
“Ada apa, kamu terlihat murung?” tanya Nella pada menantunya. “Apa kamu dan Elvan ada persoalan?” tanya Nella lagi.
Memang kami banyak persoalan, batin Kania.
“Tidak ada Tante, aku hanya rindu aktivitas sebelum tinggal di sini,” seru Kania.
“Kalau begitu keluarlah, menikah bukan berarti mengekang kebebasanmu. Aku mencarikan kamu guru private agar kamu tidak jenuh, tapi kalau kamu merindukan teman-teman kamu ya pergilah. Temui mereka,” tutur Nella.
“Bolehkah?”
“Tentu saja boleh, tapi harus izin Elvan dulu.”
Itulah masalahnya, aku tidak yakin Elvan akan mengizinkan, batin Kania sambil tersenyum.
“Kamu pasti khawatir kalau Elvan tidak akan mengizinkan. Tenang saja, selama alasannya jelas dan keamanan kamu terjamin, dia tidak mungkin melarang.”
Kania menghela nafasnya setelah Nella meninggalkannya sendiri.
“Bukan masalah tidak mengizinkan, tapi aku tidak yakin dia akan peduli,” gumam Kania.
Namun, Kania memberanikan diri mengirimkan pesan kepada Elvan agar diizinkan keluar rumah. Wanita itu merindukan teman-temannya di toko bunga.
[Apa aku boleh ke toko? Aku bosan di rumah]
Kania memandang ponselnya, menunggu pesannya direspon oleh Elvan. Tidak lama simbol pesannya sudah berubah dibaca tapi belum ada balasan. Bahkan sudah lewat sepuluh menit, Elvan belum juga membalas pesannya.
“Jangan terlalu berharap, Kania. Bisa jadi dia tidak peduli, kamu akan pergi ke mana pun,” gumam wanita itu.
Saat hendak beranjak untuk kembali ke kamar, ponselnya bergetar. Kania memastikan kembali kalau notifikasi yang muncul adalah pesan dari Elvan.
[Pergilah bersama Abil]
__ADS_1
“What, ini benar dia? Dia mengizinkan aku pergi?”
Belum selesai euforia kebahagiaannya karena diizinkan pergi oleh Elvan, ada pesan baru dari Elvan.
[Pastikan kamu selalu dalam pengawasan Abil]
“Apa dia khawatir denganku? Ah, sudahlah. Yang terpenting aku bisa keluar sementara dari rumah ini.”
Mobil yang mengantarkan Kania sudah berhenti di depan toko Adam’s Flower. Kebetulan Adam sedang berada di depan mengantarkan pelanggan yang baru saja melakukan pesanan karangan bunga. Memperhatikan betul mobil yang terparkir dan salah satu pintu terbuka lalu ….
“Kania, oh my god. Kania, kemana aja lo,” teriak Adam langsung menghampiri Kania bahkan memeluk wanita itu.
Kania terkekeh dan ikut menjerit bersama Adam. Abil menepuk bahu istri majikannya.
“Mbak Kania, ini masih di luar. Sebaiknya Mbak Kania ke dalam, lebih aman dan jangan terlalu mesra. Saya khawatir Tuan Elvan melihat adegan ini,” tutur Abil.
“Maksudnya suami Kania cemburu karena aku peluk? Kasih tau sama bos kamu ya, gue dengan Kania udah kenal lama. Boro-boro gue ada rasa sama dia, nafsu juga nggak. Dia bukan selera gue.”
“Sudah, ayo kita masuk. Aku memang bukan seleranya, bisa jadi kamu seleranya Adam,” ujar Kania pada Abil sambil terkikik geli.
Sedangkan di perusahaan, Elvan memikirkan Kania yang berada di toko. Entah kenapa dia membayangkan Kania bergembira bersama teman-temannya termasuk pria pemilik toko. Menjelang sore, Elvan memutuskan pulang dan menjemput Kania.
Kania senang bisa bertemu dengan teman-temannya di toko, sampai dia lupa waktu. Bahkan saat Elvan tiba di toko, Kania masih asyik sedang bicara dengan Adam. Abil menyambut kedatangan Elvan, saat ingin memberitahu Kania dilarang oleh pria itu.
Elvan memasuki toko dan mendengar suara dan tawa renyah istrinya. Terlihat wajah berseri yang tidak pernah Kania perlihatkan selama di rumah.
“Kania,” panggil Elvan.
Kania pun menoleh, tidak menyangka ada Elvan di sana.
“Tuh, udah dijemput. Bawa nih bini lo, dari tadi ejek gue terus,” keluh Adam.
__ADS_1
“Halah, gitu aja ngambek.”
Tanpa diduga, Elvan mendekat dan meraih tangan Kania.
“Ayo, kita pulang.”
Kania pun pamit pada semua temannya dan mengekor langkah Elvan. Bahkan sampai di mobil, pria itu belum melepaskan tangannya membuat Kania bingung.
“Apa pria itu kekasihmu?” Elvan bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.
“Maksudnya Adam?”
“Hm.”
Alih—alih menjawab, Kania malah tertawa.
“Kami akrab, akrab sekali tapi dia hanya teman. Saat aku tiba di Jakarta, dia orang pertama yang aku kenal dan membantuku dengan membiarkan aku tinggal di toko sampai dicarikan kontrakan.”
Elvan menghela nafasnya, entah kenapa dia merasa lega kalau Kania dan pria tadi ternyata tidak ada hubungan apapun.
“Bayu, pria lainnya yang membantuku termasuk juga menjadi kekasihku.”
Deg.
Untuk pernyataan Kania kali ini sukses membuat pria itu menoleh. Elvan lupa kalau posisinya saat ini adalah posisi Bayu dan bisa jadi hati Kania masih terisi oleh Bayu. Keduanya saling tatap dengan pendapat dan isi pikiran masing-masing, tapi jemari keduanya masih saling terpaut.
\=\=\=\=\=\=
Cie, Elvan sudah mulai ada getar2 cinta 🥰🥰🤩,,,
__ADS_1
gaesss, mampir juga ke karya aku lainnya ya