
Aku masih belum bisa banyak bergerak, saat ini rasa sakit bekas operasinya makin terasa karena efek obat biusnya sudah hilang total.
Ibu dan Tante Nda selalu sabar merawatku dan bayiku. Mereka bergantian istirahat, selalu sigap saat aku membutuhkan sesuatu. Bahkan, untuk makan saja aku tak bisa melakukannya sendiri. Membuat Ibu dan Tante Nda harus bergantian untuk menyuapiku dengan penuh kesabaran. Bahkan mereka tak menghiraukan rasa lelah yang mereka rasakan.
"Kamu udah nyiapin nama buat Thole (Panggilan untuk anak laki-laki Jawa) belum Ra?"
"Udah Bu, Ibu mau nyumbang nama gak?"
"Iya dong, kasih nama Raden ya Ra!"
"Oke Bu, Raden Volker bagus gak Buk?"
"Bagus tuh Ra. Raden Volker aja gak papa."
Raden Volker. Artinya seorang bangsawan Jawa yang melindungi rakyat.
Kelahirannya sebagai putra dari seorang Ibu berdarah Jawa membuatnya cocok mendapat nama Raden. Sedangkan dibalik nama Volker yang artinya melindungi rakyat, ada sebuah alasan. Ayahnya adalah seorang aparat Negara yang bertugas melindungi rakyat. Namun, nyatanya tidak demikian. Aryo, Ayah Raden meninggalkan Ara dalam kondisi sedang hamil Raden 3 bulan dan lari dari tanggung jawabnya. Bahkan, Aryo menikah bertepatan dengan kelahiran anaknya.
Ia lebih mementingkan profesinya yang katanya 'bertugas untuk melindungi rakyat' itu. Melindungi rakyat? Haha, bukankah menggelikan hanya mendengar istilahnya saja? Mengakui darah dagingnya saja tidak mau, sungguh diragukan bagaimana cara dirinya mempertahankan profesinya itu.
Itulah alasan mengapa aku memutuskan untuk memberi nama Volker yang berarti pelindung rakyat, harapannya agar kelak anakku bisa menjadi orang yang bisa melindungi rakyat. Tidak seperti Ayahnya yang hanya berkedok profesinya saja untuk melindungi rakyat, padahal nyatanya tidak.
***
Aku diperkirakan harus tinggal dirumah sakit selama 3 malam. Beruntung setiap hari aku mendapat pelayanan yang bagus, ditambah dengan adanya Ibu dan Tante Nda disampingku. Dan setiap hari ada kunjungan dokter sebanyak 2 kali.
"Ayo sambil gerak gerak ya Bu! miring ke kanan kiri pelan-pelan biar cepet pulih." Itulah yang selalu dokter katakan di setiap jam kunjungannya.
"Kalau sudah kentut bilang ya Bu, nanti infusnya bisa dilepas." Perawat yang datang bersama dokter itu memberikan info kepadaku.
"Baik Mba."
Aku yang masih terbaring lemah dan tak bisa banyak bergerak itu, hanya mengiyakan perkataan dokter dan perawat itu tiap kali mereka datang ke kamarku.
Aku yang selama hidupku belum pernah sama sekali dirawat dirumah sakit merasa sangat tidak nyaman. Ini merupakan pengalaman pertamaku merasakan ada infus yang menempel ditanganku, belum lagi kateter yang terpasang pun juga tak kalah membuat diriku tak nyaman.
***
__ADS_1
Malamnya aku gelisah memikirkan biaya selama persalinanku yang totalnya lebih dari 10 juta. Uang sebanyak itu bagiku bukanlah jumlah yang sedikit. Belum lagi biaya yang lainnya, ditambah kebutuhan setelah itu pasti akan banyak.
Meski keluargaku akan membantu biayanya, tapi aku tak bisa menerimanya begitu saja. Melihat betapa banyaknya mereka berkorban untukku saja, aku sudah sangat bersyukur. Apalagi harus menanggung biayaku, sungguh aku benar-benar tidak bisa terus membebani mereka.
"Bu, mobil Ara dijual aja ya buat biaya operasinya?" Aku mencoba membujuk Ibu agar ia mau menjual mobilku. Meski mobil bututku lakunya tidak seberapa, tapi setidaknya itu bisa membantu biaya hidupku. Saat ini, itulah satu-satunya harta yang aku miliki.
"Gak usah Nak! Ibu ada uang kok buat bayar operasinya." Ibu masih bersikeras menolak. Ia tidak tega harus melihat anaknya kesusahan.
