
“Ini … sejak kapan Lukas mendekati Bintang?” Elvan masih memandang layar ponsel di mana menunjukkan kedekatan Bintang dengan Lukas.
“Dimulai dari kapan saya tidak tahu, dua hari ini supirnya merasa aneh karena Nona Bintang tidak ingin diikuti dan selalu berada di dalam area kampus sampai pulang. Biasanya dia minta keluar untuk makan atau sekedar pergi menunggu jadwal kuliah berikutnya. Hari ini saya minta yang lain untuk mengikuti, ternyata mereka bertemu.”
“Tidak mungkin Lukas tidak tahu Bintang adikku,” seru Elvan sambil menyerahkan ponsel milik Bimo.
“Bisa jadi karena Bintang adalah putri tuan Yuda maka dia ….”
“Nah, itu maksudku. Entah ada hubungan apa dengan Papa dan pria bernama Damar sampai jadi begini. Bahkan Papa sendiri tidak bisa menemui pria itu.”
“Perketat pengawasan Bintang dan Kania, aku tidak tahu apa rencana mereka,” titah Elvan. “Besok jangan izinkan dia kemanapun, aku yang akan mengatakan pada Mami.”
“Siap, Tuan.”
Elvan pun beranjak, sambil menyentuh dahinya yang terasa pening. Memastikan pintu kamarnya sudah terkunci dan ….
“Yah, sudah tidur,” keluh Elvan melihat Kania yang sudah bergelung selimut.
Pria itu pun ikut beranjak naik ke ranjang dan berbaring di samping istrinya, berada di bawah selimut yang sama dan memandang wajah teduh Kania yang sudah terbuai mimpi. Memberikan kecup4n pelan pada bibir yang sejak tadi menggoda untuk dinikmati.
“Maaf kalau awal kehadiranmu di rumah ini ternyata cukup menyiksamu, pelan-pelan aku akan gantikan dengan kenyamanan.” Elvan memejamkan matanya dan berbaring miring memeluk Kania.
...***...
Terdengar bunyi alarm ponsel, Kania perlahan mengerjapkan matanya. Belum sepenuhnya sadar dan merasakan tangan yang mengalung di tubuhnya.
Sreg.
Brak.
“Aduhh, Kania ….” Pekik Elvan.
“Hahh, kenapa?”
“Kenapa kamu tendang aku,” keluh Elvan yang masih mengaduh karena terjatuh ke lantai.
Kania panik langsung turun dan membantu Elvan beranjak kembali ke ranjang. “Maaf, aku kaget ada tangan di pinggangku jadi langsung aku tendang.”
Elvan masih mengusap bagian tubuhnya yang nyeri, sambil menatap istrinya.
“Bagaimana kalau semalam aku melucuti pakaianmu, bisa-bisa milikku sudah terlepas dari tempatnya. Sejak kapan sih kamu bisa bela diri?”
“Dari kecil, Ayah yang ajarkan. Saat dewasa aku pasti butuh untuk melindungi diriku dari orang jahat,” sahut Kania. “Masih sakit?”
“Hm.”
__ADS_1
“Aku harus apa?”
“Tanggung jawab.”
Kania mengernyitkan dahinya.
“Tanggung jawab, bagaimana? Apa aku harus jatuh juga?”
“Ck, ya hibur aku. Sembuhkan rasa sakitnya, atau apa sajalah.”
Kania menggaruk kepalanya yang tidak gatal, makin tidak mengerti dengan apa yang diminta Elvan.
“Aku nggak ….”
“Nih, usap di sini.” Elvan sudah berbaring memunggungi Kania dan diminta mengusap punggungnya.
“Tapi yang sakit ‘kan ini,” tunjuk Kania pada bo kong Elvan.
“Sudah jangan banyak tanya. Ini weekend, seharusnya aku bangun lebih siang kamu malah berikan kejutan luar biasa. Lagi pula untuk apa hidupkan alarm di hari libur?”
“Itu aku setting waktu masih tidur di sofa, aku berusaha bangun sebelum kamu bangun. Takutnya kamu akan lakukan hal aneh untuk bangunkan aku,” tutur Kania sambil mengusap punggung Elvan.
Tiba-tiba Elvan berbalik dan beranjak duduk menatap Kania yang heran karena tadi mengeluh sakit kini bergerak secepat kilat.
Kania menganggukkan kepalanya. Elvan menangkup wajah istrinya.
