
#Bab ini ada adegan action, yang tidak berkenan silahkan skip
Kania menyunggingkan senyum. Setelah hampir empat hari berada di Bali, akhirnya dia bisa merasakan bermain di salah satu pantai yang terkenal keindahannya. Tentu saja dalam pemantauan ketat Bimo dan beberapa pengawal lainnya.
Kejadian penyerangan yang dilakukan oleh Lukas membuat Elvan semakin memperketat penjagaan.
Elvan hanya berdiri, dengan tangan berada di kantong celana. Karena keberadaan dia dan Kania di tempat itu dalam konteks honeymoon, tentu saja Elvan pun berada di tempat yang sama walaupun sebenarnya dia enggan bermain air seperti Kania.
Kania terlihat sangat menikmati, bahkan dia sudah bahas karena terjatuh saat ombak datang.
“Hei, Kania. Itu berbahaya, jangan membuat masalah baru,” pekik Elvan karena Kania terlihat semakin jauh. “Bimo, kenapa kamu diam saja?”
“Lalu kami harus bagaimana? Dia istrimu Tuan, mana mungkin aku harus menyeretnya atau menggendongnya kemari.”
Elvan berdecak, mau tidak mau dia akhirnya harus membawa Kania kembali. Melepaskan alas kakinya lalu melangkah merasakan pasir yang basah dan masuk ke dalam air yang lama-lama semakin dalam.
“Kania,” teriak Elvan yang sudah semakin dekat dengan posisi di mana Kania berada tapi air sudah sampai ke paha artinya di Kania lebih tinggi lagi. “Ini berbahaya,” ujar Elvan sambil menarik tangan Kania.
“Ini menyenangkan,” ujar Kania berusaha melepaskan tangannya dari Elvan.
“Aish.” Elvan menggerutu lalu menghampiri Kania, mengangkat tubuh gadis itu dan memanggulnya seperti mengangkat sekarung beras.
“Hei, lepaskan aku,” teriak Kania sambil memberontak membuat Elvan terhuyung lalu terjatuh karena tidak seimbang apalagi mereka baru saja terhantam ombak.
Kania tertawa karena Elvan akhirnya ikut basah.
“Pemandangan apa ini? Seperti menyaksikan pasangan yang sedang berpacaran,” gumam Bimo.
Setelah cukup bermain air, Kania akhirnya menepi bukan untuk kembali ke villa tapi duduk di kursi salah satu penjual kelapa muda.
“Ini segar, karena langsung minum dari buahnya,” ujar Kania.
Elvan pun mencoba seperti yang Kania lakukan. Meminum air langsung dari buah kelapa yang di lubangi.
“Terkadang kita harus membuang yang namanya jaga image demi menikmati hidup.” Kania bicara seolah bersabda pada Elvan.
“Hei kemarilah,” panggil Kania. Bimo pun menoleh dan mendekat. “Kamu juga minum, termasuk rekan-rekanmu. Ini tidak beracun dan dia tidak jatuh miskin dengan membelikan kalian semua buah kelapa.” Akhirnya Elvan dan Kania, di kelilingi oleh para bodyguard yang ikut menikmati buah kelapa sambil bergurau.
Tanpa mereka ketahui, ada Lukas yang memperhatikan dari jauh.
“Sementara, kita biarkan mereka menikmati liburannya. Bersenang-senang dahulu, tersiksa kemudian,” ujar Lukas kemudian tersenyum sinis.
...***...
Sudah hampir satu minggu, Elvan dan Kania menikmati liburan mereka. Mulai dari bali dan berpindah ke Lombok, saat ini sudah dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Kegiatan Elvan dan Kania sudah terekspos dan meredam pemberitaan Kania sebelumnya.
Selama di pesawat Kania tertidur, bukan karena dia merasa lelah tapi menikmati kenyamanan dari layanan kelas terbaik.
“Bangunlah, kita sudah sampai,” ujar Elvan sambil menggoyangkan tangan Kania.
Gadis itu mengerjap pelan, melihat Elvan yang sudah berdiri. Meskipun belum tersadar sepenuhnya, Kania mengekor langkah Elvan ke luar dari pesawat. Kedatangan dalam negeri cukup ramai, Elvan bahkan menggenggam tangan Kania erat agar tidak terpisah. Mengingat ancaman Lukas sebelumnya, membuat Elvan serta para pengawalnya lebih berhati-hati.
“Cepat masuk!” titah Elvan, ketika salah seorang pengawalnya membuka pintu mobil.
__ADS_1
Kania tidak terlihat khawatir saat mobil sudah meninggalkan bandara. Berbeda dengan Elvan yang pernah mengalami penyerangan, yang mana Bayu ikut menjadi korban.
“Kau yakin sudah aman?” tanya Elvan.
“Di depan dan di belakang adalah orang kita juga,” sahut Bimo.
“Percepat, kita akan lebih aman kalau sudah tiba.”
“Ada dua mobil melaju cepat,” ujar pria yang mengemudi. Bimo menoleh ke arah mirror, lalu menghubungi mobil yang berada di depan dan di belakang untuk bersiap.
“Shittt,” maki Bimo karena mereka tidak menggunakan earpiece untuk memudahkan komunikasi. “Jangan terpisah agar mereka tidak bisa mengecoh,” titah Bimo kemudian mengeluarkan senjata api dari balik jasnya.
“Apa itu sungguhan?” tanya Kania.
“Tentu saja,” jawab Elvan. “Pakai sabuk pengamanmu.”
Kania pun memakai sabuk pengamannya, dia menoleh ke belakang dan mobil yang sedang melaju cepat sudah hampir mendahului mobil yang dinaiki.
