
Aku menangis bukan karena patah hati pada Aryo, tapi sedih karena mengingat anakku ini. Anak yang tak berdosa dan terjadi atas dasar cinta harus ditolak oleh ayahnya sendiri. Bahkan diusianya yang masih 4 bulan dan masih didalam perut dia sudah tidak diterima. Betapa malangnya anak ini. Bahkan aku lebih beruntung waktu seusianya dulu,tapi kenapa aku membuat anakku ini tidak beruntung seperti aku ?. Bagaimana bisa ada manusia yang tega menolak darah dagingnya sendiri dan sangat egois memikirkan karir dan kebahagiaanya sendiri? Bahkan jika kulihat lagi, hewan pun masih punya kasih sayang terhadap darah dagingnya. Tapi manusia ini ? Apa benar dia bukan manusia ? Entahlah, yang jelas aku akan membahagiakan anakku apapun yang terjadi. Besar tanpa ayah bukan berarti dia tak bisa menjadi anak yang bahagia. Setidaknya aku harus mendidiknya agar menjadi anak yang pemberani dan tidak pengecut seperti ayahnya.
* * *
Beberapa bulan berlalu hanya ku habiskan di rumah. Perutku semakin hari makin membesar membuat gerak gerikku terbatas tak mau mengundang perhatian tetangga. Jika hanya aku yang dapat makian dari tetangga tak masalah,namun jika orang tuaku yang mendengar ocehan pedas,aku tak bisa membiarkannya.
"Pak,bu kalau misal untuk sementara Ara tinggal diluar kota dulu gimana ?." Aku memberanikan diri meminta pendapat kepada orang tuaku saat makan malam bersama.
"Kenapa ? perut besar begitu mau pergi kemana ra ?." raut wajah ibu terlihat bingung.
"Ara gak mau memperkeruh keadaan keluarga kita buk,Ara udah ngecewain ibu sama bapak."
"Gak ada yang bisa melawan takdir Tuhan nak,jangan terlalu lama larut dalam kesedihan. Harus semangat hadapi masa depan." Ibu mengusap pundakku pelan.
"Ara gak mau ibu sama bapak kena omongan pedas tetangga. Tolong ijinkan Ara ya."
"Kamu yakin nak ? Udah kepikiran mau kemana ?."
"Ara pengennya keluar dari Jawa Tengah pak."
"Kamu mau di Jawa Timur ? Nanti biar bapak kredit kan perumahan buat tempat tinggal kamu disana. Dalam kondisi begini bapak sama ibu gak bisa maksa kemauan kamu. Sebisa mungkin kami dukung dan bantu kamu nak,yang penting kamu semangat buat rawat anak kamu ya."
"Iya Ara mau pak,nanti biar Ara yang bayar kreditnya."
"Iya nak nanti bayarnya bareng - bareng ya. Kalau kamu mau disana kan nanti bapak sama ibuk deket nengoknya."
__ADS_1
"Ibu juga pasti sering - sering nemenin kamu kok. Besok kalau kamu lahiran juga ibu ikut tinggal disana."
"Pak,bu makasih banyak ya. Ara gak tahu harus balas kalian dengan cara apa. hiks hiks." Terharu sudah pasti,tangisku sebenarnya mewakili isi hati.
"Kami gak minta balasan apa pun dari kamu nak. Kami cuma minta kamu selalu semangat dan jangan lupa do'akan kami."
Aku sangat lega mendengar persetujuan dan juga dukungan dari kedua orang tuaku. Untuk saat seperti ini memang harus menjaga keadaan yang sudah runyam agar tidak bertambah semakin runyam.
* * *
Kurang dari satu bulan bapak akhirnya mendapatkan satu unit rumah yang akan di kredit dan bisa segera ditempati. Tidak terlalu banyak barang yang aku bawa,hanya beberapa yang penting saja itupun sudah memenuhi mobil. Bapak dan ibu mengantarkan aku untuk pindah,mereka juga mempersiapkan isi rumah agar layak ditempati. Walaupun rumahnya tidak besar,tapi cukup nyaman untuk tempat tinggal aku dan anakku kelak karena bangunannya masih baru. Hanya ada 2 kamar tidur, 1 ruang tamu,dapur dan kamar mandi saja. Lingkungannya pun tak kalah nyaman dengan rumahnya,dekat dengan toko - toko besar yang mudah diakses.
