(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Kania dan Bintang


__ADS_3

“Minggir kamu Lukas, setelah urusanku dengan Kania berikutnya adalah kamu,” cetus Elvan.


Lukas terkekeh mendengar ancaman Elvan.


“Aku salut karena putra Yuda berani ke sini sendiri, tanpa didampingi bodyguardnya. Untuk urusan Kania, aku harus pro dengannya karena sekarang dia majikanku. Masalah Bintang,” Lukas menjeda kalimatnya lalu menghela nafasnya. “Sepertinya kita akan bersaudara.”


“Tidak sudi, aku tidak ingin memiliki saudara sepertimu. Temukan aku dengan Kania,” teriak Elvan yang saat ini tubuhnya sudah ditahan oleh kedua orang rekan Lukas.


“Dia tidak ingin bertemu denganmu, pulanglah. Percuma kamu teriak-teriak di sini,” ujar Lukas.


“Jangan macam-macam Lukas, aku harus bertemu dengan istriku apalagi dia sedang hamil.”


“Ah, bicara istrimu yang sedang hamil aku jadi ingat kalau Bintang sedang hamil anakku. Bagaimana kalau kita saling bantu,” tutur Lukas sambil tersenyum.


“Jangan harap aku akan membiarkan Bintang menikah denganmu,” pekik Elvan.


“Aish, kalau begitu jangan harap aku akan mempertemukanmu dengan Kania. Usir dia,” ujar Lukas lalu berjalan meninggalkan Elvan.


Kania baru saja melangkah menjauh dari kamarnya, ketika melihat Lukas.


“Ada siapa?”


“Suamimu,” jawab Lukas sambil melipat kedua tangan di dada. “Jadi, gimana? Kalau tuan Damar tahu keturunan Hadi Putra menjejakkan kakinya di rumah ini, dia pasti murka.”


“Aku pun hamil keturunan Hadi Putra.”


“Itu beda cerita,” sahut Lukas.


Tidak lama terdengar keributan menuju Kania dan Lukas berada.


“Kania,” panggil Elvan dengan tubuh membungkuk, nafas terengah dan wajah memar.


“Elvan, ada apa … apa kalian memukulinya?” tanya Kania sambil menatap Lukas. Wanita itu menghampiri Elvan dan menyentuh wajah pria itu. “Lukas,” teriak Kania.


“Halah, begini ini yang sok cuek pakai acara kabur tapi masih cinta," ejek Lukas.


“Bagaimana kalau anak buahmu membunuhnya, apa tidak jadi masalah baru. Kenapa kalian senang menyelesaikan masalah dengan kekerasan.”


“Kania, ikut aku pulang, kita perbaiki hubungan kita. Maafkan aku Kania,” pinta Elvan dengan tangan sudah mengalung di pinggang wanita itu.


“Lepas Elvan, aku khawatir dengan kondisimu tapi bukan berarti aku akan pergi denganmu. Pergilah,” titah Kania sambil melepaskan tangan pria yang masih menjadi suaminya.


“Kania ….”


“Pergilah, Alexa lebih membutuhkanmu dibandingkan aku,” seru Kania lalu meninggalkan Elvan.


“Drama cinta menyedihkan. Ayo pergi,” ajak Lukas.


“Tidak, Kania … aku harus bertemu Kania.”

__ADS_1


“Dia tidak ingin, lebih baik kamu pulang dan urus kekasihmu.”


...***...


“Apa? Jangan bodoh Elvan, kamu bisa celaka.” Nella yang mendengarkan kenapa wajah putra sambungnya lebam, ikut marah karena kebodohan Elvan juga.


“Bukan begitu caranya, bagaimana kalau Kania malah dibawa Damar pergi ke luar negeri. Kamu akan semakin sulit menemuinya.” Yuda menatap putranya yang ceroboh. “Selesaikan urusanmu dengan Alexa, Papa akan bantu menemui Damar lagi.”


“Aku tidak ada urusan dengan Alexa.”


“Tapi kami melihatnya tidak seperti itu, termasuk Kania,” pekik Yuda.


Bintang yang berdiri di balik pintu mendengarkan perdebatan orang tua dan kakaknya, pintu ruangan tidak tertutup jadi dia bisa mendengarkan dengan baik apa yang dibahas.


Bagaimana aku bisa membicarakan masalahku dengan Lukas, kalau Kak Elvan dan Kak Nia urusannya pun tidak kalah ribet, batin Bintang. Wanita itu pun meninggalkan ruangan di mana dia menguping lalu menuju dapur.


“Nona Bintang butuh sesuatu?”


“Berikan aku yogurt,” pinta Bintang.


