
Bimo menghentikan Lukas yang sedang dipukuli oleh rekan-rekannya.
“Pergilah!” teriak Bimo.
“Aku harus bertemu Bintang,” sahut Lukas sambil mengusap darah yang merembes dari sudut bibirnya yang terluka. Bahkan ada beberapa lebam di wajahnya.
“Pergilah, langsung menghabisimu tidak seimbang dengan apa yang dirasakan oleh Nona Bintang.”
“Biarkan aku bertemu dengannya, bukan seperti ini rencananya,” tutur Lukas.
Lukas mengalah, berharap dia akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Bintang. Menjelaskan semua dan mempertanggung jawabkan kesalahannya.
...***...
Yuda ditemani oleh Bimo dan beberapa bodyguard lainnya menemui Damar. Bahkan Lukas pun sudah ada di tempat itu.
“Lama tidak bertemu, Yuda Hadi Putra,” sapa Damar.
Yuda tidak merespon sapaan Damar, keduanya sudah duduk berhadapan hanya terhalang sebuah meja. Di belakang masing-masing berdiri pada pria yang siap melindungi dengan merelakan nyawa mereka.
“Langsung saja, apa maksudmu melakukan hal sekeji ini pada Bintang. Putriku tidak bersalah dan ….”
“Tunggu,” sela Damar. “Putrimu? Kenapa hatiku rasanya sakit mendengar itu. Kamu membela putrimu tapi bagaimana denganku. Di masa lalu kamu sudah terlalu kejam dengan melaporkan apa yang sudah kita lakukan. Pram tewas dan anaknya meninggal bahkan putriku pun hilang. Haidar dan Javis bisa bertahan karena dukungan keluarga mereka dan kamu …” tunjuk Damar yang kemudian terkekeh.
“Bisa hidup senang dan bahagia bahkan sampai sekarang. Putrimu tidak bersalah, bagaimana dengan putriku. Bahkan saat aku menemukannya, dia malah memilih kalian.”
“Apa maksudmu Damar? Aku tidak pernah melaporkan siapapun. Saat itu kita semua menjadi target dan ….”
“Aku kehilangan semuanya, tapi kamu dengan bangga tetap berdiri bahkan sampai saat ini seakan tidak ada beban.”
Damar dan Yuda terus berdebat dan semakin memanas.
“Yang aku lakukan hanya peringatan, jangan menantangku,” ujar Damar.
Suasana semakin tidak kondusif, para bodyguard Damar dan Yuda sudah saling menodongkan senjata. Lukas hanya diam walaupun Bimo sudah menodongkan senjata ke depan wajahnya. Dia sudah malas untuk membela Damar, walaupun dia bertahan dan tetap hidup itu hanya karena Bintang.
"Keluarkan senjatamu,” titah Bimo. “Aku tidak ingin menang tanpa perlawanan.”
“Lukas, habisi mereka!”
“Hentikan,” pekik Yuda. “Damar, kita sudah tua. Bukan saatnya lagi bertingkah seperti ini. Kamu kecewa aku pun kecewa, sebaiknya kita duduk bersama untuk mencari solusi.”
__ADS_1
“Tidak, aku sudah kehilangan momen bersama putriku dan sekarang dia menolakku.”
“Siapa putrimu? Aku akan bantu mencarinya,” seru Yuda.
Damar terkekeh.
“Sebaiknya kalian cepat pergi.” Lukas membuka suara. “Turunkan senjata kalian.”
Bimo perlahan menurunkan senjatanya.
“Lukas, kamu melawanku?” pekik Damar.
Lukas memberi tanda pada Bimo agar membawa Yuda pergi. Jika dilanjutkan, ruangan itu akan menjadi tempat baku tembak.
“Kita akan atur lagi pertemuan saat sudah lebih tenang,” ujar Bimo lalu mengajak Yuda beranjak.
“Tunggu! Yuda, urusan kita belum selesai. Lukas, kamu ….”
“Hentikan! Anda ingin Kania? Lakukan pendekatan dengan baik bukan seperti ini.”
...***...
