(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Happy Family (End)


__ADS_3

“Posisi bayinya melintang dan kondisi seperti ini tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, Ibu tidak usah khawatir karena persalinan bisa dilakukan dengan jalan operasi. Kita lihat bulan depan, apakah masih dengan posisi yang sama atau sudah bergeser.”


Kalimat dokter yang menyampaikan posisi bayinya membuat Kania resah. Walaupun dokter  meyakinkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena untuk saat ini bisa jadi operasi memiliki resiko lebih rendah dibandingkan melahirkan normal.


Saat ini Kania sedang menunggu giliran pemeriksaan. Sudah satu bulan berjalan, berharap posisi bayinya sudah bergeser. Bahkan Kania mengikuti senam hamil lebih rajin dibandingkan sebelumnya dengan harapan sang bayi mau bergeser.


“Sayang,” panggil Elvan dengan nafas terengah. Pria itu mencium kening Kania lalu duduk di samping istrinya. Interaksi Elvan mengundang perhatian dari pasien lainnya, karena sejak tadi Kania hanya sendirian.


“Maaf, tadi macet. Sudah dipanggil?” tanya Elvan sambil mengusap perut Kania yang sudah sangat besar.


“Belum.”


Elvan mengusap kepala Kania, sejak bulan lalu saat dokter mengatakan posisi bayi mereka sungsang Kania lebih banyak diam.


“Tidak usah khawatir, kita bisa pilih operasi. Mau melahirkan normal atau operasi, kamu tetap seorang Ibu. Tidak akan ada yang menyangkal akan hal itu,” tutur Elvan.


“Hm, tapi setelah operasi aku tidak boleh langsung hamil. bahkan harus menjeda sampai beberapa tahun.”


“Hanya dua tahun, setelah itu kita bisa bicarakan lagi kalau memang kamu sudah siap hamil. Tidak usah mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi,” ujar Elvan.


“Aku tidak khawatir tapi tetap saja terpikirkan. Otak manusia tidak ada tombol On dan Off-nya.”


“Tenang ya, kalau kamu stress dan banyak pikiran malah beresiko untuknya dan untukmu juga,” ungkap Elvan. Kania menatap wajah Elvan dan tersenyum.


Akhirnya nama Kania disebut, Elvan membantu istrinya untuk berdiri dan memapah sampai ke dalam ruang praktek. Dokter langsung mengarahkan untuk Kania menaiki brankar.


“Coba kita lihat, apa sudah bergeser posisinya. Baby, dijenguk Ayah dan Bunda nih,” seru Dokter yang menangani masalah kehamilan Kania.


Dokter menggerakan alat USG dan memperhatikan tampilan di layar. Bahkan sempat mengerutkan dahi lalu menjelaskan pada Kania dan Elvan kondisi bayi mereka.


“Jadi belum ada perubah Dok?”


“Belum, Pak. Biasanya kalau sudah di umur kehamilan saat ini sudah tidak memungkinkan dia bergeser atau pindah. Karena berat badan bayi sudah siap lahir dan sulit baginya untuk bergerak apalagi memutar posisi.”


“Saya tidak bisa melahirkan normal, Dok?”


“Tidak bisa Bu, agak sulit untuk posisi yang ini. Saya rekomendasinya operasi saja,” ungkap Dokter. “Tapi semua kembali pada keputusan kalian berdua.”


"Umur kehamilan sudah memasuki tiga puluh lima minggu, tindakan operasi sudah bisa dilakukan setelah minggu ke enam belas. Jadi silahkan didiskusikan dulu ya."


...***...


"Kania, sayang ... tangan kamu kok dingin ya. Kenapa?" tanya Nella yang ikut mendampingi Kania.

__ADS_1


Kania sudah berada di kamar rawat, persiapan persalinan sesuai tanggal yang dipilih oleh dirinya dan Elvan.


"Kenapa ya Mih, apa karena aku takut ya," jawab Kania sambil mengusapkan kedua tangannya.


Elvan yang sedang menelpon menoleh lalu mengakhiri panggilan dan menghampiri istrinya.


"Takut kenapa?" tanya Elvan mengusap punggung Kania.


"Nggak tau, mungkin gugup."


"Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Kalau kamu takut atau gugup malah nanti bayi kamu stress."


Akhirnya waktu tindakan tiba, Kania sudah berada di ruang operasi. Elvan, Nella dan Damar menunggu di luar ruang operasi.


