
Lukas mengulurkan tangan kepada Kania seakan mengajaknya berjabat tangan, Kania pun menjabat tangan itu. Karena bukan sesuatu hal yang buruk hanya berjabat tangan. Lagi-lagi ada yang mengabadikan momen tersebut yang tidak diketahui oleh Kania.
“Mbak Kania,” ujar Abil mengingatkan agar tidak berinteraksi dengan orang lain demi keselamatannya.
Kania pun minggir, tapi Lukas masih saja mengejarnya dan mengajaknya bicara.
“Bang, ini karangan bunga sudah jadi. Katanya segera dan mendesak,” ujar Adam.
Lukas tidak ada alasan selain pergi membawa pesanannya yang hanya sebuah alibi untuk mendekati Kania. Ada rencana dia untuk memenuhi perintah dari Damar.
Setelah Lukas pergi dan membawa pesanannya, Adam menghampiri Kania yang kembali akan melanjutkan tugasnya membuat buket.
“Lo kenal dia di mana?” tanya Adam.
“Barusan, di depan kamu.”
“Perasaan gue nggak enak sama tuh orang,” ujar Adam dengan nada kekhawatiran.
Kania terkekeh mendengar ucapan Adam. “Memang kamu punya perasaan? Kayak perempuan aja,” ejeknya.
Sore harinya, Kania bersiap untuk pulang. Dia tidak ingin mengulang kesalahan kemarin dengan pulang terlambat. Tanpa diduga ada Elvan datang menjemputnya.
“Mbak Kania, sudah dijemput oleh Tuan Elvan,” ujar Abil.
“Hah. Kamu nggak salah?”
“Betul Mbak, silahkan cek aja di luar.”
Adam yang mendengar hal itu pun ikut keluar toko karena penasaran dengan sosok suami dari Kania. Elvan ditemani seorang bodyguard menatap sekeliling toko menunggu Kania tidak menyadari kehadiran istrinya juga Adam.
“Gila, ganteng juga laki lo!” pekik Adam membuat Elvan menoleh.
“Sudah selesai? Ayo kita pulang, ada acara yang harus kita hadiri,” ajak Elvan.
Kania dan Adam sempat saling tatap sebelum akhirnya Kania berpamitan dari Adam. Wanita itu masuk ke dalam mobil bersama Elvan sedangkan Abil mengawal dari belakang. Kehadiran Elvan membuat para karyawan lainya terkejut, tidak menduga kalau Kania sudah menikah dan suamiya sangat tampan juga bukan orang sembarangan.
Dalam perjalanan, Kania tidak ingin bertanya kemana mereka akan menuju yang ternyata langsung pulang ke rumah.
“Ini sih arah pulang,” gumam Kania yang ternyata didengar oleh Elvan.
“Kamu pikir aku akan mengajakmu ke mana? aku hanya memastikan kamu tidak seperti kemarin, dipikir aku banyak waktu untuk menjemputmu ke sana kemari,” sahut Elvan.
__ADS_1
Kania bergeming, dia malas menjawab ucapan Elvan.
“Ah, sayang. Kamu sudah datang,” ujar Nela ketika Elvan dan Kania tiba. “Mami may kenalkan kamu dengan teman Mamu, kamu akan belajar kepribadian dan tata kecantikan dengan dia.”
Kania pun tidak bisa menolak lalu mengikuti ibu mertuanya menemui orang yang dimaksud.
“Mau diapakan juga kalau memang aslinya begitu ya begitu aja,” gumam Elvan.
Sudah seminggu berlalu, waktu Kania menghabiskan waktu di toko bunga semakin sempit. Setiap sore, Elvan akan mampir untuk menjemput Kania. Masih dengan alasan yang sama, tidak ingin wanita itu terlambat sampai rumah.
Tepat saat Kania sudah bersiap pulang, Adam Flower kedatangan Lukas dan memesan banyak buket bunga yang dibutuhkan sekarang juga. Adam tidak menyanggupi karena tokonya sudah akan tutup, kebetulan Kania keluar karena Mobil Elvan sudah tiba.
“Ahhh, Nona Kania,” selu Lukas. “Apa kabarmu?” tanya Lukas. Kania bahkan belum sempat menjawab, saat Lukas kembali bicara. “Bukankah dia salah seorang karyawan yang diandalkan, biar dia selesaikan pesananku,” titah Lukas menghalangi langkah Kania.
“Maaf Mas, saya harus pergi.”