Kondisi Bintang semakin kacau, merasa bersalah dan hina dengan video yang sudah beredar walaupun tidak menunjukkan jelas dirinya sebagai pelaku dalam adegan tersebut. Saat ini Bintang tinggal bersama Nella di villa keluarga, jauh dari keramaian dan pemberitaan.
Sedangkan Kania dan Elvan tetap di Jakarta. Selain Elvan yang tetap fokus pada perusahaan, dia masih disibukkan dengan membungkam dan menghapus penyebaran video.
“Hm, siang ini aku boleh keluar?” tanya Kania saat Elvan sedang memastikan penampilannya sudah sempurna.
“Mau kemana?”
“Ya bosan aja di rumah,” sahut Kania.
Elvan sebenarnya tidak ingin mengizinkan tapi dia khawatir juga kalau istrinya akan jenuh dan malah stres.
“Pastikan tempat yang kamu datangi aman. Abil akan mengantarkanmu dan kabari aku kalau mau berangkat.”
Kania tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Bukan ingin keluar sesuai dengan alasannya tadi tapi Kania akan menemui Damar. Dia ingin bicara langsung pada pria itu, yang mana sudah membuat keluarga Elvan jadi kacau seperti sekarang.
Menjelang makan siang, Kania sudah berada di dalam mobil dengan Abil yang mengemudi. Wanita itu sempat mengirimkan pesan pada Elvan kalau dia sudah berangkat.
“Ini kita mau ke mana Mbak?”
__ADS_1
Kania menyebutkan nama restoran yang sudah disepakati oleh Damar. Tidak lama mereka sampai di tujuan. Ternyata Damar sudah menyiapkan private room untuk bertemu dengan Kania.
“Kamu tunggu di sini saja,” titah Kania.
“Tidak bisa Mbak, saya harus temani Mbak Kania.”
Kania tidak mungkin membiarkan Abil terus mengekor, laki-laki itu akan tahu kalau dia bertemu dengan Damar.
“Ck, aku hanya sebentar. Lagi pula pintu keluar hanya itu,” tunjuk Kania pada pintu di mana tadi mereka masuk. Tenanglah, aku akan aman.”
Ternyata Damar sudah tiba lebih dulu. Pria itu langsung berdiri saat melihat Kania di tengah pintu.
“Bagaimana kabarmu, sayang?” tanya Damar dengan wajah berbinar.
“Langsung saja deh. Tuan Damar yang terhormat, nggak usah panggil-panggil aku sayang. Rasanya telingaku gatal. Berhenti berbuat jahat, lebih baik Tuan Damar fokus mencari putrinya yang hilang.”
“Dia sudah di sini, ada dihadapanku.”
Kania berdecak. “Aku tidak percaya.”
“Bagaimana kalau kita tes DNA untuk membuatmu yakin kalau kamu memang putriku.”
Kania bergeming, apa yang diucapkan pria itu ada benarnya. Dia akan mendapatkan kejelasan dan bisa menghentikan upaya Damar untuk terus mendekatinya.
“Kalaupun memang aku adalah putrimu, aku sangat kecewa karena kejahatan yang dilakukan Ayahku. Hentikan penyebaran video itu, sebagai gantinya aku siap melakukan tes DNA.”
“Sayang, kamu tidak tahu bagaimana jahatnya Yuda di masa lalu.”
“Masa lalu, bukan? Kenapa mengaitkan dengan Elvan, Bintang dan aku. Kami tidak tahu apa-apa dan ….”
“Aku sudah banyak kehilangan. Waktu bersamamu, bahkan sekarang pun aku tidak bisa merengkuhmu.”
Kania menghela nafasnya.
“Hanya itu saja penawaranku," cetus Kania.
“Jika aku turuti kemauanmu lalu hasil tes DNA benar membuktikan kamu adalah putriku, apa yang aku dapatkan?”
“Sampaikan pada Tuan Yuda kebenaran ini. Semoga saja hubungan kalian bisa lebih baik.” Kania beranjak meninggalkan Damar.
Damar menghela nafasnya, tidak menduga kalau dia harus bernegosiasi dengan putrinya sendiri. Pria itu membuka ponselnya dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
“Lukas, hentikan semua pemberitaan putri Yuda. Jangan sampai ada jejak digital dan atur tes DNA untuk membuktikan bahwa Kania adalah putriku.”