"Kamu yakin bisa sendiri Ra ? Ibu carikan asisten rumah tangga ya nak buat bantu - bantu."
"Gak usah bu,bantu - bantu apa? Ara aja cuma tinggal sendiri,gak repot sama sekali."
"Iya bu,gak usah khawatir. Ara bisa kok." Aku memeluk ibu erat sembari menyunggingkan senyumku. Aku sangat bahagia dan merasa beruntung memiliki mereka sebagai orang tuaku.
Setelah semalam menginap,akhirnya pagi ini mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.
"Nak kami pulang dulu ya, Kamu hati-hati pokoknya ya ! kalau ada apa-apa telpon ibu."
"Nanti kami usahakan sering kesini ya nak."
"Iya bu,pak... hati - hati di jalan." mereka melambaikan tangan dan melajukan mobilnya, Aku masih berdiri melihat kepergian kedua orang tuaku hingga mobilnya tak terlihat dari pandangan mataku.
__ADS_1
Aku merasa lebih nyaman berada disini karena lebih leluasa bergerak tanpa takut dilihat siapapun. Beruntung perumahannya masih baru dan para tetangga begitu sopan tidak terlalu mengurus urusan satu sama lain. Semua dokumen yang diserahkan kepada ketua Rt juga atas nama bapak, jadi tidak ada pertanyaan tentang statusku. Meskipun andai saja ada yang menanyakan perihal statusku pun aku akan menjelaskannya,namun selama tidak ada yang bertanya aku lebih baik diam.
Ibu dan bapak datang satu minggu sekali,mereka juga selalu memenuhi kulkas untuk persediaan makanan. Jadi aku tak perlu repot keluar membeli makan,aku lebih suka masak sendiri karena selain sehat juga bisa memenuhi nutrisi untuk bayi. Gas dan galon juga bapak ganti setiap beliau datang. Hal - hal yang mereka lakukan untukku benar-benar membuatku sangat terharu. Begitu besar kasih dan sayang yang mereka berikan padaku.
Tak lupa ibu juga mengadakan syukuran Upacara Ngupati adalah (Mapati) ialah upacara yang diselenggarakan pada saat kehamilan telah berusia empat bulan. Pada saat kandungan berusia empat bulan (seratus dua puluh hari) roh mulai dimasukan ke dalam tubuh calon bayi. Oleh karena itu melalui upacara Ngupati ini memohon agar roh yang masuk ke dalam si bayi adalah roh yang baik. Upacara Ngupati berupa selamatan kenduri. Kenduri diselenggarakan di rumah ku. Ibu mempersiapkan semua perlengkapan selamatan kenduri berupa sesaji yaitu: tumpeng nasi megono, jajan pasar, bubur abang putih, dan kupat sumpel. Kata "ngupat" berasal dari kata papat (4) atau kupat. Ada yang berbeda dari upacara adat hamil lainnya yaitu ada sajian kupat pada kenduri ngupati, kupat diikutsertakan di besek yang dibawa pulang para undangan yang hadir,aku hanya mengundang tetangga depan,samping kanan dan kiri rumahku saja karena belum kenal dengan yang lainnya. Ngupat sebenarnya menjadi pralambang kalau jabang bayi sudah masuk tahap ke papat (empat) dalam proses penciptaan menungsa. Upacara adat ngupat harus diselenggarakan pada hari yang baik menurut perhitungan Jawa. Aku sendiri sebenarnya tidak begitu paham dengan tradisi ini dan hanya mengikuti arahan ibu saja.
Bersambung.
-
-
-
-
-
Haiii readers kesayangan aku,author mohon maaaaaaaaaaf banget karna update.nya lama. Jangan kezel ya π,terus ikuti cerita YSM ya π.
Jika kalian suka dengan karya author boleh banget tinggalkan like,komen dan juga votenya yah π.
Komen dibawah jika ada kritik dan saran atau unek - unek yang mau disampaikan π€.
Pembaca selalu diminta bijak dalam membaca novel ini !.
__ADS_1
Terimakasih.