
Setelah cukup tenang dan bisa bicara,akhirnya aku menceritakan kejadian yang tadi kualami. Semua dengan terperinci hingga berhasil membuat mereka geram dan mengeluarkan sumpah serapah.
"Jahat !."
"Dia pikir harta dibawa mati apa?."
"Katanya orang beragama? tapi mulutnya gak bisa dijaga !."
"Kemaren sok sok an berani deketin kamu,sok sok an berani bilang sama orang tuamu. Tapi tadi apa? Malu kalik sama profesi."
Aryo terus terusan menghubungi ponselku namun tak ku hiraukan sama sekali. Aku masih betah berada di resto bersama Bi dan Fafa saat ini. Hingga akhirnya Aryo kembali lagi menyusulku ke resto dan memohon padaku untuk kembali pulang bersamanya. Karena tidak enak hati pada Bi dan Fafa akhirnya aku iyakan ajakannya. Sesampainya di kos Aryo mengusap air mataku.
"Ra, apapun yang terjadi kamu jangan pernah ninggalin aku ya? kita hadapi ini sama - sama ya ?."
"Apa kamu bilang ? sama - sama ? membiarkanku menghadapi orang tuamu sendirian, itu yang kamu sebut sama - sama ?."
"Maafin aku Ra, aku bisa jadi polisi seperti ini juga berkat orang tuaku yang membiyayaiku. Siwi calon istriku dan keluarganya juga memiliki andil banyak dalam keberhasilanku."
"Kenapa kamu harus bohong ? Kamu membuatku sangat mempercayaimu. Sekarang keadaan sudah seperti ini, bayi dalam perutku akan terus tumbuh."
Drrrrr... Drrrrt... Drrrrt...
"Hallo... hallo... kamu dimana ?." Aryo menerima panggilan dari seorang wanita yang tak lain adalah siwi calon istrinya. Aku mampu mendengar percakapan mereka dengan jelas karena Aryo menghidupkan speakernya.
"Kamu tega banget yo ! Aku mau ke kantormu sekarang !."
"Iya maaf. Jangan dong, jangan kasih tau siapapun tentang masalahku siw. Kalau sampai orang kantorku tahu aku menghamili wanita karirku bisa terancam."
"Biarin !." Siwi mematikan panggilannya sepihak. Aryo kalang kabut.
"Ra, aku pergi dulu ya. Aku harus menahan siwi."
"Jadi laki yang berani mas. Kalau salah bilang salah ! Jangan jadi pengecut." Aryo menganggukkan kepalanya dan terlihat kedua matanya tengah mengeluarkan cairan bening yang lumayan deras. Ia berlalu pergi meninggalkanku. Aku tak berani menceritakan hal ini pada orang tuaku, aku sangat takut membebani mereka berdua.
* * *
__ADS_1
Sudah dua hari setelah kejadian itu Aryo sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Hingga suatu malam ada seseorang yang datang menemuiku.
Tok... tok... tok
Terdengar suara ketukan pintu yang berulang - ulang dari luar pintu kamarku. Saat kubuka pintu kamarku terlihat dua wanita tengah berdiri didepan kamarku.
"Siapa ya ?." Tanpa aku persilahkan,mereka berdua masuk kekamarku begitu saja.
"Kenalin mba aku Tari kakaknya Aryo dan ini Siwi calon istri Aryo." Mereka nyelonong dan memeriksa seisi kamarku dengan teliti.
"Iya gimana?."
"Hmmm banyak juga ya barang bermerk yang Aryo belikan buat kamu."
"Maaf ya mba,semua barang yang ada didalam tempat tinggal saya ini saya beli sendiri sebelum kenal Aryo !."
"Kamu hamil ?."
"Iya." Akhirnya kami duduk bertiga dan aku mulai menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Aryo.
"Maaf mba secara psikologis umur saya sekarang sudah cukup untuk menjadi seorang ibu,jadi saya akan rawat anak ini dengan keringat saya sendiri. Alloh memberikan anugerah ini untuk saya mba bukan untuk kamu, dan saya masih mampu rawat anak saya sendiri. Terimakasih sekarang silahkan kalian pergi dari sini."
