Young Single Mom

Young Single Mom
Antara hidup dan mati


__ADS_3

Tepat diatas leherku, ada tirai yang berfungsi untuk menutupi bagian perut kebawah agar pasien tidak melihat proses operasi. Namun, aku masih bisa melihat kepala dokter dan perawat yang sedang menyayat - nyanyat perutku.


"Gak sakit kan Bu? kaya digaris pake pulpen aja?"


"Sa-akit." aku merasakan sayatan pertama yang rasanya perih luar biasa.


"Barusan sayatan kedua gak sakit juga kan Bu?"


"Sa-akit Dok." Sayatan kedua terasa lebih sakit daripada sebelumnya.


"Gimana sayatan yang ini sakit gak?"


"Sa-akit ini dok." Sayatan yang ketiga ini terasa sakit luar biasa. Namun, aku berusaha keras menahannya.


Mereka masih tak menghiraukan rasa sakit yang aku rasakan. Hingga akhirnya saat mereka berusaha mengeluarkan bayinya, terlihat 2 orang dokter yang tepat berdiri di samping kanan dan kiriku menekan perutku dengan sangat kuat secara bersamaan dengan diiringi loncatan.


"Hmmmmmmh sa-akiiiiiiit!" Kali ini aku sama sekali tak bisa menahannya. Aku berteriak dengan sekuat tenaganya.


Aku merasakan sakit yang luar biasa hingga membuatku kesulitan bernafas. Semua dokter dan perawat yang sedang menanganiku terkejut dan panik.


Dokter yang tadinya berdiri didekat kepalaku itu, segera berlari dan menyuntikkan sesuatu di kantung infus yang sudah terpasang disebelah kiriku, saat itulah aku tidak sadarkan diri. Rupanya bius lokal yang pertama disuntikkan dipunggungku tidak bereaksi sempurna ditubuhku. Hingga terpaksa dokter harus memberiku bius total.


Aku mulai mendengar suara-suara, namun aku belum bisa membuka mataku. Itu adalah moment setelah dokter berhasil mengeluarkan bayi dari dalam perutku dan sedang menjahit perutku.


Mulutku bisa bergerak namun mataku tetap tak mampu terbuka. Aku merasakan mual yang sangat luar biasa hingga memuntahkan isi perutku sebanyak tiga kali, hingga membuat para perawat kuwalahan. Samar-samar kudengar suara para perawat yang mengumpat saat aku terus-menerus mengeluarkan isi perutku.


Aku sadar saat digantikan baju dan kemudian dipindahkan ke ranjang yang lainnya tapi tetap belum bisa membuka mataku.


Beberapa saat kemudian aku mulai bisa membuka mataku sedikit demi sedikit, tapi aku sama sekali tak bisa menggerakkan badanku. Aku memperhatikan sekeliling, rupanya aku sudah berada diruang sterilisasi. Aku melihat ibu yang tengah menangis di sampingku. Ibu segera memeluk dan menciumku, begitupun Tante Nda. Mereka berdua terlihat sangat khawatir.


"Nak akhirnya kamu sadar juga."

__ADS_1


"Sudah berapa lama aku tidak sadar Bu?"


"Lama nak, pasien lain yang operasinya bareng sama kamu sadar semua. Mereka cuma dibius lokal saja. Gak tau kenapa kamu dibius total. Ibu khawatir banget." Raut wajah Ibu terlihat Lega setelah melihat aku sadar. Meski, air matanya masih terus mengalir.


Ternyata hanya aku seorang yang harus mendapatkan bius total, sedangkan pasien lain hanya dibius lokal. Mereka semua sadar selama operasi berlangsung, berbeda dengan aku yang tidak sadarkan diri selama operasi berjalan hingga operasi selesai pun aku masih tidak sadarkan diri hingga berjam-jam membuat Ibu sangat khawatir.


"Ini anakmu Nak." Ibu memperlihatkan foto bayi mungil yang sangat lucu padaku. Rasa bahagia dan terharu bercampur menjadi satu. Akhirnya bayi mungil yang dulu ada didalam perutku sudah lahir di dunia ini hingga membuat perutku datar kembali.


"Aku belum bisa melihatnya langsung Bu?"


"Belum Nak dia masih dihangatkan diruang bayi. Kata perawat, besok pagi setelah kamu dipindahkan di ruang inap baru bisa ketemu."