“Maaf, maaf ku pasti tidak akan cukup tapi izinkan aku menebus semua kesalahanku,” seru Elvan.
“Boleh aku lanjutkan yang semalam gagal?” tanya Elvan yang langsung memajukan wajahnya. Keduanya sudah sangat dekat dan terdengar ketukan pintu.
Elvan lagi-lagi mengumpat, Kania hanya terkekeh.
“Jangan tertawa, aku akan buat kamu tidak bisa tertawa nanti,” ancam Elvan yang sudah beranjak dari ranjang menuju pintu.
“Apa lagi?”
“Apa lagi?” Nella mendorong pintu kamar Elvan dan langsung masuk.
“Mih, jangan seenaknya begitu dong.”
“Mami mau bertemu Kania. Eh, sayang … antar Mami ke butik ya siang ini,” ajak Nella.
Belum sempat Kania menjawab, Elvan sudah merangkul bahu Nella dan mengajaknya keluar.
“Itu bisa dibicarakan nanti, mami kenapa ganggu kami sih?”
__ADS_1
“Nanti dulu, kamu cepat mandi. Papa tunggu di bawah, ada perlu sama kamu. Cepat!”
“Arrrggg.”
...***...
“Bagaimana aku keluar ya?” gumam Bintang. Hari sudah menjelang malam, tapi dia belum mendapatkan ide untuk izin keluar yang sudah pasti tidak akan mendapatkan izin.
Bintang berada di balkon kamarnya dengan ponsel di tangan. Sejak tadi pesan dan panggilan Lukas belum dia respon karena dia sendiri masih berada di rumah. Menoleh ke bawah dan menemukan mobil laundry yang selalu datang tiga hari sekali membawa jenis cucian yang sulit.
“Ah, aku ada ide.”
Bintang bergegas memasukan dress dan kebutuhannya ke dalam paper bag. Dia sendiri sudah mengenakan piyama, berjalan keluar kamar dan perlahan menuruni anak tangga. Sampai saat ini usahanya aman, tapi saat akan menyelinap ke dalam mobil ada salah satu pelayan yang sedang memasukan karpet dan bed cover.
“Hei, kamu dipanggil Pak Lim,” ujar Bintang.
Pelayan itu mengangguk lalu meninggalkan Bintang. Memastikan tidak ada orang lagi, Bintang segera masuk ke dalam mobil. Bersembunyi di balik tumpukan cucian milik keluarganya. Jantungnya berdetak tidak karuan saat mobil diperiksa ketika akan melewati gerbang kediaman rumah itu.
“Hahh,” Bintang menghela pelan saat mobil berhasil keluar. Memastikan dia sudah jauh dari rumah, mobil pun dihentikan. Sang supir tentu saja terkejut karena kedapatan ada seseorang di mobilnya.
“Tidak usah khawatir, aku bukan pencuri. Hanya ikut menumpang,” tutur Bintang bahkan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan diberikan pada supir.
Bintang menghubungi Lukas agar menjemput di tempatnya saat ini.
“Kamu bercanda? Kita mau ke kelab tapi kamu pakai piyama,” ejek Lukas. Bintang mengerucutkan bibirnya, dia mengangkat paper bag yang dibawa.
“Aku ganti pakaian di mobilmu, kamu jangan mengintip dan tetap di sini.”
Lukas hanya mengedikkan bahu. Dia menunggu di luar mobil sambil menyulut rokoknya.
“Tuan Yuda, ternyata putrimu nakal juga.”
Beruntung kaca mobil Lukas tidak terlihat dari luar jadi Bintang aman mengganti kostumnya di dalam. Bahkan sempat memoles wajahnya dan menonaktifkan ponsel agar tidak ada gangguan dari Mami atau orang-orang yang biasa mengawasinya.
“Hei, apa kamu ingin terus merokok atau kita bisa berangkat sekarang?” tanya Bintang dari jendela mobil yang sudah diturunkan.
Lukas tersenyum, melihat wajah Bintang yang terlihat semakin cantik. Gadis itu benar-benar mempersiapkan penampilannya. Segera dia melempar puntung rokok lalu menginjaknya dan masuk ke dalam mobil.
“Sudah siap bersenang-senang?” tanya Lukas.
“Siap, dong.”
Lukas kembali melajukan mobilnya, sesekali mereka bercanda bahkan Bintang tertawa lepas tanpa tahu ada rencana tidak baik yang sudah terencana.
__ADS_1