* * *
Hingga seminggu berlalu Aryo tetap tidak datang menemuiku. Jangankan memberi nafkah,memberi kabar pun tidak. Nafsu makanku hancur, aku sangat sedih memikirkan nasibku. Aku tetap tidak berani memberitahu orang tuaku. Hingga akhirnya Aryo berani datang menemuiku.
"Mau kamu gimana sekarang ?."
"Tolong aku Ra, Aku mohon sama kamu berikan anak itu padaku dan Siwi setelah anak itu lahir !."
"Jahat banget kamu. Ibarat cuma digigit nyamuk aja aku gak rela apalagi harus aku serahin sama orang lain dan bapak pengecut macam kamu ! gimana mental anakku kelak di didik sama karakter manusia kayak kalian !."
"Aku janji pasti akan merawat anak kita dengan sangat baik. Sekarang ada yang lebih penting dari hubungan kita Ra, anak ini lebih penting."
"Bukan ! Yang kamu pentingkan hanyalah karirmu dan nama baik keluargamu saja ! Kamu mau nyari aman dan membuangku. Bukan cuma kamu yang punya keluarga, Nama baik keluargaku juga hancur, masa depanku juga hancur. Tapi aku akan tetap merawat anak ini apapun yang terjadi !."
__ADS_1
Kesabaran Aryo habis karena aku sangat keras kepala. Ia menyudutkanku diujung tembok dan menghimpit tubuhku hingga aku tak sanggup bergerak. Tangannya memegang erat ujung kepala rambutku hingga terasa seperti akan lepas dari kulit kepalaku saking kencangnya. Ia juga menamparku, melemparku dengan gelas kaca,membanting ponselku hingga hancur menjadi beberapa bagian dan juga beberapa kali menyakiti tangan dan kakiku. Aku baru pertama kali melihat Aryo amuk - amukan hingga berani berbuat kasar padaku. Aku sangat takut dan berlari keluar dari dalam kamarku karena melihatnya akan melemparku dengan helm yang ia pegang. Aku menangis dan duduk disudut depan kamarku. Aryo melemparkan helm itu kelantai karena tak berhasil melemparkannya kearahku hingga menimbulkan suara yang sangat kencang membuat semua penghuni kos keluar. Tak lama kemudian pemilik kos dan istrinya naik keatas menghampiri kamarku karena mendengar suara keributan. Ia menegur kelakuan Aryo yang mengganggu.
"Udah udah jangan nangis." Ibu kos mendekatiku dan mengusap ujung kepalaku ketika suaminya sedang menegur Aryo. Aryo pun akhirnya pergi dari kos.
Aku kembali kedalam kamar dan segera mandi untuk membersihkan diriku. Selesai mandi aku memesan makanan karena badanku masih gemetar, aku tak mau terjadi apa - apa pada bayiku. Aku juga menghubungi Bi dan menceritakan kejadian yang ku alami hingga membuat Bi sangat khawatir dan ia pun segera datang ke kosku untuk melihat keadaanku.
"Ra kamu pergi dari sini deh ! ikut aku sekarang ya ! cepet siap - siap ! aku takut nanti Aryo dateng kesini lagi !."
Aku segera menata beberapa bajuku kedalam tas ransel dan pergi ikut Bianca. Ia melajukan mobilnya untuk mengajakku menemui Fafa dirumahnya.
Ibu Fafa menyambut kedatangan kami dengan sajian makanan yang sangat banyak.
"Ayo makan dulu ! Ngobrolnya nanti lagi kalau udah kenyang."
"Iya bu matursuwun. maaf jadi ngrepotin...
Bersambung.
-
-
-
-
-
Haiii readers kesayangan aku, Terimakasih banyak karena kalian setia baca terus YSM.
Author sangat berterimakasih jika kalian sudi meninggalkan like,komen dan juga votenya π
Pembaca selalu diminta bijak dalam membaca novel ini !
Terimakasih.
__ADS_1