(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Tunggu Aku


__ADS_3

“Duduk!” titah Yuda.


Elvan dan Kania beranjak mendekat ke arah sofa dan duduk berdampingan.


“Kamu tahu ini jam kerja?”


Elvan menganggukkan kepalanya.


“Inilah yang membuat Papa masih ragu menyerahkan semua tanggung jawab kepadamu. Kamu belum meyakinkan dan tidak serius.”


“Perlu waktu Pah, aku belum berpengalaman seperti Papa,” keluh Elvan.


Cukup lama Elvan mendapatkan nasihat dari Yuda, begitupun Kania yang juga mendapatkan arahan agar bisa bisa lebih sabar mendampingi Elvan.


“Hahh,” Kania menghela lega saat Yuda sudah keluar dari ruang Elvan. “Aku pulang ya, nggak ngerti di sini harus ngapain yang ada malah bercanda,” ungkap Kania.


“Hm, ya sudah. Jangan lupa nanti malam,” cetus Elvan lagi.


Kania bergidik membayangkan apa yang dimaksud oleh Elvan.


Sedangkan di tempat berbeda. Bintang bolos dari kuliahnya untuk bertemu dengan Lukas. Dia sengaja mengambil langkah itu karena jika bertemu setelah kuliah dia akan pulang terlambat dan Nella curiga dengan ulah Bintang yang akhir-akhir ini selalu pulang terlambat.


“Aku balik ke kampus ya,” ujar Bintang pada Lukas.


Keduanya baru saja keluar dari bioskop. Lukas mengernyitkan dahinya mendengar Bintang akan kembali ke kampus.


“Supirku masih di kampus, mereka taunya aku masih ada kuliah,” ungkap Bintang.


“Hm, tapi besok jadi ‘kan?”

__ADS_1


Bintang menghela pelan, dia masih bingung mengiyakan permintaan pria di sampingnya. Lukas mengajak Bintang untuk menghadiri pesta ulang tahun temannya dan kegiatan itu malam hari.


“Lihat besok, aku tidak yakin dapat izin dari Mami.”


“Aku mampir ya, langsung minta izin dengan orangtuamu,” ujar Lukas.


“Eh, jangan. Yang ada diizinkan nggak tapi aku malah dipindahkan lagi,” keluh Bintang.


“Ya sudah atur saja, yang penting ikut denganku.”


Lukas memandang taksi yang sudah meninggalkan mall, senyum sinis tersemat di wajahnya. “Siapa yang bisa menolak menggodanya, dia cantik dan begitu polos.”


...***...


Keluarga Yuda sudah lengkap berada di meja makan. Menikmati makan malam dengan tenang, tidak ada yang tahu kalau Bintang sudah mulai berulah.


Hubungan Kania dan Elvan sudah mulai membaik, tinggal persoalan Lukas dan Damar.


“Iya, Pah.”


Di bawah meja, tangan Kiri Elvan mengusap paha Kania membuat wanita itu tersentak langsung menoleh dan menatap tajam suaminya.


Elvan hanya mengedikkan bahunya lalu kembali melanjutkan makan malamnya. Elvan sengaja melakukan itu agar Kania tidak langsung tidur. Kania pasti akan menunggu dirinya sampai selesai dengan urusan Yuda dan meminta penjelasan atau bahkan membalas ulahnya.


Elvan sudah bersama Yuda, ternyata Yuda membahas mengenai Lukas juga Damar.


“Kalau Papa belum bertemu dengan Damar, Lukas pasti akan terus mengganggu.”


“Tapi Damar tidak bisa ditemui,” seru Elvan.

__ADS_1


“Papa pun sudah mengunjungi kantornya tapi nihil. Dia benar-benar menutup akses. Perketat pengawasan Kania juga Bintang, kita tidak tahu apa yang diinginkan oleh mereka.”


Cukup lama pembicaraan Yuda dengan Elvan, bahkan Elvan sempat menguap dan mengusap tengkuknya saat masuk ke kamar.


“Astaga,” pekik Elvan saat membuka pintu ada Kania berdiri bersedekap dengan wajah cemberut. “Sejak kapan kamu berdiri disitu?”


“Tidak penting. Apa maksudmu meraba tubuhku saat makan tadi, kalau ada yang lihat gimana?”


“Owh, kalau nggak ada yang lihat. Boleh dong?” goda Elvan sambil melewati Kania yang masih terlihat kesal. Pria itu menuju walk in closet, untuk mengganti piyama sedangkan Kania menunggu dengan duduk di tepi ranjang.


Elvan keluar hanya mengenakan celana piyama dan bertelanj4ng dada, tentu saja membuat Kania memekik.


“Kamu kenapa tidak pakai baju?”


“Gerah, kayak gini kan lebih mudah kalau mau ngapa-ngapain,” sahut Elvan.


Terdengar ketukan pintu.


“Shittt, ganggu aja.”


Elvan pun membuka pintu.


“Maaf Tuan Elvan, ada hal yang harus saya laporkan. Penting!” Bimo berdiri di depan pintu kamar Elvan.


“Tunggu di ruang kerja Papa.”


Elvan pun kembali mengambil atasan piyamanya.


“Ada apa, sepertinya penting?”

__ADS_1


“Entahlah,” jawab Elvan. “Jangan tidur dulu ya, tunggu aku.” Elvan menggoda Kania sambil mengerlingkan matanya.


 


__ADS_2