(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Tanggung jawab


__ADS_3

“Lukas,” panggil Kania.


“Yups.”


Pria itu menghampiri putri dari majikannya. Siapa yang menduga kalau wanita yang pernah dia coba sakiti malah menjadi majikannya.


“Aku ingin bicara tentang … Bintang.”


Lukas mengusap kasar wajahnya.


“Aku menyesal,” pekik Lukas. “Tapi keluarga suami kamu tidak mengizinkan aku menemui Bintang.”


“Duduklah! Ada yang harus kamu tahu tapi aku harus tahu bagaimana perasaanmu terhadap Bintang.”


Lukas terkekeh, bagaimana bisa seorang wanita bisa membuatnya bungkam tapi demi Bintang dia pasrah dan mendengarkan Kania.


“Jujur, awalnya aku tidak tertarik dengan gadis itu. Aku lebih senang menjahilimu dan kalau kamu belum menikah dengan si pengecut Elvan, aku sudah mendapatkanmu.”


“Aku tersanjung tapi tidak tertarik,” sahut Kania. “Selama ini kamu hanya pura-pura menyukai Bintang?”


“Pada awalnya tapi makin lama dia makin menggemaskan. Bahkan waktu aku menjebaknya saat dia mabuk, aku lakukan dengan penuh perasaan. Baru kali itu aku bercinta dan menyesal. Dia sempat menjerit tapi … entahlah semua begitu cepat. Saat aku ingin kembali tempat itu sudah dikepung polisi.”


“Bagaimana dengan tanggung jawab?”


“Tentu saja aku ingin lakukan itu, tapi keluargamu malah mememukuli aku dan menutup akses bertemu dengan Bintang."


Kania menghela nafasnya, dia akan mengatakan kondisi Bintang pada Lukas.


“Bintang saat ini sedang hamil, hamil anakmu.”


“Lalu masalahnya … apa? Hamil, Bintang hamil?"


“Hm.”  


Lukas terdiam, masih mencoba memahami dengan benar apa yang diucapkan oleh Kania mengenai kondisi Bintang.


“Berusahalah untuk menemui Bintang dan jelaskan permasalahan kalian termasuk niatmu bertanggung jawab.”


...***...


Elvan masih belum menemukan Kania. Pria itu hanya tahu toko bunga dan rumah kost tempat dulu Kania tinggal.


“Apa dia ke rumah orangtua Bayu,” gumam Elvan.


Mobil Elvan sudah memasuki komplek tempat tinggal orang tua Bayu. Berhenti tepat di depan pagar rumah yang terdapat plank informasi, DIJUAL.


“Aku harus cari ke mana lagi?”


Elvan menyadari dia tidak begitu mengenal Kania, terbukti kalau dia tidak mengenal teman-teman Kania termasuk juga apa yang disukai oleh wanita yang saat ini masih berstatus sebagai istrinya.


“Tuan Elvan, kita akan ke mana lagi?” tanya sopir dan pengawal pria itu.


Belum sempat menjawab, ponsel Elvan berdering. Javis, Ayah dari Alexa yang menghubungi. Bukan tanpa alasan, karena sejak tadi pagi Elvan tidak merespon panggilan dan pesan dari Alexa.

__ADS_1


Entah apa yang dilakukan wanita itu untuk membuat Elvan mendatanginya, yang jelas saat ini Elvan harus menemukan Kania.


“Pulang, aku harus mencari petunjuk ke mana Kania pergi.”


Kania, ada apa denganmu, batin Elvan.


Dalam perjalanan pulang, Elvan mencoba menghubungi Kania tapi nihil kontaknya tidak aktif.


“Apa dia cemburu karena aku menemui Alexa? Jika dia cemburu, artinya ….”


Elvan memijat dahinya, dia sendiri masih bingung antara perasaan dengan Kania dan Alexa walaupun sudah berusaha melepaskan Alexa dan menerima Kania.


“Tuan Elvan,” panggil Bimo saat Elvan keluar dari mobil.


“Hm.”


Keduanya berjalan berdampingan, Bimo menyampaikan kalau Damar ingin bertemu dengan Yuda.


“Apa Papa setuju?”


“Tentu saja, Tuan Yuda ingin permasalahan mereka selesai dan berakhir.”


Elvan menghentikan langkahnya, memikirkan apa tujuan dari pertemuan tersebut karena Damar memang menyimpan dendam untuk keluarga Hadi Putra.


“Kapan?”


“Belum ada kabar, baru menyampaikan saja," ungkap Bimo.


“Pastikan keamanan Papa saat bertemu dengan pria itu, apalagi Lukas.”


“Apa?”