Setelah mendapatkan yang dia inginkan, Bintang kembali ke kamar dengan dua botol yogurt di tangannya.


“Astaga,” pekik Bintang saat dia menutup pintu sudah ada Lukas di sana. “Apa kamu gila, bagaimana kalau ada yang lihat,” ujar Bintang lirih.


Lukas mengunci kamar Bintang.


“Kamu yang lihat.”


“Oke.” Lukas hendak membuka pintu tapi ditahan oleh Bintang.


“Kenapa lewat pintu. Kamu masuk dari mana?”


“Dari sana,” jawab Lukas menunjuk balkon.


“Kamu akan dibunuh Papa kalau lewat sini.”


“Ah, bagaimana kalau ternyata kita malah dinikahkan,” canda Lukas.


“Jangan bodoh, cepat pergi. Kamu pikir aku peduli dan masih ada perasaan denganmu. Tidak, aku membencimu, jadi jangan pernah menunjukkan wajahmu di depanku lagi.”


Lukas menatap wajah Bintang, mencari kebenaran dari ucapan wanita itu. Bukannya pergi, pria itu malah menuju ranjang dan berbaring di sana.


“Apa yang kamu lakukan, cepat pergi!”


“Berbaring, kemarilah,” titah Lukas sambil menepuk ranjang di sisinya.


Ceklek ceklek


Terdengar handle pintu yang ditekan dari luar.

__ADS_1


“Bintang, kenapa pintunya dikunci.”


“Mami,” ucap Bintang.


Nella bukan hanya memanggil tapi mengetuk pintu,


“Sudah ku bilang pergi, ya pergi.” Bintang menarik tangan Lukas agar segera beranjak.


“Buka saja pintunya.”


“Apa kamu sudah gila?”


“Tidak ada waktu, aku akan sembunyi.”  Lukas memasuki ruang ganti. Bintang memastikan kondisi aman lalu segera membuka pintu.


“Kenapa pintunya di kunci?”


“Aku perlu privacy,” jawab Bintang yang langsung menuju ranjang dan berbaring di sana.


“Yakin? Apa kamu menyembunyikan sesuatu?” Nella menatap Bintang sambil bersedekap.


“Aku lelah Mih, sejak tadi pagi rasanya mual dan kepalaku pening.”


“Kenapa pintu balkonnya terbuka?” tanya Nella yang sudah berada di dekat pintu lalu menutup dan menguncinya. “Angin malam tidak baik untuk kesehatan apalagi kamu sedang hamil.”


Nella menyelimuti tubuh Bintang.


“Jangan cari masalah, Elvan sudah buat masalah lagi dengan membuat keributan di rumah Tuan Damar,” seru Nella.


“Kenapa kalian tidak mengalah dan melupakan dendam kalian? Kami yang menjadi korban,” ungkap Bintang.


“Mami tidak mengerti urusan masa lalu mereka, sudahlah jangan kamu pikirkan itu.”


Nella beranjak meninggalkan kamar Bintang. Setelah dirasa aman, Bintang segera menuju pintu dan menguncinya lalu mencari Lukas di ruang ganti.


“Aku hampir kena serangan jantung,” ungkap Bintang tapi Lukas malah asyik berbaring di sofa yang ada di ruang ganti. Pria itu menatap langit-langit kamar memikirkan apa yang diucapkan Bintang.


“Cepat pergi, aku tidak mau Mami curiga dan kembali lagi ke sini.”


“Yang kamu katakan memang benar, kita memang korban dendam masa lalu Damar dan Yuda.”


“Aku tidak peduli, sekarang kamu pergi!”


Lukas menoleh lalu beranjak duduk.


“Bintang, kamu mau hidup denganku? Tapi aku tidak bisa memberikan kemewahan ini,” tunjuk Bintang pada barang-barang yang ada di ruang ganti. Pakaian Bintang yang tertata rapi dan Lukas tahu pakaian itu bukan didapat dari pasar atau departemen store. Bahkan alas kaki, tas serta perhiasan Bintang sudah seperti koleksi yang jika ditotal harganya pasti fantastis.


“Aku hanya bodyguard Tuan Damar, aku jadi pesimis kamu mau menerimaku.”


Tanpa Bintang dan Lukas ketahui. Nella kembali ke kamar Bintang, dia berdiri di depan pintu lalu menekan handle pintu.

__ADS_1


“Dikunci,” gumam wanita itu. “Tidak biasanya, dia begini.” Bahkan Nella menempelkan telinganya di pintu, berusaha mendengarkan suara atau gerakan dari dalam kamar.


 


__ADS_2