bosen - bosen ya 💕


Jika kalian suka dengan karya author,kalian bisa tinggalkan like,komen dan juga votenya yah


Komen dibawah juga kalau ada kritik dan saran atau punya unek - unek yang mau disampaikan ☺️


Pembaca selalu diminta bijak dalam membaca novel ini !

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2