
Kania sudah kembali berbaring di ranjang dengan wajah cemberut karena ulah Elvan yang menyebalkan. Tidak biasanya Elvan sepeduli itu padanya, malah membuat dia tidak nyaman. Elvan bahkan menyelimuti tubuh Kania sampai pinggang, khawatir kaki Kania kedinginan.
“Sebaiknya kamu pulang, aku tahu kamu sibuk. Tuan Yudha dan Tante Nella pasti masih sibuk mengurus Bintang jadi ….”
“Tidak, Bintang sudah aman. Sepertinya Papa akan menikahkan dia dengan Lukas.”
“Hah, yang benar?” tanya Kania antusias.
Elvan menatap Kania dengan melipat kedua tangan di dada bahkan menatap wajah istrinya yang terlihat bingung dengan sikap Elvan.
“Kenapa?” tanya Kania lagi.
“Sepertinya kamu peduli sekali dengan Lukas. Kamu tahu dia sempat jahat karena ….”
“Aku tahu dan itu semua terjadi karena hubungan Tuan Yuda dan Tuan Damar di masa lalu. Kita semua hanya korban,” ungkap Kania.
Elvan menghela nafasnya, sepertinya pria itu setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kania.
“Ya udah pulang sana,” usir Kania lagi karena keduanya hanya diam. “Kalau nggak keluar aja cari tuh Alexa, dia praktek di rumah sakit ini juga.”
Alih-alih menjawab ucapan Kania, Elvan memilih menaiki ranjang dan berbaring di samping Kania membuat wanita itu memekik.
“Diam, aku hanya ingin peluk.” Elvan berbaring miring dan memeluk Kania, untungnya jarum infus ada di tangan kiri. “Aku kangen, sudah lama ….”
“Kirain kangennya sama Alexa doang.”
“Sekali lagi kamu sebut nama itu, aku cium,” ancam Elvan. “Atau aku lucuti pakaian kamu sekalian.”
“Kamu benar Elvan?” tanya Kania.
“Kamu pikir ada berapa Elvan Hadi Putra?”
“Aneh aja, nggak biasanya tuan muda Hadi Putra otak dan ucapannya mesum.”
“Tergantung kebutuhan, kalau sekarang butuh kemesuman apalagi kamunya nggak peka dan nyindir aku terus.”
Perdebatan suami dan istri itu tidak berhenti sampai di situ, ada saja hal yang membuat Kania menyinggung Elvan. Tentu saja Elvan hanya bisa pasrah, karena yang dikemukakan Kania bisa saja sebuah rasa kecewa yang terpendam.
Keduanya bahkan tidur di ranjang pasien, sampai tidak menyadari kehadiran seseorang di pagi buta. Damar yang datang dari bandara langsung ke rumah sakit, mendapatkan pemandangan yang mengganggu tatapannya.
“Ehemm.”
Pasangan itu masih asyik terlelap dengan Elvan memeluk Kania bahkan salah satu kaki Elvan sudah berada di atas paha Kania.
“Ehemm.”
Kali ini Damar berdeham lebih keras, membuat Kania terjaga lalu mengerjapkan matanya. Menyadari kehadiran Damar bahkan saat ini sedan menatapnya, Kania segera membangunkan Elvan agar beranjak dari sisinya.
__ADS_1
“Sebentar, lima menit lagi. Aku masih kangen, kangen banget.”
“Elvan bangun,” gumam Kania. “Cepat, ada Tuan Damar.”
Elvan langsung membuka matanya dan berbalik untuk turun dari ranjang.
“Pagi, saya ….”
“Kalian sudah akur lagi?” Damar menatap Kania. “Kamu yakin dia tidak kembali dengan mantannya?” tanya Damar pada Kania sambil menunjuk Elvan dengan dagunya. Kania pun beranjak duduk dan menganggukkan kepalanya.
“Jangan anggap aku melunak karena kamu.” Damar menatap Elvan. “Tapi karena aku ingin yang terbaik untuk putriku. Setelah keluar dari rumah sakit, dia akan tetap tinggal denganku,” titah Damar.
“Tapi ….”
“Tidak ada tapi,” sela Damar.
“Tidak masalah, saya yang akan sering mengunjungi Kania.”
“Aku heran kenapa orang-orang terdekatku malah berhubungan dengan Yuda. Kania juga Lukas,” ujar Damar lagi.
“Sudah diatur, agar kalian akur lagi,” sahut Kania yang disetujui oleh Elvan.
...***...
Tiga hari dalam perawatan di rumah sakit, Kania sudah diperbolehkan pulang. Tentu saja dia pulang ke rumah Damar. Elvan akan datang pagi atau malam sepulang kerja tapi dia belum berani menginap di kediaman tersebut.
