
Kania menyimpan hasil USG dan keterangan kehamilannya di salah satu laci nakas. Mengeluarkan semua kartu yang diberikan oleh Elvan dari dompetnya dan meletakan di atas nakas.
Merapikan pakaian yang pernah dibawa ke rumah itu ke dalam koper dan meletakan koper di sudut ruang ganti agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Wanita itu berniat pergi, karena merasa rumah itu bukan tempatnya pulang. Perasaannya terakumulasi setelah mendengar ucapan Elvan untuk Alexa.
“Maaf sayang, kita berjuang bersama. Hanya kamu dan Bunda,” gumam Kania sambil mengusap perutnya yang masih rata. “Di sini bukan tempat kita,” ujarnya lagi.
Menjelang malam, Elvan tiba di rumah langsung mencari Kania yang ternyata sedang berada di toilet. Elvan menunggu sambil bersedekap. Kania menatap sekilas Elvan yang menatapnya, saat akan menaiki ranjang Elvan menarik tangan Kania membuat tubuh ringkih itu terhuyung.
“Ada apa denganmu?” tanya Kania.
“Justru harusnya aku yang bertanya, untuk apa kamu mengikutiku ke rumah sakit. Bukannya kamu sedang tidak sehat, kenapa bisa berkeliaran seperti itu.”
“Kamu mengkhawatirkan keadaanku atau mengkhawatirkan kalau aku tahu pertemuanmu dengan Alexa?”
“Kania ….”
“Sudahlah.” Kania menyela ucapan Elvan. “Aku sedang tidak baik tapi kamu malah menegurku seakan aku semakin menyusahkan posisimu tapi … kamu seperti berlari untuk menemuinya saat tau dia ….” Kania mengangkat kedua tangannya tidak sanggup untuk meneruskan apa yang ingin diucapkan.
“Apa yang kamu dengar? Bisa saja kamu hanya mendengarkan sebagian dan berkesimpulan seakan aku selingkuh dengan Alexa.”
“Tidak, aku tidak mengatakan itu. Namun, aku punya kesimpulan lain. Aku akan menjadi yang kedua setelah keluargamu, ketiga setelah pekerjaanmu, bahkan mungkin keempat setelah A-le-xa dan entahlah ... karena memang aku tidak punya tempat baik di keluarga ini ataupun di hatimu. Hubungan ini sudah salah dari awal,” tutur Kania, bahkan air matanya sudah berhasil luruh dan membasahi pipi.
“Kamu hanya pengganti, suami pengganti. Hanya setahun bukan? Kurang lima atau enam bulan lagi, tapi aku siap jika kamu harus menalakku sekarang,” ungkap Kania.
Elvan tidak bisa berkata-kata setelah mendengar ucapan Kania, rahangnya mengeras menahan amarah.
“Kamu bisa kembali lanjutkan hubunganmu dengan Alexa.” Kania membalik badan dan menuju ruang ganti.
Elvan mengepalkan kedua tangannya lalu menuju balkon. Berdiri di sana memandang jauh ke depan, ada rasa penyesalan karena sudah membuat Kania terluka tapi kalimat yang muncul dari mulut istrinya itu cukup mengganggu dan membuatnya terhina.
__ADS_1
Ponsel Elvan berdering.
“Halo.”
“Elvan, Alexa … dia mengiris tangannya,” ujar seseorang di ujung telepon.
Elvan menghela nafasnya lalu memijat dahi.
“Oke, aku ke sana sekarang. Sampaikan pada Alexa aku dalam perjalanan,” ungkap Elvan.
Kania yang sudah duduk di tepi ranjang mendengar apa yang Elvan ucapkan, bahkan pria itu bergegas pergi tidak berusaha menjelaskan mengapa dia harus pergi.
“Aku anggap ini keputusanmu Elvan.”
Kania membuka ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Iya, sayang.”
“Tentu saja. Oh God, aku senang sekali akhirnya putriku kembali. Tunggu sayang, akan ada yang menjemputmu.”
Kania hanya melapisi piyamanya dengan hoodie dan menyeret kopernya.
“Nona kamu ke mana? ini sudah malam,” tanya salah seorang perawat.
“Ini perintah Elvan, kalian tidak usah khawatir,” sahut Kania.
Bahkan Abil mencoba menahan kepergian wanita itu dan siap mengantarkan Kania ke manapun dia akan pergi.
“Aku bukan lagi tanggung jawab pekerjaanmu, bekerjalah yang baik,” pesan Kania pada Abil.
Saat gerbang kediaman Yuda di buka, sudah ada mobil menunggu. Bahkan supirnya keluar dan membukakan pintu untuk Kania, termasuk meletakan kopernya di bagasi.
__ADS_1
...***...
“Elvan, duduklah!” titah Yuda yang melihat Elvan baru saja tiba.
Wajah pria itu terlihat kusut dan lelah karena semalaman begadang menemani Alexa di rumah sakit. Yuda, Nella dan Bintang sudah tiba di rumah sejak semalam karena permintaan Bintang.
“Apa kamu dan Kania bertengkar?”
Elvan menghela nafasnya, dia lelah dan sangat penat tapi Yuda malah membahas mengenai Kania.
“Apa Kania mengadu pada Papa?”
“Jawab saja, apa kalian bertengkar?”
“Aku tidak menganggap ini sebuah pertengkaran. Wajar saja sebagai seorang suami aku menegur atau memarahinya."
“Elvan, ada masalah dengan keluarga kita dan jangan buat masalah baru. Urusan Bintang, cukup menguras emosiku dan jangan tambahkan beban lain,” titah Yuda.
“Pah, aku tidak mengerti ….”
“Kania pergi, semalam … sebelum Papa pulang.”
“Apa?”
Yuda mendengus kesal melihat keterkejutan Elvan. Bagaimana bisa Kania tidak kecewa dengan suaminya, jika suaminya sejak semalam pergi dan pulang pagi.
Sedangkan di tempat berbeda, Kania merasa mendapatkan fasilitas dan kenyamanan sangat mewah. Damar gembira dengan keputusan Kania yang ingin tinggal bersamanya. Kamar yang disiapkan untuknya cukup besar bahkan sangat besar. dalam ruang ganti ada lemari yang sudah terisi banyak pakaian Kania termasuk aksesoris dan perhiasan.
Kania yang baru saja terjaga, meraba nakas dan mengambil ponsel yang diletakan di sana. Tidak menemukan ada panggilan dari mana pun termasuk juga Elvan.
“Jangan berharap, karena pria itu tidak layak untuk diharapkan."
__ADS_1