"Ara mohon sama Ibu. Ara juga butuh sisa uangnya buat kebutuhan Ara sama anak Ara nanti selama Ara belum bekerja Bu. Ara gak mau terus-terusan membebani Ibu selama belum kerja." Ibu hanya diam, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia tahu, sifat anaknya yang tidak pernah mau berada disituasi yang membuat dirinya tidak nyaman dan keras kepala itu. Contohnya seperti saat keluarga Aryo memberinya penawaran dan dia memilih untuk tetap membesarkan anaknya sendiri karena dirinya merasa lebih nyaman. Dan ketika ia tinggal dirumah orang tuanya dengan kondisi lingkungan yang membuatnya tidak nyaman dan dia memilih untuk tinggal diluar provinsi.
Ya, seperti itulah Ara. Saat ini ia juga pasti tidak nyaman jika seluruh biaya persalinannya ditanggung keluarganya. Ibu kemudian keluar meninggalkan Ara di kamarnya, sepertinya ia ingin mempertimbangkan permintaan Ara.
Ia masih ingat betapa bahagianya Ara saat berhasil membeli mobil itu dengan kerja kerasnya. Meski tak sebagus mobil milik teman-temannya, tapi saat itu Ara terlihat sangat bahagia. Ara merasa nyaman membeli mobil dengan uangnya sendiri daripada membeli mobil bagus dengan uang orangtuanya.
Tak lama kemudian, Tante Nda masuk dengan membawa makanan setelah Ibu keluar.
"Ibu mana Ra?" Dilihat dari perkataannya, sepertinya Tante Nda tidak berpapasan dengan Ibu diluar.
"Barusan keluar Te, Te?"
"Ya?"
"Apa?" Tante Nda yang sudah hafal dengan ekspresi Ara yang pasti ada maunya itu, terlihat tak menghiraukannya. Ia malah sibuk membuka makanannya.
"Tolong bujuk Ibuk."
"Buat?" Ia masih tak begitu memperdulikannya.
"Jual mobil aku, buat bayar biaya operasi ku sama sisanya nanti buat kebutuhan hidup aku."
"Raaaa?" Tante Nda meletakkan makanannya, ia berkacak pinggang dan menatap Ara dengan tatapan kesal.
"Tolong banget Te, aku bisa ngandelin Tante pokoknya!" Kali ini Ara benar-benar menaruh harapan besar pada tantenya itu.
"Hemmmh, yaudah nanti Tante coba bilang sama Ibu. Tapi kamu sekarang makan dulu!" Tante Nda akhirnya menyerah, ia menarik nafas dalam menahan amarahnya.
***
__ADS_1
Ibu tengah duduk seorang diri di kursi tunggu yang letaknya cukup jauh dari kamar Ara. Tempat itu cukup sepi, Ibu duduk menghadap ke jendela. Ia menatap keluar, pikirannya tak karuan.
"Mbaaaaak!" Tante Nda tiba-tiba menghampirinya, ia berteriak karena sudah berkeliling mencari kakaknya itu kemana-mana membuat Ibu yang yang sedang melamun terkejut mendengar suaranya.
"Ara kok ditinggal?"
"Dia lagi tidur, tadi habis makan. Raden juga udah dibawa kebawah sama perawat."
"Oh." Ibu menganggukkan kepalanya.
"Mba, Ara nyuruh aku buat ngomong ini sama kamu." Tante Nda mengatakannya begitu saja karena yakin pasti Ibu sudah mengerti dengan maksudnya.
"Lihat kan Nda? sekarang Ara yang menderita. Dia harus mengorbankan hidupnya demi lelaki tidak bertanggung jawab itu. Cih! 2 juta buat periksa aja ditagih. Lihat tuh! 2 juta nya gak ada apa-apanya buat biaya operasi anaknya." Ibu melipat kedua tangannya didepan dada. Ia terlihat sangat kesal.
"Sudahlah Mba. Ambil hikmahnya aja dari kejadian ini." Tante Nda mengusap pundak Ibu untuk membuatnya tenang. Ia merasakan apa yang dirasakan kakaknya itu.
Bersambung...
-
-
-
-
-
Hai haiiii readers kesayangan aku. Aku mau ngumumin kabar baik nih!!! Bulan ini aku baru aja rilis buku baru judulnya "Raden Volker" bukunya bercerita tentang kehidupan anaknya Ara saat beranjak dewasa... follow instagram mey.novel ya buat lihat info dan spoilernya ππππ
Makasih ya selalu setia membaca setiap episode YSM. Makasih juga buat semua pembaca yang sudah berbaik hati memberikan vote,like dan juga komennya. Semoga sehat dan rejekinya lancar selalu. π
Jangan bosan-bosan ya terus ikuti setiap episodenya.
Jika kalian suka dengan karya author. Tinggalkan like,komen dan juga votenya yah π
Komen dibawah jika ada kritik dan saran yang ingin disampaikan. Dan juga jika ada unek - unek yang mau disampaikan β€οΈ
__ADS_1
Pembaca selalu diminta bijak dalam membaca novel ini !
Terima kasih.