Beberapa jam kemudian aku mulai bisa menggerakkan kaki dan tanganku sedikit demi sedikit. Aku sudah tidak sabar menunggu datangnya pagi. Namun sayangnya, malam malah terasa sangat lama. Ditambah, hingga kini aku masih tinggal diruang sterilisasi karena kondisiku yang belum stabil. Sedangkan pasien lain yang operasinya bersamaan denganku sudah langsung dipindahkan diruang inap sesaat setelah operasiku selesai.


"Bu, Bu keluar darah di infusku!"


Ibu ketiduran, mungkin ia kelelahan lantaran menemaniku selama persalinan yang sudah menguras waktu dan tenaganya. Tanganku sudah mengeluarkan darah begitu banyak. Ibu seketika beranjak dari tidurnya, ia pun panik dan mencari keberadaan perawat. Agak sulit menemukan mereka karena waktu sudah sangat larut. Dengan bantuan security akhirnya Ibu menemukan ruangan perawat. Mereka tak kalah panik dengan Ibu dan segera mengganti infusku.


Pagi hari yang aku tunggu-tunggu telah tiba dan saatnya aku dipindahkan. Beberapa perawat datang, mereka mengganti pembalut yang sudah penuh darah. Kemudian memindahkanku di ruang inap. Ranjang yang aku gunakan pun juga harus diganti hingga membuat beberapa orang bersama - sama mengangkat tubuhku yang masih lemah dan sakit. Percayalah, ketika efek obat biusnya sudah hilang, sakit luka operasi yang dirasakan akan semakin menjadi.


Air mataku keluar dengan sangat deras, aku tersenyum memandang wajah bayi yang ada di gendonganku. Aku mengusap lembut wajahnya yang masih merah itu. Bahkan kulitnya terasa sangat lembut di telapak tanganku.


Rasanya seperti mimpi, aky masih tidak percaya sedang menggendong anakku yang hari sebelumnya masih nyaman berada didalam perutku.


***


Ditempat lain diwaktu yang bersamaan.


"Waaaahhh cantik sekali wanita yang beberapa menit lagi akan menjadi istri." seru beberapa orang yang berada diruang make up pengantin yang sedang riuh dengan persiapan pernikahan yang beberapa menit lagi akan dilaksanakan.


Siwi hanya tersenyum dan tersipu malu mendengar suara pujian dari keluarga calon suaminya yang lantang dan berhasil didengar seisi ruangan.

__ADS_1


Ceklek!


"10 menit lagi acaranya dimulai. Harap bersiap-siap! Pengantin harus segera keluar!" Seorang laki-laki muda dari pihak WO tengah membuka pintu ruangan memberi aba-aba pada semua orang yang berada diruangan tersebut.


Siwi mulai beranjak dari kursi riasnya dibantu oleh penata busana dan Tari agar gaun yang ia kenakan bisa lebih mudah untuknya berjalan.


Tak lama kemudian, Aryo masuk kedalam ruangan itu bergabung dengan Siwi dan keluarganya. Tangan Siwi memegang erat lengan Aryo, mereka berdua kemudian keluar menuju kursi yang bagi mereka adalah singgasana sakral untuk peralihan kehidupan kedua insan manusia yang tengah berbahagia. Semua mata tamu yang hadir di acara pernikahan itu tertuju pada kedua mempelai yang terlihat sangat jauh berbeda karena riasannya.


Pernikahan itu terlihat megah, dihadiri semua kerabat dari kedua keluarga itu. Para anggota POLRI yang bekerja bersama Aryo dan yang kenal juga turut hadir memenuhi undangannya.


Hari itu adalah hari yang begitu membahagiakan untuk Siwi dan Aryo. Setelah sekian lama akhirnya mereka dipersatukan dalam pernikahan. Namun, disisi lain Ara tengah mati-matian berjuang melawan maut untuk melahirkan anaknya.


Bersambung...


-


-


-


-


-


Hai haiiii readers kesayangan aku. Makasih ya selalu setia membaca setiap episode YSM. Makasih juga buat semua pembaca yang sudah berbaik hati memberikan vote,like dan juga komennya. Semoga sehat dan rejekinya lancar selalu. πŸ™


Jangan bosan-bosan ya terus ikuti setiap episodenya. Jangan lupa follow instagram mey.novel juga ya untuk informasi karya-karyaku yang lain.


Jika kalian suka dengan karya author. Tinggalkan like,komen dan juga votenya yah πŸ™


Komen dibawah jika ada kritik dan saran yang ingin disampaikan. Dan juga jika ada unek - unek yang mau disampaikan ❀️

__ADS_1


Pembaca selalu diminta bijak dalam membaca novel ini !


Terima kasih.


__ADS_2