(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Menguatkan Hati


__ADS_3

Kania tidak tahu harus bagaimana menempatkan dirinya berada di tengah keluarga Hadi Putra. Keluarga tersebut juga dirinya, jelas bagai bumi dan langit. Saat ini Kania sudah berada di tempat di mana pertemuan dengan Yuda.


Mengenakan pakaian terbaiknya, karena tidak ingin membuat malu atau memalukan diri sendiri. Duduk di salah satu sofa tidak jauh dari pintu sebuah ruangan. Merasakan sangat gugup karena dia akan dipertemukan dengan Elvan, putra dari Yuda. Pria yang akan dinikahkan dengannya. Berharap pria itu akan menolak mentah-mentah rencana tersebut.


Terdengar langkah kaki dari alas sepatu yang menyentuh lantai, Kania pun mengangkat wajahnya menatap seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan setelan mewah dan ada plester di keningnya. Pria itu berjalan menuju ke arahnya diikuti oleh dua orang pria dengan penampilan sama seperti pria yang menjemputnya, dapat disimpulkan oleh Kania kedua pria itu adalah pengawal atau bodyguard keluarga Yuda sama seperti Bayu.


“Tuan Yuda sudah di dalam,” ujar salah satu pengawal.


“Hm.”


Apa dia putra Tuan Yuda, batin Kania. 


Pintu ruangan itu tidak tertutup rapat dan Kania bisa mendengar apa yang dibicarakan di dalam.


“Papa yakin akan menikahkan aku dengan gadis itu, yang duduk di depan bukan?”


“Elvan, ini sudah kita bahas dan saat ini Papa akan mengenalkanmu dengannya bukan malah kembali menolak,” tutur Yuda.


“Dia tidak pantas Pah, tidak akan pernah pantas menggantikan Alexa. Papa lihat penampilannya? Mana mungkin aku akan menjadikan dia istri, dia terlihat seperti seorang pelayan,” tutur Elvan dan semua yang diucapkannya didengar oleh Kania.


Kania menelan salivanya sambil merem4s dress yang dikenakan, kedua matanya memanas tanda dia akan menangis. Dia sudah sadar diri akan perbedaan keluarga tersebut dengan kehidupannya. Hanya pekerja di toko bunga bahkan dia sudah tidak ada keluarga lagi, tinggal seorang diri di Jakarta. Bayu mencintai dan menerima dengan segala kondisinya, tapi pria ini malah menghina dan merendahkannya.


Tanpa Kania ketahui kalau Bayu yang menyelamatkan Elvan hari itu dengan mereka bertukar mobil.  Namun, Elvan malah menghina calon istri dari penyelamat nya seakan lupa dengan pengorbanan Bayu.


Yuda melangkah ke pintu, dia sendiri yang akan memanggil Kania. Agak terkejut karena pintu tidak tertutup, dia pun menoleh ke arah Elvan berharap percakapannya tadi tidak didengar oleh Kania.


Kania sudah dalam posisi berdiri saat Yuda membuka pintu.


“Kania, masuklah!” titah Yuda.


“Maaf Tuan, saya tidak pantas berada di sini,” ujar Kania sambil mengusap pipinya yang basah karena tetes air mata. “Sepertinya saya tidak bisa menjadi menantu anda, saya sadar diri siapa saya,” ucapkan lagi.

__ADS_1


Yuda menghela nafasnya, sudah jelas kalau gadis itu mendengar  apa yang Elvan katakan. Yuda memijat dahinya, “Masuklah!” titah Yuda dengan suara rendah tapi penuh penekanan.


Elvan dan Kania duduk berhadapan hanya terhaang meja sofa, sedangkan Yuda duduk menghadap kedua orang yang saat ini sibuk dengan pikiran masing-masing dan sudah pasti mencari cara agar rencana pernikahan mereka dibatalkan.


“Elvan, Kania,” ujar Yuda. “Pernikahan kalian tidak akan batal atau mundur, sesuai dengan rencana pernikahan Kania dengan Bayu.”


“Pah ....”


“Cukup Elvan, dua hari lagi kalian akan melakukan foto prewed sekaligus foto untuk publikasi rencana pernikahan kalian.”


Kania masih menunduk, sesekali dia mengusap air matanya. Elvan menghela nafasnya, merespon apa yang diperintahkan oleh Yuda.


...***...


“Sabeum Nia, kami kangen,” ujar salah satu murid taekwondo Kania. Bukan hanya satu anak, yang lain pun menyerukan hal yang sama.