"Kenapa lama sekali," gumam Damar padahal tindakan baru berjalan tiga puluh menit.


Ucapan Damar tentu saja mengusik fokus Elvan yang langsung khawatir dan meyakini kalau Kania sudah berada lama di ruang operasi.


"Iya Mih, bagaimana kondisi Kania ya?" tanya Elvan yang sudah beranjak berdiri.


"Kalian ini laki-laki tidak sabar. Melahirkan itu tidak mudah dan perlu waktu. Sabrlah sebentar," ujar Nella.


Setelah satu jam, Elvan sudah dipanggil untuk melihat bayi dan mengadzankan. Namun, Kania masih belum bisa ditemui.


"Coba kamu tanya petugas di sana," tunjuk Damar.


Baru saja Elvan akan beranjak, pintu ruang operasi terbuka, keluarlah dokter yang menangani Kania dan menjelaskan kalau persalinan lancar dan Kania baik-baik saja.


"Nyonya Kania sedang berada dalam ruang observasi, setelah kondisinya stabil akan dibawa ke kamar rawat."


Semua menghela lega mendengar penjelasan dokter. Beberpa jam setelah itu Kania sudah berada di kamarnya masih belum bisa bergerak bebas apalagi turun dari ranjang.


Sempat sesekali mendesis karena nyeri, setelah efek obat bius sudah benar-benar hilang. Yuda datag menjenguk sekaligus menjemput Nella karena Bintang pun sedang menunggu hari kelahiran.


Bintang dan Lukas datang menjenguk di hari kedua perawatan Kania.


"Kak Nia, bayi kalian lucu tapi kalau dilihat-lihat malah mirip Kak Elvan. Ih nggak sabar deh, pengen cepat lounching baby aku," tutur Bintang.


"Bayi kita juga nanti akan lucu, lucu seperti aku," sahut Lukas.


"Kamu bukan lucu tapi menyeramkan," gumam Bintang.


"Menyeramkan tapi cinta."

__ADS_1


Bintang mendengus mendengar ucapan Lukas. Kedua pasangan itu masih membicarakan bayi dan berbagi pengalaman karena menjadi orangtua baru.


Empat tahun kemudian.


Kania dengan perut yang sudah membola berjalan pelan dalam rangkulan suaminya. Zura putrinya sedang berlarian bersama Juan putra Bintang dan Lukas.


"Duduklah!" titah Elvan. Yuda dan Nella mendampingi kedua cucu mereka. Lukas menemani Bintang yang sedang asyik dengan makannya.


Sama halnya dengan Kania yang sedang hamil, Bintang pun sama. Hanya saja usia kehamilan mereka berbeda. jika Kania sudah mendekati jadwal operasi apalagi dia sedang mengandung anak kembar. Bintang masih trimester pertama dan sedang menikmati masa mengidam.


"Aku mau lagi," ujar Bintang.


Lukas menghela nafasnya, "Makan yang lain saja, nanti pencernaanmu bermadalah. Karena sejak tadi Bintang hanya makan cemilan dan yogurt.


"Aku bisa ambil sendiri," sahut Bintang yang mulai merajuk.


"Wanita hamil itu sensitif, jangan cari gara-gara dengan mereka," ungkap Elvan.


"Tapi kamu cari gara-gara terus," cetus Kania.


"Nggak sayang. Manalah aku berani."


Kania mendesis menahan nyeri membuat Elvan panik.


"Sudah mau lahir? tapi jadwal operasinya masih minggu depan."


Nella yang melihat interaksi Kania dan Elvan pun menghampiri.


"Ada apa?"


"Mih, Kania sakit perut tapi jadwal operasinya masih minggu depan."


"Kita bawa ke Rumah sakit, proses melahirkan bisa maju atau mundur. Ayo," ajak Nella.


"Setelah ini, aku tidak mau hamil lagi," keluh Kania.


"Jangan begitu sayang, aku masih ingin punya satu atau dua anak lagi," ujar Elvan.


"Apa?" pekik Nella dan Kania serempak.


...~~ TAMAT ~~...


Hai, akhirnya tamat juga ya. Terima kasih yang sudah mengikuti kisah Kania dan Elvan.

__ADS_1


Jangan lupa mampir di karya aku lainnya, sehat2 untuk kalian semua. 🥰🥰🥰😘


__ADS_2