Namun, Lukas tidak beranjak bahkan membujuk Kania mau menyelesaikan pesanannya.
“Maaf Bang, kita mau tutup. Kalau mau pesanannya diambil besok,” ujar Adam karena tidak nyaman melihat Kania yang terganggu oleh Lukas.
“Ayolah, buket-buket itu penting sekali,” bujuk Lukas yang sebenarnya hanya alasan untuk mencari keributan.
“Maaf Mas, bisa minggir dulu,” titah Abil karena Lukas terus menghalangi Kania yang ingin lewat.
Elvan yang menunggu di mobil akhirnya turun karena terlalu lama Kania tidak muncul dan ternyata menyaksikan apa yang terjadi.
“Kania,” panggil Elvan dengan nada suara tidak biasa.
Semua menoleh ke arah suara, Kania hanya menghela nafasnya pelan karena merasa dirinya akan ada dalam masalah.
“Sudah selesai? Ayo pulang,” ajak Elvan.
“Hei tunggu kita belum selesai,” ujar Lukas. Abil pun menahan Lukas yang menghalangi Kania.
Kania bergegas menghampiri Elvan dan langsung masuk ke dalam mobil.
“Kita bertemu lain kali, cantik,” pekik Lukas saat mobil yang membawa Kania dan Elvan mulai melaju.
Elvan menoleh pada Kania yang berada di sampingnya sedangkan Kania mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.
“Apa seperti itu, kegiatanmu di luar?” tanya Elvan.
__ADS_1
Kania pun menoleh, “Seperti itu bagaimana?” tanyanya balik.
“Berinteraksi dengan pria lain. Aku sudah mengingatkanmu, hal ini bisa jadi pemberitaan.”
“Kamu tadi melihat sendiri bagaimana kondisinya, pria itu yang menghalangi aku bukan ….”
“Mungkin saja dia begitu karena pernah kamu respon,” tuduh Elvan yang sedang menatap ke depan.
Kania hanya menghela nafasnya, percuma pula dia menjelaskan pada Elvan. pasti ada saja hal yang terus pria itu ucapkan untuk menyudutkannya.
“Kenapa diam? Tidak bisa mengelak?” Elvan lagi-lagi mencecar Kania.
Wanita itu tetap bungkam untuk menahan emosi karena Elvan cukup menguji kesabarannya. Bagaimana tidak, Kania rasanya ingin memberikan tendangan atau bahan pukulan pada Elvan setiap pria itu menghina atau menyinggungnya.
Bahkan sampai kamar pun, Kania mengabaikan Elvan yang masih mencecarnya. Elvan tidak terima dan menarik kedua tangan Kania membuat tubuh keduanya sanga dekat. Tatapan tajam dari pasangan itu membuat suasana kamar seperti beraura negatif.
“Lepaskan tanganku,” ujar Kania yang menatap Elvan agak menengadah karena tubuh Elvan yang lebih tinggi darinya.
“Kenapa? Kamu menunggu aku melakukan hal lain? In your dream,” ujar Elvan lalu melepaskan tangan Kania.
Sabar Kania. Ingat, ilmu bela diri hanya boleh digunakan saat-saat darurat tapi menghajar pria itu termasuk tindakan darurat, batin Kania
...***...
“Hei, bangun!” Elvan masih dengan nada biasa membangunkan Kania yang berbaring di sofa.
Gadis itu masih asyik terbuai mimpi dan mengabaikan suara Elvan.
“Hei, bangun pemalas.” Elvan sudah mengeluarkan nada yang tidak enak di dengar telinga bahkan sambil menendang sofa yang ditempati oleh Kania.
Gadis itu mengerjap pelan sambil meregangkan tubuhnya yang tidak nyaman berbaring di sofa sejak mereka menikah.
“Bangun dan lihat hasil dari ulahmu,” pekik Elvan sambil melemparkan tablet ke atas sofa tidak jauh dari Kania.
Mendengar pernyataan Elvan yang cukup membingungkan, Kania pun beranjak duduk dan mengambil tablet dan membaca apa yang terpampang di layar. Artikel mengenai Kania dan seorang pria, Lukas.
“Ini … bukan seperti ini kejadiannya,” ujar Kania mencoba menjelaskan pada Elvan.
“Aku sudah bilang agar kamu menjaga harga diri dan nama keluarga ini. Karena ulahmu, keluarga ini jadi bahan olok-olok. Atau memang kamu seperti dalam pemberitaan. Murahan!”
__ADS_1