“Nona Kania, ada Tuan Elvan di bawah,” ujar asisten rumah tangga Damar.
“Suruh ke sini aja Bik, saya malas turun.”
Tidak lama pun Elvan datang dan mengunci pintu kamar Kania.
“Kenapa dikunci?”
“Takut Daddy kamu masuk tiba-tiba.”
“Daddy sedang di luar kota, besok pulang dengan pesawat pagi untuk hadiri pernikahan Lukas dan Bintang. Kamu ngapain di sini, bukannya sibuk menyiapkan pernikahan Bintang,” ujar Kania.
“Sibuk apanya, mereka hanya melangsungkan akad bahkan tidak ada rencana resepsi.”
“Aku ngantuk,” ujar Kania.
“Tidurlah atau mau ditiduri?” tanya Elvan sambil terkekeh karena Kania memicingkan matanya.
Kania pun berdiri, Elvan yang menatapnya menelan saliva menyadari Kania mengenakan gaun tidur satin dengan tali pita di bahu putih Kania.
“Tumben pakai gaun beginian, mau goda aku ya?”
__ADS_1
Kania acuh dan menuju ranjangnya dan Elvan ternyata mengekor langkah Kania yang sudah berbaring.
“Loh, kamu mau ngapain?” tanya Elva saat terlihat melepaskan alas kakinya, termasuk kaos yang dikenakan.
“Mau tidur.”
“Iya tapi ….” Ucapan Kania terhenti lagi karena Elvan sudah melepaskan celana panjangnya dan kini hanya mengenakan boxer.
Pria itu berbaring di samping Kania, begitu dekat bahkan hembusan nafas Elvan terasa di telinga. Juga usapan tangan di perut Kania yang sudah terlihat seperti perut kembung.
“Kamu nggak kangen aku?” tanya Elvan.
Kania sempat menoleh mendengar pertanyaan Elvan. belum sempat menjawab, fokus Kania sudah beralih pada tangan Elvan yang mulai nakal meraba dan menyentuh area lain.
“Elvan, tangan kamu,” gumam Kania.
“Ssttt, dinikmati saja.” Elvan sudah beranjak dan mengungkung tubuh Kania. Tatapan matanya terlihat sendu, Kania hanya diam mengerti dengan maksud Elvan yang akan meminta haknya. Sudah memastikan kalau Elvan memang sudah mengakhiri hubungannya dengan Alexa, sesuai informasi yang dia dapatkan dari anak buah Lukas yang sengaja ditugaskan untuk mendapatkan informasi hubungan Elvan dan Alexa.
Kania hanya bisa meremmas sprei dan menggigit bibirnya sendiri saat Elvan sudah bermain di tubuhnya. Bahkan kedua tubuh itu saat ini sudah polos tanpa sehelai benang pun. Cukup lama keduanya tidak menyatu membuat Elvan cukup bersemangat.
“El-van … pelan – pelan,” ujar Kania terbata karena merasa dibuat suaminya melayang merasakan pusaran kenikmatan.
“Hm,” gumam Elvan yang sedang berpacu di atas tubuh Kania. Bahkan kening, wajah dan leher pria itu terlihat berkeringat membuatnya terlihat semakin mempesona.
Cukup lama bergerak, akhirnya pasangan itu meraih kenikmatannya. Mengerang dan melenguuh bergantian saat mendapatkan pelepasan.
“Hahhh.” Elvan menghela nafasnya di tengah deru nafas dan saat ini sudah berbaring di samping Kania. “Apa aku menyakitinya?” tanya Elvan sambil mengusap pelan perut istrinya.
Kania terdiam, masih merasakan sensasi kenikmatan yang baru saja mereka raih. Tidak lama kemudian, keduanya terlelap di bawah selimut yang sama.
Esok hari.
Elvan sudah rapi dengan setelannya, tersenyum memandang Kania yang masih cemberut. Ternyata ulah Elvan semalam meninggalkan banyak jejak di tubuh Kania. Bahkan dress yang sudah disiapkan wanita itu untuk menghadiri pernikahan Lukas harus diganti dengan dress lain yang bisa menutupi jejak cinta di tubuhnya.
“Nggak usah cemberut begitu, nanti aku tambahkan lagi. Mau?”
Kania akan mengenakan heels tapi dilarang oleh Elvan.
“Kamu sedang hamil jangan pakai yang beginian,” larang Evan lalu pria itu menuju kamar ganti dan mencari sepatu yang kiranya pas untuk wanita hamil.
“Pakai ini saja,” titah Elvan.
“Kamu kenapa sih?” tanya Kania heran.
“Kenapa gimana?”
“Tumben-tumbenan perhatian.”
__ADS_1
“Mulai sekarang, hanya perhatian dan cinta yang aku akan berikan untukmu.”
Masa?