(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Kedatangan Lukas


__ADS_3

Kania beranjak pelan menurunkan kedua kakinya, berusaha agar selimut yang menutupi tubuh polosnya tidak terlepas saat dia mengambil piyama yang tergolek di lantai. Walaupun hanya ada dirinya dan Elvan di kamar itu tapi dia tetap memiliki rasa malu.


Tadi malam Elvan kembali mereguk surganya dengan meminta hak pada Kania. Pikiran kalut dengan masalah keluarga yang dihadapinya membuat Elvan membutuhkan healing salah satunya dengan beribadah malam bersama istrinya.


Kania bergegas memakai Piyamanya, tentu saja tanpa pakaian dalam yang entah di lempar Elvan ke mana. Bukan pertama kali disentuh tapi Kania masih merasakan ngilu di sana sini.


“Dasar suami pemaksa, sekarang dia masih enak tidur,” gumam Kania.


Kania berada di toilet membersihkan diri dari segala jejak percintaannya saat Elvan terjaga. Pria itu tersenyum, ternyata pernikahan yang dia jalani bersama Kania begitu membahagiakan. Bahkan menyentuh wanita itu teras bagai candu.


“Kenapa lama sekali,” gumam Elvan yang kemudian menuju toilet setelah memakai celana piyamanya.


Kania yang sudah selesai dengan rutinitas di kamar mandi, terkejut saat membuka pintu dan ada Elvan berdiri di sana.


“Kamu mengagetkanku,” pekik Kania. “Untung saja aku langsung mawas diri, hampir saja aku ingin menendangmu.”


Kania bergegas menuju ruang ganti, terlalu lama di bawah tatapan Elvan membuatnya bergidik ngeri. Khawatir jika pria itu menginginkan reka ulang adegan ranjang yang sudah beberapa kali mereka lakukan.  


Terdengar ketukan pintu, Kania bergegas menyelesaikan urusan berpakaiannya. Elvan sedang berada di kamar mandi dan yang mendengar ketukan pintu hanya dia.


“Sebentar,” ujar Kania sambil menghampiri pintu.


“Maaf Nona, Tuan Elvan dan nona sudah ditunggu di ruang kerja Tuan Yuda,” seru Pak Lim.


“Tapi … Elvan sedang di kamar mandi.”


“Baik Nona, yang jelas ditunggu segera kalau sudah selesai.”


Kania menganggukkan kepalanya. Dia pikir dipanggil untuk sarapan, ternyata Ayah mertuanya ingin bicara.


“Semoga saja tidak lama, perutku sudah sangat lapar,” lirih Kania saat dia menutup kembali pintu kamar.


“Siapa?” Elvan sudah berdiri tidak jauh dari posisi Kania dan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang.


“Pak Lim, Tuan Yuda sudah menunggu kita.”


“Aku berpakaian dulu.”


Kania dan Elvan bergabung bersama orangtuanya juga Bimo yang sudah berada di ruang kerja. Nella masih dengan isak tangisnya, sesekali dia menyusut air mata dengan tisu termasuk juga cairan dari hidung.

__ADS_1


“Ini jelas jebakan dan mereka sudah berani mengancam kita melalui Bintang,” ungkap Yuda.


“Orang yang dimaksud benar Lukas?” tanya Elvan.


“Entahlah, tapi  ancaman mereka sudah keterlaluan.”


Yuda menyerahkan tablet pada Elvan di mana layar tersebut menggambarkan portal berita online yang membahas kasus Bintang, walaupun tidak menyebutkan nama. Berita yang mengkhawatirkan lainnya adalah telah ramai video dan foto adegan ranjang yang dilakukan oleh Lukas dan Bintang. Walaupun nama lagi-lagi disamarkan, termasuk wajah Bintang yang diblur.


“Urus semua portal pemberitaan agar menghentikan aksinya,” titah Yuda. Nella kembali menangis bahkan kali ini sambil meraung. Kania berpindah duduk di samping Nella, membujuk wanita itu agar lebih tenang.


“Bagaimana bisa, putriku diperlakukan begini. Adegan itu seharusnya dilakukan setelah dia menikah dan tidak disebarluaskan begini,” teriak Nella.


“Kania, temani Mami mu. Elvan dan Papa akan agak sibuk mengurus hal ini. Baiknya berita ini jangan sampai didengar Bintang dia bisa ….”


“Berita apa?”


Semua menoleh ke arah pintu. Sudah ada Bintang berdiri di sana.


“Sayang,” panggil Nella lalu mendekati putrinya.


