
Perlakuan buruknya padaku secara tidak langsung membantuku untuk berani melangkah menjalani kehidupanku saat ini tanpa sedikitpun ada rasa ingin menoleh kebelakang. Membuatku tidak merasa menyesal sama sekali harus berpisah dengannya. Membuatku sadar bahwa sebenarnya diriku dan hidupku sangat berharga dan tak ada seorangpun yang berhak menilai rendah hidupku apalagi hanya laki-laki pengecut macam Aryo.
* * *
Sudah lebih dari 2 bulan setelah acara tingkeban itu berlangsung. Kehamilanku pun sudah terhitung 40 minggu. Harusnya di usia ini biasanya sudah siap melahirkan. Namun, sampai saat ini perutku tidak menunjukkan tanda sama sekali akan melahirkan.
Kekhawatiranku mulai muncul. Hingga mencari informasi di internet dan bertanya pada teman dan saudara yang pernah melahirkan.
"Bu, dulu ibu pas ngelahirin aku gimana rasanya ?" Aku bertanya pada ibu yang sedang duduk santai di sofa sambil nonton tv.
"Hah ? Kenapa ra ?."
"Ibu dulu lahirin aku normal kan ?."
."Iya lah,jaman dulu mana ada operasi -operasian segala." Ibu menjawab dengan santainya.
"Siang apa malem buk lahirannya ?."
"Ibu kerasa dari malem ra, mana udah sakit banget cuma duduk dipojokan kamar sampe pagi."
"Lha terus yang bantuin lahiran siapa ?."
"Ada dukun bayi dulu, tapi karna nahan sakit semaleman jadi ibu hampir aja mau dibawa ke rumah sakit."
"Terus gimana buk ?."
"Ya untung sebelum dibawa kamu udah lahir duluan."
"Alhamdulillah. Aku dulu berapa kg buk?."
"Kecil kamu mah cuma 2.5kg ra,se beras zakat hahaha." ibu terlihat bahagia mengingat moment melahirkanku dulu.
"Berarti gak terlalu sakit ya buk ?."
"Kata siapa ? mau kecil mau besar yang namanya melahirkan tetep sakit lah ra. Tapi kalo normal sembuhnya cepet. Semoga kamu lahir normal ya." Ibu memelukku dan mencium pipiku.
"Ini kan udah 40 minggu buk,harusnya udah waktunya lahir. Tapi kok sampe sekarang belum lahir ya bu ?."
__ADS_1
"Mungkin karena kamu kemarin sempet pindah-pindah ra. Kata orang dulu kalau pindah-pindah bikin janinnya muda lagi."
"Emang bener gitu buk ?."
"Ya percaya gak percaya ra namanya juga mitos. Tapi kamu gak usah khawatir,mending kamu coba priksa lagi sana !."
"Yaudah kalau gitu anterin Ara ke klinik ya bu."
Setelah selesai bersiap,aku dan ibu bergegas ke klinik untuk memeriksakan kandunganku. Tak lupa aku juga membawa buku pink saat periksa untuk melihat catatan medisku selama hamil pada bidan.
Sesampainya di klinik aku melakukan pendaftaran dan menuju ruang periksa saat sampai pada antrian. Bidan menyambutku dengan ramah. Ia mulai memeriksa perutku dan menanyakan beberapa pertanyaan.
"Mba pemeriksaan ini kondisinya baik. Jangan cemas dan mikir macem-macem ya."
"Iya mba."
"Tunggu sampe minggu depan. Kalau minggu depan belum lahir juga sebaiknya pergi ke dokter ya."
"Baiklah kalau gitu mba."
"Ini saya kasih catatan apa saja yang harus dibawa saat persalinan ya. Soalnya kemungkinan bisa saja minggu ini. Jadi kalau sewaktu-waktu kerasa kesini aja gak papa mba."
Setelah pemeriksaan, ibu segera membayar biaya pemeriksaan ke kasir. Dan kami pun pulang kerumah setelahnya.
"Udah sana ganti baju ! ibu masak dulu." Sesampainya dirumah aku hanya duduk di ruang makan menemani ibu memasak. Sejak perutku mulai membesar dan gerakanku terbatas, ibu menyuruhku untuk lebih banyak istirahat.
* * *
Terhitung 42 minggu dan keadaan perutku masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Gerakan bayi didalam perutku masih sangat aktif dan tendangannya pun sangat kuat.
Pagi itu masih bermalas-malasan ditempat tidur dan tak kunjung beranjak dari sana lantaran badan yang terasa semakin berat untuk bergerak.
Aku merebahkan badanku sembari asyik memainkan ponselku. Mencari informasi tentang persiapan melahirkan seperti teknik pernafasan saat mengejan dan sebagainya.
Saat asyik scroll artikel yang sedang aku baca, tiba-tiba terlihat notifikasi pesan masuk di sudut atas layar ponselku. Aku mengalihkan artikelnya dan membuka pesan tersebut.
"Ra,tolong jangan ganggu Aryo lagi ya ! Besok aku dan Aryo akan menikah." ~Siwi
__ADS_1
Aku meletakkan ponselku di kasur setelah membaca pesan tersebut tanpa membalasnya. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih dan meminumnya.
"Buuuuuuuuuuk !." Aku segera meletakkan gelas yang sedang kupegang di tangan kananku setelah melihat ada cairan bening bercampur darah yang mengalir di kakiku.
"Kenapa ra ?." Ibu terlihat berlari menuju dapur dengan tergesa-gesa.
"I-ini gimana buk ?." Ibu melihat kearah ubin yang sudah dipenuhi cairan itu.
"Oooh ketuban itu. Udah mau lahiran." Mataku berkaca-kaca namun bibirku menyunggingkan senyuman. Akhirnya hari yang kutunggu-tungguntiba juga.
"Terus aku harus gimana ini buk?."
"Perutmu gimana rasanya sekarang ?."
"Belum kerasa apa-apa tuh bu." Jawabku jujur.
"Yaudah kalau gitu sekarang kamu mandi bersihin itu. Pokoknya siap-siap aja buat ke klinik." Aku segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.
Bersambung...
-
-
-
-
-
Hai haiiii readers kesayangan aku. Makasih ya selalu setia membaca setiap episode YSM. Makasih juga buat semua pembaca yang sudah berbaik hati memberikan vote,like dan juga komennya. Semoga sehat dan rejekinya lancar selalu. π
Jangan bosan-bosan ya terus ikuti setiap episodenya.
Jika kalian suka dengan karya author. Tinggalkan like,komen dan juga votenya yah π
Komen dibawah jika ada kritik dan saran yang ingin disampaikan. Dan juga jika ada unek - unek yang mau disampaikan β€οΈ
__ADS_1
Pembaca selalu diminta bijak dalam membaca novel ini !
Terimakasih.