(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Jangan Macam-macam


__ADS_3

Kania dan Elvan menikmati makan malam dengan saling membisu. Orangtua Elvan sedang menghadiri acara, jadi hanya pasangan itu yang sedang berada di meja makan.


Elvan menyeka bibirnya lalu berdiri, membuat Kania menoleh.


“Apa tuan Elvan tidak menyukai menu hari ini?” tanya Pak Lim.


“Hm, bukan. Aku sudah kenyang, lagi pula tidak ada yang bisa aku ajak berbincang jadi untuk apa berlama di sini,” sahut Elvan kemudian meninggalkan meja makan.


Pak Lim memandang Kania yang sedang menghela nafasnya lalu meletakan alat makan.


“Apa Nona Kania menginginkan menu tertentu?”


“Tidak Pak, ini sudah cukup. Saya tidak terbiasa berada di meja ini … sendirian,” gumam Kania.


Pak Lim yang mengerti posisi Kania paham dengan perasaan gadis itu, kebetulan dia juga sangat mengenal Bayu juga mengetahui kalau kemarin seharusnya Bayu menikah dengan gadis yang ada di hadapannya.


“Maaf Pak, saya tidak bisa menghabiskan makanan ini. Rasanya susah untuk ditelan,” ujar Kania sambil menunduk. Dia tidak ingin terlihat kalau matanya sudah mengembun.


Kania memutuskan kembali ke kamar dan tidur lebih awal daripada dia harus menghadapi pria dingin dan sombong yang mana adalah suaminya sendiri. Ternyata Elvan sudah lebih dulu ada di kamar dan menguasai ranjang.


“Kamu tidak berpikir akan tidur di sini ‘kan?” tanya Elvan.


“Tidak. Aku sadar, di sana bukan tempatku.”


Kania mengganti pakaiannya dengan piyama lalu mengambil selimut dan tidur di sofa yang ada dalam walk in closet. Elvan merasa aneh karena Kania tidak kunjung keluar dari walk in closet.


“Kemana dia?” gumam Elvan yang kemudian menyusul ke walk in closet. “Hei, kenapa tidur di sini,” ujar Elvan yang membuat Kania kembali membuka matanya, padahal dia sudah hampir terlelap.


“Lalu aku harus tidur di mana? di toilet?”


“Kamu bisa pergunakan sofa di kamar, di sini banyak barang berharga. Aku tidak ingin sampai rusak atau hilang karena kamu tinggal di sini,” tutur Elvan.


Kania malas berdebat dengan Elvan, dia beranjak lalu berjalan melewati pria itu bahkan dengan sengaja membuat bahunya menabrak bahu Elvan.


...***...


Elvan sudah tidak ada saat Kania terbangun pagi ini. Salah satu pelayan sudah menyiapkan air hangat untuk Kania membersihkan diri dan menyiapkan pakaian ganti. Dia merasa seperti seorang Nona, mendapatkan kemudahan dan pelayanan.


“Kalau sudah selesai Nona ditunggu di bawah. Tuan Yuda dan Nyonya Nela ingin bicara,” seru pelayan itu. Kania pun bergegas karena tidak ingin membuat kedua orangtua itu menunggunya terlalu lama.

__ADS_1


“Pagi, cantik. Duduk sini,” sapa Nela ketika melihat Kania, gadis itu pun akhirnya duduk berhadapan dengan Yuda dan Nela.


“Ayo Pah, kamu mau bicarakan apa,” ujar Nela.


“Kania, saat ini kamu adalah menantu keluarga Hadi Putra. Ada aturan yang harus kamu ikuti, termasuk menjaga nama baik keluarga,” tutur Yuda yang kemudian dilanjutkan dengan apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh Kania.


“Akan ada supir yang mengantarmu kemana saja. Kelas belajarmu akan diurus dengan beliau,” tunjuk Yuda pada Nela.


“Aku dengar kamu bekerja di toko bunga?”


“Iya, tante,” jawab Kania.


Nela dan Yuda saling tatap mendengar Kania lagi-lagi memanggil Nela dengan sebutan Tante.


“Maaf, rasanya saya tidak pantas memanggil kalian dengan sebutan Papa dan Mama,” sahut Kania. Nela menghela nafasnya mendengar alasan Kania.


“Kamu atur saja, tapi kalau kita sedang di luar atau ada tamu baiknya rubah panggilanmu.” Yuda pun tidak memaksa Kania.


“Jadi, saya boleh tetap bekerja?”


