(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Nanti Malam


__ADS_3

Kania dan Elvan sudah berada di lobby perusahaan, keduanya menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, Elvan yang terlihat begitu rupawan dengan postur tubuh yang tinggi tegap membuat penampilannya mengarah pada sempurna. Tangannya menggenggam tangan Kania, istrinya.


Penampilan Kania tidak kalah menarik dengan suaminya. Walaupun tinggi tubuh Kania tidak mengimbangi Elvan tapi penampilannya sungguh mempesona.


“Jangan cepat-cepat,” bisik Kania. Elvan pun memperlambat langkahnya.


“Acara apa sih, kok aku harus ikut serta?”


“Tidak ada acara,” jawab Elvan yang sudah berada di dalam lift khusus dan hanya mereka berdua. Pengawal Elvan menyusul menggunakan lift lain dan tidak ingin mengganggu keduanya.


“Hahh. Terus aku ngapain ikut ke sini?”


“Biar kamu tahu apa yang aku kerjakan setiap harinya, lagi pula kamu pasti jenuh di rumah.”


Kania melepaskan genggaman tangan Elvan lalu memukul lengan pria itu.


“Auw, kamu … ini KDRT namanya.”


“Biarin, sana laporkan kalau aku memukulmu. Jadi orang nyebelin banget, aku pikir benar ada acara. Dari tadi tuh aku berpikir apa penampilanku ini pantas dan … ah sudahlah.”


Elvan malah merangkul pundak Kania. “Pantas dong, kamu pantas kok jadi istriku. Tidak ada cela,” ungkap Elvan. Membuat Kania mencebik dan masih memikirkan sikap dan perhatian Elvan saat ini.


Pintu lift terbuka, Elvan kembali meraih tangan istrinya. Berjalan di sepanjang koridor melewati meja bertuliskan sekretaris. Ada seorang wanita yang tampil cantik dengan gaya dan penampilan seorang sekretaris eksekutif, begitu elegan.


Wanita itu menyapa Elvan dan Kania dengan senyuman. Kania hanya membalas senyum sedangkan Elvan menjawab sapaan.


Kania menatap keliling ruang kerja Elvan lalu duduk di sofa.


“Lalu aku harus apa, duduk terus di sini?” tanya Kania.


Elvan yang sudah fokus pada layar komputer hanya berdeham.


“Tetaplah di situ, kadang aku butuh pemandangan indah di ruangan ini untuk jadi penyemangatku.”


“Halah, gombal.”

__ADS_1


Elvan terkekeh mendengar sahutan Kania. Terdengar ketukan pintu dan masuklah sekretaris Elvan diikuti seorang OB yang membawakan minum untuk atasan mereka. Sekretaris Elvan membacakan jadwal yang harus dilakukan oleh Elvan dan dijawab hanya dengan berdeham.


“Ada beberapa naskah yang harus di approve, sudah ada dalam email dan ada pengajuan di sistem yang harus mendapatkan koreksi dari Bapak.”


“Oke.”


Wanita itu pun pamit keluar. Kania memandang dua pintu yang ada di dalam ruang kerja suaminya. Salah satu pintu jelas pintu toilet tapi yang satu lagi …


“Itu pintu apa?”


Elvan menoleh ke arah yang ditunjuk Kania.


“Masuk saja,” titah Elvan yang kembali fokus pada layar komputernya. Kania pun beranjak menghampiri pintu yang berada tidak jauh dari Elvan berada.


Wanita itu sudah menggenggam handle pintu, tapi urung membukanya malah menoleh ke belakang.


“Jangan bilang ini conection ke ruang kerja Tuan Yuda?”


Elvan terkekeh, “Ruangan Papa di lantai berikutnya.”


“Ternyata ruang istirahat.” Kania melangkah masuk dan terkejut karena Elvan sudah berada di belakangnya dan menutup pintu.


“Kamu ….”


“Mau mencoba ruangan ini?”


“Mencoba gimana?” tanya Kania.


Elvan hanya tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


“Kamar ini kedap suara jadi kamu mau mendesah kencang seperti malam itu, tidak akan ada yang dengar.”


“Sepertinya otakmu mulai mesum,” sahut Kania dan berniat keluar dari ruangan. “Minggirlah!”


Elvan masih membelakangi pintu dan belum bergeser.

__ADS_1


“Kania.”


“Minggir,” pintanya lagi.


Elvan malah menarik tubuh Kania dan menghimpitnya ke dinding. “Aku sudah bilang, kita jalani pernikahan ini dari awal. Anggap saja kita sedang pacaran tapi halal, jadi jangan bersikap canggung begini yang hanya  … auw.” Elvan melonggarkan himpitan tubuhnya dan mengusap perut yang dicubit Kania.


“Kamu kok 'nyubit sih, sakit loh.”


“Masih bagus aku cubit, kalau aku tendang lato-lato kamu, gimana?”


“Ya kita nggak bisa enak-enak lagi dong.” Pernyataan Elvan membuat Kania menggelengkan kepalanya.


“Keluar, ini masih jam kerja. Mana bisa perusahaan mengandalkan pimpinan macam kamu yang nggak menghargai waktu,” ejek Kania.


Elvan mencubit bibir Kania. “Mulut kamu sekalinya bicara, menohok ke hati.”


“Nggak ingat dulu kamu kalau bicara sakitnya sampai ke otak,” balas Kania.


Elvan terkekeh. “Wajar dong, saat itu kita belum kenal dan ….”


“Sudah, aku nggak mau ingat yang kemarin-kemarin. Awas, aku mau keluar,” usir Kania.


“Oke, tapi nanti malam oke ya?”


“Apaan nanti malam?”


Elvan hanya tersenyum, lalu membuka pintu.


“Apaan nanti malam?” tanya Kania lagi.


Keduanya terdiam, terkejut saat keluar dari kamar rahasia Elvan sudah ada Yuda duduk di salah satu sofa. Kania dan Elvan saling tatap, sama-sama berpikir sudah berapa lama pria itu duduk di sana.


 \=\=\=\=\=\=


 

__ADS_1


__ADS_2