Bintang menatap tablet yang ada di hadapan Elvan lalu merampasnya. “Bintang, kembalikan,” titah Kania. “Kita kembali ke kamar,” ajak wanita itu.


Bintang menjauh, Kania dan Nella sudah mendekat. Yuda memijat dahinya, tidak tahu akan bagaimana kondisi BIntang mengetahui adegannya sudah ramai dilihat orang.


“Maaf,” ujar Bintang menyesali kebodohannya bahkan malah membuat semakin runyam. Kania mengambil tablet dari tangan Bintang, Nella langsung memeluknya.


“Tenang sayang, semua akan baik-baik saja. Papa dan Elvan akan mengurusnya, kamu harus harus fokus menjalani hidup.”


Nella dan Kania membawa Bintang ke kamarnya, sementara para pria sudah sibuk dengan urusan meredakan informasi, bahkan menemui beberapa pihak terkait.


...***...


“Bintang, ini sarapannya,” ujar Kania yang meletakan nampan berisi menu sarapan untuk adik iparnya. Bintang sudah tidak ada di ranjang, tapi pintu toilet terbuka. Kania pun menuju ruang ganti dan berteriak melihat tubuh Bintang yang tergantung dengan kaki baru saja menendang kursi.


“Bintang, apa yang kamu lakukan?” Kania menahan kaki Bintang agar lehernya tidak tercekik. Wanita itu berusaha gantung diri. Lima saja Kania terlambat mengetahui, nyawa Bintang sudah melayang.


“Tolong,” teriak Kania. Dia tidak mungkin melepaskan kaki Bintang.


“Lepas, lepaskan aku. Biarkan aku mati,” rengek Bintang.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Nella . “Bintanggg,” teriaknya kemudian terjatuh tidak sadarkan diri. Dua orang pelayan ikut masuk dan membantu Kania menurunkan tubuh Bintang.


Kania menggeram kesal, berniat segera menemui Damar. Kemungkinan hal ini adalah ulahnya. Bintang dijaga ketat termasuk di dalam kamar. Para pria masih berusaha menghapus dan membatalkan pemberitaan termasuk penyebaran video.


Sedangkan di tempat berbeda, Lukas sedang menghadap Damar.


“Ini di luar rencana, tidak ada pembahasan kalau video itu akan disebarluaskan,” teriak Lukas.


“Hei anak muda, kamu cukup jalankan perintahku. Tidak usah ikut campur dengan hal lainnya atau ....” Damar menjeda kalimatnya. “Kamu ternyata menyukai putri Yuda?” Damar kemudian terkekeh.


“Sebelumnya kamu tertarik dengan Kania sekarang beralih pada Bintang?”


“Meninggalkannya saja, aku sudah sangat menyesal dan sekarang videonya tersebar … ini benar-benar keterlaluan. Anda bilang hanya akan membahas video ini berdua dengan Yuda bukan dipamerkan kepada seluruh dunia,” pekik Lukas.


“Justru ini dilakukan agar dunia tahu kalau hidup Yuda hancur dan dia bisa saja terdepak ke jalanan.” Yuda berkata seolah tanpa beban dan dosa.


“Malam ini aku akan bertemu dengan Yuda, pastikan keamananku.”


Lukas meninggalkan kediaman Damar. Mengemudi dengan ugal-ugalan menuju kediaman Yuda. Dia harus bertemu dengan Bintang, menjelaskan situasi dan menyampaikan penyesalannya. Bahkan dia mau bertanggung jawab.


Sampai di gerbang, Lukas ditahan oleh para penjaga keamanan.


“Aku ingin bertemu dengan Bintang, sampaikan Lukas yang datang.”


Para penjaga keamanan saling tatap. Dia sudah mendengar nama dan foto orang-orang yang harus dihindarkan dari anggota keluarga dan rumah itu.


“Maaf, anda sebaiknya pergi atau kamu akan usir secara kasar.”


Lukas terkekeh.


“Biarkan aku bertemu Bintang dan aku tidak akan melawan kalian,” ujar Lukas.


“Pergilah, sebelum kami mengusir dengan kekerasan.”


Alih-alih pergi, Lukas malah berteriak.


“Bintang, aku di sini.”


Beberapa orang petugas keamanan dan bodyguard mengusir Lukas dengan kasar bahkan memukul pria itu.

__ADS_1


Bintang yang sedang terlelap setelah menangis karena ulah bunuh dirinya gagal, tiba-tiba mengerjap dan terjaga. Dia seakan mendengar seseorang memanggilnya.


Tidak, aku tidak boleh memikirkan dia. Dia yang sudah merusak hidupku, batin Bintang.


__ADS_2