Elvan menarik nafasnya, urusan Kania, Alexa bahkan kini Bintang dan Lukas belum lagi masalah Damar dan Papa nya.


“Jangan pernah pertemukan mereka, pastikan keamanan Bintang. Jangan sampai kecolongan lagi seperti saat itui” titah Elvan.


Elvan melepaskan pakaian yang masih melekat di tubuhnya, lalu menuju toilet untuk membersihkan diri. Dirinya butuh guyuran air hangat untuk membuat tubuhnya kembali nyaman.


Masih mengenakan bathrobe saat Elvan membuka ponselnya yang sejak tadi kembali bergetar. Lagi-lagi tentang Alexa.


[Elvan, tolong temui Alexa. Dia menolak obat dan makanan kalau kamu tidak menemuinya]


[Dia tidak suka kalau panggilannya diabaikan]


Elvan mendengus kesal.


“Kenapa kalian semakin terlihat kompak untuk menjebakku,” gumam Elvan yang kembali mengabaikan komunikasi Javis juga Alexa.


Elvan mengecek barang-barang Kania, berharap dia menemukan sesuatu. Mulai dari jadwal privatenya sampai dengan buku harian  yang memang masih ada di kamar. dalam buku tersebut tidak dijelaskan kedekatan atau pembicaraan dengan pria lain, baik teman atau pacar.


Elvan membuka laci nakas di mana kartu debit dan kredit yang diberikan Elvan tapi ditinggalkan oleh Kania. Elvan membuka laci lainnya, ada amplop dengan logo sebuah rumah sakit termasuk juga nama Kania di sana.


Pria itu terkejut karena dalam amplop ada foto hasil USG juga surat keterangan yang menyatakan kalau Kania dalam keadaan positif hamil.

__ADS_1


“Ha-mil. Kania, hamil.”


Elvan memperhatikan kembali surat di mana identitasnya adalah benar milik Kania juga foto USG dengan nama Kania sebagai pasien.


“Kenapa dia tidak bilang kalau dia hamil, malah memilih pergi.”


Sedangkan di kamar berbeda, tepatnya di kamar Bintang. wanita itu merasakan tidak nyaman, keluhan yang dirasakan oleh Ibu hamil di trimester pertama.


“Ya Tuhan, aku hanya ingin tidur,” keluh Bintang.


Tok tok


Terdengar ketukan pintu balkon. Bintang memastikan kalau suara itu berasal dari balkon. Segera mengganti lampu tidur dengan lampu yang terang, lalu wanita itu berjalan pelan menuju balkon.


Tok tok


“Siapa?”


Hening dan Bintang semakin takut. Dia tidak takut dengan orang jahat atau berniat jahat, karena di kediamannya ada yang bertugas menjaga keamanan.


“Siapa di sana? Aku bisa panggilkan yang lain,” ungkap Bintang.


Bintang membuka tirai pintu balkon dan tidak ada siapapun di luar.


“Aneh,” gumam Bintang. tangannya sudah memegang handle pintu, membuka kuncinya dan ….


“Bintang.”


“Ahhh.” Lukas bergegas menutup mulut Bintang dengan tangannya. Bahkan pria itu mendorong pelan agar Bintang masuk kembali ke kamar.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Bintang dengan wajah penuh amarah.


“Menemuimu,” sahut Lukas. “Kita harus bicara dan aku tidak akan senekat ini kalau kamu memenuhi perintahku.”


“Pergi!” titah Bintang sambil menunjuk pintu kamar. “Aku teriak mereka akan datang. Sebaiknya kamu segera pergi.”


“Hei tenanglah,” sahut Lukas sambil menangkup wajah Bintang.


“Bagaimana bisa aku tenang, jika pria brengsekk yang sudah menjebakku berani menghabiskan malam dengan wanita lain.”


“Bintang, duduklah. Aku akan ceritakan kejadian detailnya,” tutur Lukas.


“Tenang? Kamu minta aku tenang, sedangkan hidupku sudah tidak bisa tenang setelah kejadian itu. Kamu menyentuhku dan mengabadikan momen itu lalu kamu up di internet. Apa aku harus tetap tenang menghadapi ini?”


Lukas terdiam, jika diingat kembali apa yang sudah dilakukan memang tidak bisa dimaafkan. Wajar jika wanita di hadapannya ini hampir bunuh diri dan depresi.


“Aku akui kalau aku sengaja menjebakmu tapi tidak begitu rencananya. Semua berantakan dan aku menyesal Bintang. Aku … siap bertanggung jawab.”


“Kamu ingin bertanggung jawab?” tanya Bintang.


“Ya tentu saja.”


“Pergi dari sini dan jangan pernah muncul di depanku.”

__ADS_1


 


__ADS_2