(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Sudah Gila


__ADS_3

Sore itu Elvan sudah tiba di rumah.


“Sayang, ini obat yang harus diminum suamimu.” Nella menyerahkan kantung berisi beberapa jenis obat.  “Jangan aktivitas berat dulu, Mami mau temui Papa kalian. Elvan yang di depan mata saya bisa terluka, Mami khawatir dengan Bintang. Sepertinya dia harus pindah lagi ke Jakarta,” tutur Nella.


“Bintang?” gumam Kania setelah wanita itu meninggalkan kamar Elvan.


“Bintang itu adikku, putri Mami. Dia sedang kuliah di LA.”


“Owh.”


“Tuan Elvan, Nona Kania, ini buah dan air minum. Apa ada lagi yang dibutuhkan?” tanya Pak Lim yang datang bersama seorang pelayan.


Kania menoleh ke arah Elvan, seakan bertanya. Apa lagi yang kamu butuhkan, tuan manja.


“Cukup, aku hanya ingin berbaring. Ranjang rumah sakit sungguh tidak nyaman.”


Pak Lim dan pelayan pun keluar dari kamar, Kania menyimpan obat-obatan Elvan di salah satu laci nakas.


“Kania, kamu yakin tidak ada luka atau ….”


“Tidak ada,” sela Kania.


“Tapi aku lihat sendiri kamu dan Lukas saling pukul dan ….”


Kania terkekeh. “Sepertinya aku mendengar ada nada kekhawatiran.”


Elvan berdehem untuk menghilangkan canggung karena pernyataan Kania.


“Tidak usah khawatir, tidak ada luka berarti hanya lebam biasa.”


“Lebam biasa, bagaimana?” Elvan sudah beranjak duduk. “Apa kamu yakin itu bukan luka dalam dan cedera.”


“Yakin, atau kamu ingin melihatnya sendiri.” Kania menggoda Elvan yang langsung membuat pria itu membelalakan matanya melihat Kania akan membuka bajunya.


“Kania, apa ….”

__ADS_1


Kania terkekeh. “Aku hanya bercanda.”


Setelah makan malam dan meminum obatnya, Elvan tertidur. Mungkin saja pengaruh obat yang dia minum. Kania sedang memperbaiki letak selimut Elvan saat ponsel pria itu bergetar.


My love, Alexa, nama yang tertera di layar. Kania memindahkan ponsel ke atas nakas, khawatir membuat Elvan terbangun bukan sengaja menghindarkan Elvan berkomunikasi dengan kekasihnya.


...***...


“Sayang, kamu bisa temani Elvan kontrol lukanya ‘kan?” Nella bertanya saat mereka sedang sarapan.


“Bisa, tante.”


“Mami mau jemput Bintang di bandara,” seru wanita itu lagi.


“Kalau kamu tidak bisa, aku bisa pergi sendiri,” ujar Elvan.


“Kania yang akan mengantarmu, Mami yang jemput Bintang. Itu sudah yang paling benar.”


Sudah hampir seminggu kepulangan Elvan dari rumah sakit dan hari ini adalah waktu untuk pria itu kontrol kesehatannya.


“Tiga hari lagi, perayaan ulang tahun perusahaan. Semoga saja Damar muncul, Papa perlu bicara dengannya,” tutur Yuda.


“Kita tidak akan lakukan hal itu. Papa tidak ingin akan memunculkan dendam baru di masa depan.”


Elvan dan Kania menuju rumah sakit setelah sarapan, tentu saja ditemani Abil dan dua orang pengawal.


Dokter memastikan kalau luka di tubuh Elvan sudah lebih baik dan sudah bisa menggerakan tangannya karena sebelumnya Elvan tidak maksimal menggerakan tangannya khawatir akan pengaruh terhadap luka.


“Lukanya sudah kering, dan tidak ada jaringan yang terindikasi infeksi. Ini resep baru, harus dihabiskan.” Kania menerima resep yang diserahkan oleh dokter.


“Biar aku urus ini dulu,” ujar Kania. Elvan menunggu tidak jauh dari ruang pemeriksaan. Saat kembali, sudah ada Alexa bersama Elvan.


“Ayo, kamu ikut harus ikut aku. kita berkencan, hukuman karena sudah mengabaikan teleponku akhir-akhir ini.” Alexa menarik tangan Elvan untuk ikut dengan wanita itu, dua pengawal Elvan mengekor langkah keduanya.


“Mbak Kania, kita ikut mereka atau gimana?” tanya Abil.

__ADS_1


“Tidak, kita tunggu di sini.”


Kania sengaja menunggu Elvan. Ingin tahu tanggung jawab dari pria yang sudah menjadi suaminya, apakah Elvan akan menghubungi untuk meminta Kania pulang atau menunggu. Sudah lebih dari satu jam menunggu, tidak ada Elvan menghubungi. Kania pun mengajak Abil pulang.


Saat tiba di rumah, Kania tidak melihat mobil Elvan bahkan dia dan Abil menggunakan taksi karena berangkat bersama Elvan.


“Mbak Kania mau kemana?” tanya Abil.


Kania menuju ruangan di mana para bodyguard berlatih bela diri. Gadis itu menyalurkan emosi dan kemarahannya lewat pukulan dan tendangan. Abil sempat kewalahan menahan kick target. Gadis itu terengah sambil membungkuk memegang kedua lututnya.


“Sudah, mbak. Sebaiknya mbak Kania kembali ke kamar.”


Kania pun meninggalkan sasana latihan dan menuju kamarnya. Keringat akibat latihan tadi membuat tubuhnya gerah dan lengket. Saat Kania keluar dari walk in closet setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dia dikejutkan dengan Elvan yang sudah berada di kamar.


“Dari mana saja kamu?” Elvan bertanya dengan raut wajah marah.


“Maksud kamu, aku yang dari mana?”


Elvan berjalan mendekati Kania bahkan saat ini mereka berhadapan.


“Kamu pikir ada manusia lain di sini, tentu saja aku bicara denganmu. Dari mana kamu, baru muncul.”


Kania membuang pandangannya ke arah lain, sungguh dia ingin melayangkan kepalan tangannya pada wajah Elvan yang saat ini terlihat menyebalkan.


“Apa tidak salah kamu bertanya seperti itu. Seharusnya aku yang bertanya kamu dari mana saja dengan wanita itu. Aku diminta menjaga nama baik keluargamu juga pernikahan ini, tapi kamu sendiri jelas-jelas pergi dan pelukan dengan wanita lain di tempat umum.”


Elvan mengernyitkan dahinya.


“Aku hanya makan siang dengan Alexa dan kami tidak pergi berdua.”


“Setidaknya kamu beri aku kabar. Hampir satu jam aku menunggu seperti orang bodoh dan konyolnya malah kamu yang marah. Aku pasti sudah gila, berada di rumah ini benar-benar membuatku gila.” Setelah mengoceh, Kania berjalan melewati Elvan.


Srek.


“Mau ke mana kamu, aku belum selesai bicara. Apa maksudmu rumah ini membuat gila?”

__ADS_1


Elvan menahan Kania dengan mencengkram salah satu tangan gadis itu.


 


__ADS_2