“Apa mereka berniat jahat?”
“Yang jelas mereka punya tujuan,” sahut Bimo. “Banting kiri,” titah Bimo karena mobil itu berusaha menyudutkan mobil .
Mobil di belakang sudah terpisah jauh, Bimo mengatakan untuk keluar jalur dan memilih jalur ramai dan padat kendaraan agar musuh tidak mudah untuk mengecoh.
“Belok kiri,” titah Bimo lagi dan mobil pun berada pada jalur yang sepi karena memasuki area industri di mana kiri dan kanan hanya ada tembok tinggi mengamankan area atau kawasan tersebut.
“Mereka sudah tidak terlihat,” ujar Elvan yang bernafas lega.
“Awas!” teriak Kania.
Brak.
Rem yang diinjak kuat dan mendadak membuat para penumpang terlonjak ke depan, untungnya mengenakan seat belt jadi tidak terlalu membahayakan.
“Tuan, Nona, apa kalian baik-baik saja?” tanya Bimo.
“Shhh.” Kania mendesis sambil menyentuh keningnya yang terbentuk kaca jendela bahkan menyebabkan luka.
“Cepat jalan, mereka sudah dekat,” ujar Elvan dengan tatapan ke belakang dan benar saja dua mobil yang tadi mengajar sudah sangat dekat.
“Tidak bisa, motornya menghalangi.”
“Turunlah dan geser motor serta orang itu, aku yang akan mengemudi,” titah Bimo.
Namun ….
Brak.
Mobil ditabrak dari belakang. Belum hilang rasa kaget, kembali mobil ditabrak dari belakang bahkan sampai terdorong.
Tok tok
Seseorang mengetuk kaca jendela di samping Kania. Semua pintu sudah di jaga oleh orang-orang yang tidak dikenal.
__ADS_1
“Siapa mereka?” tanya Elvan.
“Lukas,” jawab Kania.
Benar saja Lukas keluar dari mobil lainnya dan berjalan menghampiri mobil di mana Elvan berada.
“Ayo, keluarlah. Apa kalian ingin aku paksa keluar.” Lukas bicara dengan nada biasa.
Orang-orang Lukas mengeluarkan senjata dan mengarahkan ke dalam. Bimo mengangkat tangannya seakan berkata kalau mereka menyerah.
“Kita keluar,” ujar Bimo.
Elvan membuka pintu mobil lalu di tarik paksa bahkan sampai jatuh terjerembab. Tidak berbeda dengan Bimo dan rekannya. Mereka tidak bisa berkutik karena ditodongkan senjata di kepala. Kania enggan turun, sehebat-hebatnya ilmu bela diri kalau harus melawan senjata api sepertinya akan kalah.
“Turun, sayang,” ujar Lukas.
Salah seorang pria membuka paksa pintu di mana Kania berada dan menarik gadis itu. Kania berteriak dan berontak. Lukas mendorong tubuh Kania hingga menempel pada mobil.
“Lepaskan dia,” cetus Bimo.
“Dia agak berbahaya, dibandingkan suaminya,” sahut Lukas.
“Lepaskan aku bodoh. Kamu hanya pengecut, karena jumlah kita tidak sebanding,” ejek Kania membuat Lukas marah. Pria itu terkekeh kemudian memerintahkan anak buahnya menghajar Bimo dan rekannya.
“Aku tidak main-main, aku bilang akan memberikan perkenalan untuk keluarga Hadi Putra,” bisik Lukas di telinga Kania. Posisi Kania membelakangi Lukas dengan kedua tangan di belakang.
Kania membenturkan kepalanya dengan kepala Lukas, membuat pria itu terhuyung merasakan sakit. Kania pun terjatuh karena merasa sakit yang sama. Suasana semakin kacau karena Bimo dan rekannya melawan begitu pula Elvan.
Kalah jumlah, Bimo pun terkapar. Lukas sudah bangkit lagi dan mencengkram leher Kania.
“Jika berani, buang senjatamu dan lawan aku,” tantang Kania.
“Aku bukan pengecut yang berani pada perempuan,” ujar Lukas semakin mencengkram leher Kania.
“Lepaskan dia,” teriak Elvan yang sudah berbaring di jalan dengan kepala ditahan oleh salah satu kaki orang-orang Lukas.
“Menyerang dengan lawan tidak seimbang sudah membuktikan kamu pengecut,” pekik Kania lalu menendang tulang kering Lukas membuat cengkraman tangannya terlepas.
“Sepertinya kamu tidak bisa bisa dianggap remeh,” ujar Lukas. Kania menyerang dan ditahan oleh Lukas. Bergantian pukulan dan tendangan.
Elvan melihat Bimo sudah tidak berdaya dan khawatir dengan kondisi Kania. Bayu sudah meninggal karena melindunginya dan kini Kania pun sedang berjuang. Elvan berteriak lalu menghajar membabi buta karena emosi. Salah satu anak buah Lukas melepaskan tembakan.
Dor.
“Aaaaa,” jerit Elvan.
Kania lengah, Lukas berhasil membekuknya.
“Lepaskan aku, dasar gil4.”
Lukas sengaja menempelkan tubuhnya pada tubuh Kania, “Lain kali kita akan bermain lebih seru dari ini.” Pria itu menodongkan senjatanya kepada Kania lalu menjauh dan mengajak temannya untuk pergi.
“Elvan.” Kania menghampiri Elvan yang sudah tidak sadarkan diri, tubuh pria itu sudah bersimbah darah.
__ADS_1