“Kania, sebenarnya kami tidak mengizinkan tapi … kamu boleh tetap bekerja selama tidak berinteraksi dengan orang luar, tapi kelas yang sudah diatur tetap harus kamu ikuti,” tutur Nela.


Seorang pria paruh baya  yang diikuti oleh bebarapa bodyguard, baru saja keluar dari gerbang kedatangan luar negeri. Pria itu membuka kaca matanya saat melihat seorang pria yang sudah menunggunya.


“Selamat datang Tuan Damar,” sapa pria itu.


Pria yang dipanggil Damar mendengus kesal.


“Gara-gara ulahmu, aku harus kembali ke sini. Padahal kerja kalian belum berhasil. Kumpulkan teman-temanku yang masih ada, malam ini,” ucap Damar kemudian melangkah menuju mobil yang akan mengantarkannya ke tempat tinggalnya selama dia berada di Indonesia.


“Kenapa bisa malah tertukar?” Damar bertanya masih dengan nada normal.


“Sepertinya Yuda sudah mengantisipasi hal ini, putranya bertukar tempat dengan salah satu bodyguard.”


“Akhirnya, ada korban dan orang itu tidak bersalah. Seharusnya kalian bisa teliti lagi.” Kali ini Damar bicara dengan nada lebih tinggi.


Damar Prayoga, memiliki masa lalu yang kelam. Menyimpan dendam pada Yuda Hadi Putra. Insiden kecelakaan yang akhirnya membuat Bayu meninggal dan Elvan menjalani operasi adalah rencananya walaupun meleset dari rencana awal.


Sebenarnya Damar hanya akan memberikan peringatan pada Yuda dengan melukai Elvan, tapi hasilnya malah parah bahkan sampai ada korban jiwa.

__ADS_1


Malam harinya, Damar kedatangan tamu Haidar dan Javis.


“Sudahlah Damar, singkirkan dendam itu. kita sudah tua, waktunya menikmati hidup,” seru Javis. “Aku sudah menuruti keinginanmu, putriku tidak jadi menikah dengan Elvan. Walaupun sekarang Alexa masih terpuruk,” tutur Javis.


“Apa rencanamu sekarang?” tanya Haidar sambil menggoyangkan gelasnya membuat wine yang tersisa berputar seperti pusaran air.


“Mana mungkin aku diam saja. Karena Yuda terlalu ambisius, Pram akhirnya tewas. Bahkan anakku dan anak Pram entah di mana keberadaannya,” ungkap Damar. “Semua itu karena ulah Yuda. Rencanaku adalah menemukan keturunan Pram juga keturunanku. Bagaimana pun aku butuh penerus dan Yuda … dia akan mendapatkan peringatan lagi.”


Damar membuka laci meja kerjanya, setelah kedua teman baiknya sudah undur diri. Mengeluarkan dua lembar foto yang sudah mulai usang, di mana dia selipkan pada salah satu buku. Foto bayi yang terlihat imut dan menggemaskan.


“Di mana kalian berada?”


...***...


“Ya ampun Kania, bisa-bisanya gue nggak diundang di pernikahan lo,” seru Adam saat Kania datang.


“Gimana mau ngundangnya, aku ditanya juga nggak siapa yang ingin aku undang.”


“Terus itu laki siapa?” tanya Adam menunjuk seorang pria yang berdiri tidak jauh dari Kania.


“Owh, dia supirku tapi bakalan nemenin aku terus. Nggak apa ya?”


“Memang suami lo nggak kasih nafkah ya sampe lo masih kerja di tempat gue, padahal lo menantu horang kayah.”


“Paling nggak di sini aku bisa ketemu kalian, boleh ya bolehlah masa nggak,” canda Kania.


Kania disibukkan dengan pesanan karangan bunga. Abil, bodyguard yang juga supir Kania tidak beranjak dari tempat Kania berada


“Mas, padahal nggak masalah loh kalau saya ditinggal. Nanti sore baru jemput lagi,” ujar Kania.


“Tidak bisa begitu Mbak, saya bisa dipecat kalau ketahuan tinggalkan Mbak di sini,” ujar Abil menjelaskan situasi pekerjaannya.


“Hm. Ya udah duduk aja di sana, tenang saja di sini aman kok.”


Adam yang ikut bergabung menemani Kania merangkai bunga dengan dasar papan styrofoam. “Lagian aneh, lo pake dikasih bodyguard. Mereka nggak tau lo atlet taekwondo?” bisik Adam.


Kania hanya mengedikkan bahunya.


“Hati-hati aja suami lo, macem-macem bisa kena tendang lato-latonya.”

__ADS_1


__ADS_2