Kania hanya tersenyum, kemudian menyapa satu persatu muridnya lalu memulai latihan yang sudah beberapa kali dia absen dan digantikan pelatih lain. Sengaja menyibukkan diri dengan kembali bekerja, agar tidak terus larut dalam kesedihan karena ditinggalkan oleh Bayu dan mendapatkan ujian harus menikah dengan Elvan yang jelas-jelas menolaknya.


“Nia,” panggil seniornya pemilik dojang (istilah untuk tepat berlatih).


“Iya.”


“Jika kamu memerlukan waktu lebih banyak untuk menenangkan hati, kami tidak masalah. Karena ....”


“Tidak apa, saya tidak yakin akan bisa lanjut melatih. Paling tidak dengan melatih mereka, membuat saya lebih terhibur,” tutur Kania kemudian undur diri karena harus ke Adam Flower.


Langkah Kania terhenti tepat di depan dojang, teringat terakhir Bayu menjemputnya seminggu yang lalu di mana saat itu adalah pertemuan terakhir mereka. Jika dia bisa mengetahui masa depan, mungkin saat itu Kania tidak akan membiarkan Bayu pergi, bisa jadi dia akan melindungi pria itu lebih dari nyawanya sendiri.


“Kania … jaga dirimu baik-baik. Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku, hiduplah yang baik. Aku cinta, sangat mencintaimu.”


Voice note yang dikirimkan oleh Bayu masih terngiang jelas di ingatannya, mungkin saja dibuat menjelang kematian pria itu.

__ADS_1


“Kania, kuatlah kamu harus kuat,” gumam Kania mensugesti diri sendiri.


“Ehhh, Nia. Lo udah mau kerja, udah siap gue perintah,” pekik Adam saat melihat Kania datang. Gadis itu hanya tersenyum mendengar gurauan pemilik toko bunga tempatnya bekerja. Satu persatu karyawan toko menghampiri Kania dan mengucapkan bela sungkawa serta menguatkan hati Kania. Kania sudah berusaha tegar dan tidak menangis.


“Nia, lo urus pesanan buket ini ya,” titah Adam sambil menyodorkan form pesanan.


“Oke.”


Kania larut dalam kesibukan dan fokus pada pekerjaannya. Adam yang melihat itu menghela nafasnya. Bukan tanpa alasan dia sengaja memberikan Kania tugas lebih banyak, agar tidak terpuruk atau teringat terus dengan kepergian Bayu.


Keesokan hari, Kania kembali disibukkan dengan pesanan buket. Kebetulan tidak ada jadwal melatih, jadi Kania langsung menuju toko. Ketika sedang fokus, Adam lagi-lagi berteriak memanggil Kania.


“Ya ampun, Adam. Bisa nggak kamu jangan teriak begitu. Enggak macho tahu,” ejek Kania.


“Yey, bodo amat macho atau nggak. Yang penting gue masih normal, bisa berdiri kalau lihat perempuan yang menarik menurut penglihatan gue. Lagian ya, gue teriak karena noh, pengawal mafia mana yang sudah ada di depan nyariin lo,” tutur Adam membuat Kania heran dengan pengawal mafia yang dimaksud Adam.


Kania pun meninggalkan ruang eksekusi, menuju area penjualan dan display aneka macam bunga. Benar saja ada dua orang pria yang bisa Kania kenali sebagai pengawal atau pelindung keluarga Hadi Putra.


“Cari saya, ada apa ya?” tanya Kania heran.


“Nona Kania, bisa ikut kami karena sudah ditunggu untuk foto prewed termasuk wawancara untuk publikasi rencana pernikahan.”


“Ahhh, tapi saya ….”


“Untuk penolakan atau keberatan bisa disampaikan langsung saat di lokasi. Kami hanya bertugas menjemput Nona Kania. Tolong kerjasamanya.”


“Tapi saya sedang bekerja dan saya lupa kalau kegiatan itu hari ini,” ucap Kania.


“Kami sudah tiba dan sudah mengingatkan, tolong Nona segera ikut kami. Tuan Yuda sempat berpesan untuk menggunakan cara yang lebih tegas untuk membawa Nona,” seru salah satu pria.


Kania akhirnya mengalah dan ikut dengan dua orang yang menjemputnya. Bagaimanapun dia sudah mengatakan bersedia dan menerima pria itu sebagai suaminya.

__ADS_1


__ADS_2