
“Loh, kenapa dilepas?” tanya Elvan karena Kania melepaskan pelukan tangannya ketika mereka sudah menjauh dari Alexa.
“Awas aja kalau ketahuan kamu bertemu Alexa dengan sengaja, aku sendiri yang akan kasih pelajaran sama kamu. Tinggal minta jurus kaki atau tangan, setelah itu aku akan ikut Daddy ke luar negeri dan tinggal di sana. Kamu nggak akan pernah bisa bertemu dengan anak kita,” ancam Kania.
Glek.
Elvan menelan salivanya, tidak percaya kalau istrinya bisa memberi ancaman sekeras itu dan berhasil membuatnya takut kehilangan.
“Nggak ada sayang, serius aku hanya untuk kamu,” sahut Elvan lalu meraih tangan Kania dan menautkan jemari mereka.
Saat tiba di poli kandungan, praktek sudah dimulai dan sudah ada beberapa Ibu hamil yang sedang menunggu antrian. Kania duduk bersama Elvan saat pasangan yang begitu mereka kenal keluar dari pintu.
“Kak Nia,” panggil Bintang yang bahunya dalam rangkulan tangan Lukas.
“Sudah diperiksa?” tanya Kania.
Bintang menganggukkan kepalanya.
“Apa jenis kelaminnya?” tanya Kania.
“Jagoan dong,” jawab Lukas dengan bangga sambil mengusap pelan perut buncit Bintang.
“Langsung pulang ya, aku ngantuk,” ajak Bintang.
“Awas jangan macem-macem,” ujar Elvan pada Lukas.
“Kamu kenapa sih sama Kak Elvan musuhan aja?” tanya Bintang yang sudah berada di ruang tunggu farmasi menunggu vitamin sesuai resep dokter.
“Aku nggak musuhan, kakak kamu itu yang nggak senang kamu bahagia dengan aku. Siapa juga yang mau sakiti kamu,” gumam Lukas.
Hormon kehamilan membuat Bintang mudah kantuk, seperti saat ini dia bersandar di dada Lukas dan perlahan kedua matanya terpejam.
__ADS_1
“Sayang, jangan tidur. Nanti malah kaget pas aku bangun,” ujar Lukas yang membuat Bintang menegakkan duduknya lalu menguap.
“Kamu hari ini nggak pergi ‘kan?”
“Spesial hari ini untuk kamu,” sahut Lukas.
Kembali ke poli kandungan, akhirnya giliran Kania dipanggil lalu keduanya masuk ke dalam ruang praktek.
“Langsung ke brankar ya bu, kita USG.”
Kania pun menaiki brankar dibantu Elvan dan berbaring, perawat menyingkap sedikit dress yang dikenakan Kania untuk dokter melakukan pemeriksaan. Dokter tersebut menggerakkan alat di bawah perut Kania dan hasilnya tertera di layar.
“Ketuban dan tali pusatnya bagus ya, termasuk juga ketubannya. Berat dan besar bayi sesuai dengan umur kehamilannya. Sehat semua Pak, yang penting dijaga terus kesehatannya,” tutur dokter.
“Jenis kelaminnya sudah terlihat?”
Dokter mengarahkan lagi alatnya, “Hm, ini sudah terlihat. Sepertinya … perempuan ya. Nanti bulan depan kita cek lagi untuk memastikan,” ungkap Ibu dokter.
Elvan mendengarkan penjelasan dokter mengenai kesehatan ibu dan bayi dalam kandungan, bahkan sesekali pria itu bertanya bukan hanya soal kehamilan termasuk juga keamanan kalau dia menyentuh Kania yang membuat wajah istrinya merona karena malu dengan pertanyaan Elvan.
“Kamu ngapain sih tanya yang begitu?” tanya Kania saat mereka sudah berjalan di koridor menuju parkiran. Vitamin yang direkomendasikan dokter oleh Elvan akan ditebus di luar rumah sakit karena mereka harus segera pergi.
“Ini penting sayang, aku harus pastikan kalau kita boleh ….” Elvan tidak melanjutkan ucapannya hanya mengerlingkan matanya.
Elvan bukan membawa Kania pulang ke rumahnya atau ke rumah Damar tapi mobil yang mengantar mereka memasuki area sebuah hotel.
“Ngapain ke sini, aku mau makan.”
“Kita makan di restoran di hotel ini,” sahut Elvan yang sudah merencanakan sesuatu. Saat keduanya sedang menikmati makan siang, Abil mengurus pemesanan kamar dan menyerahkan kunci akses pada Elvan.
Kania tidak menyadari dan terkejut ketika mereka selesai makan, Elvan malah menuju ke salah satu lift bukan pergi ke luar.
__ADS_1
“Kita mau ke mana?” tanya Kania bahkan kedua bodyguard mereka menunggu di lobby.
“Istirahat,” jawab Elvan sambil memeluk pinggang Kania dan mendaratkan bibirnya di pipi Kania.
“Istirahat ya di rumah, ngapain di sini?”
“Aku perlu privacy. Di rumah Daddy kamu ada Lukas yang selalu ada saja idenya untuk mengganggu kita,” tutur Elvan.
“Kok kamu mesum sih?”
Elvan hanya terkekeh mendengar sebutan untuk dirinya dari Kania. Mereka sudah berada di sebuah pintu kamar dan Elvan menempelkan kartu akses lalu pintu pun terbuka.
...***...
Kania terjaga dan menyadari masih berada di bawah selimut dan berada di kamar hotel lalu membangunkan Elvan.
“Kenapa? Sudah lapar ya?” tanya Elvan.
“Ini jam berapa?” tanya Kania. “Kita nggak pulang?”
“Kita pulang besok pagi aja ya,” sahut Elvan lalu menghubungi salah satu bodyguard yang masih menunggu di lobby untuk mengantarkan tas yang ada di mobil.
“Kamu sudah persiapkan semua dengan baik ya,” cetus Kania yang beranjak turun dari ranjang hendak membersihkan diri.
Tidak berbeda dengan Elvan dan Kania, Lukas dan Bintang pun sempat berbagi peluh dan saat ini keduanya sedang duduk di balkon kamar Bintang.
“Masuk yuk, angin malam nggak baik untuk kamu,” ajak Lukas yang sudah berdiri di depan Bintang.
“Gendong,” pinta Bintang dengan manja.
Lukas pun menunduk meraih tubuh istrinya dan menggendong ala bridal.
__ADS_1
“Berat kamu nambah ya kok lebih enteng,” ejek Lukas yang langsung mendapat cibiran dari Bintang.