(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Serangan


__ADS_3

“Hei, kita belum putuskan untuk giliran menggunakan ranjang,” ujar Kania pada Elvan.


Saat ini sudah malam dan keduanya sudah berada di kamar. Elvan yang sudah berganti piyama bahkan sudah berbaring dengan nyaman di ranjang king size, mengacuhkan perkataan Kania.


Kania melipat kedua tangan di dada, menatap pria yang mungkin kalau diajak duel sudah tumbang hanya dengan tiga gerakan.


“Hei, tuan muda. Jangan berpura-pura bodoh atau memang kamu benar-benar bodoh,” ejek Kania dan cukup efektif mendapatkan perhatian Elvan.


Pria itu pun beranjak duduk dan balas menatap Kania walaupun sempat menelan saliva melihat penampilan Kania yang mengenakan piyama berbahan satin.


“Kamu bilang apa tadi?”


“Tidak perlu aku ulang atau memang telingamu bermasalah,” sahut Kania. “Kita putuskan dulu, siapa yang berhak menggunakan ranjang malam ini, besok dan seterusnya.”


“Aku, itu sudah menjadi keputusan,”  ujar Elvan lalu kembali merebahkan diri.


“Oke. Aku gunakan kamar yang lain, atau sofa di ruang tengah terlihat nyaman dan luas dibandingkan dengan sofa ini,” ancam Kania yang sudah membawa bantal dan berjalan menuju pintu.


“Selangkah lagi, aku pastikan kamu akan menyesal.”


Kania berbalik dan kembali menyorot tajam wajah suaminya.


“Optionnya kita bergantian atau aku cari kamar lain. Salahnya di mana?”


“Kamar ini luas, kamu bisa gunakan area manapun,” ujar Elvan.


“Apa kamu pernah berpacaran?” tanya Kania yang membuat Elvan heran karena tiba-tiba membahas hal itu, padahal mereka sedang berdebat tentang ranjang.


“Untuk apa tanya hal itu?”


“Jawab saja.”


“Tentu saja pernah, aku pria normal dan banyak sekali yang mengantri untuk mendapatkan cintaku,” sahut Elvan dengan bangga.


“Menurutku mereka semua tidak waras karena menyukaimu yang tidak waras juga.”


“Kamu yang tidak waras,” pekik Elvan.


“Tentu saja kamu, bagaimana bisa laki-laki tanpa rasa bersalah tidur nyaman di ranjang sedangkan ada perempuan satu kamar dengannya dibiarkan untuk tidur di lantai atau di sofa,” tutur Kania.


“Kalau kamu kekasihku, tentu saja aku tidak akan biarkan itu terjadi. Aku akan menganggapnya sebagai ratu dan memberikan gadis itu kenyamanan,” jelas Elvan.


Deg.


Pernyataan Elvan barusan cukup mengena di hati Kania. Dia memang bukan kekasih Elvan tapi istrinya. Pria itu tidak sedikitpun ada rasa iba kepadanya. Tetiba Kania kembali mengingat Bayu dan perhatiannya.

__ADS_1


“Kamu itu gadis spesial untukku, tidak mungkin aku mengabaikanmu. Kamu akan menjadi ratu baik di hati ataupun kehidupanku.”


Kania berbalik dan meninggalkan kamar lalu menuju balkon. Bodyguard yang sedang berjaga terkejut karena sudah cukup malam dan gadis itu malah ke luar.


“Tetap berjaga, jangan sampai lengah,” titah Bimo kemudian menuju balkon mencari Knia.


Ternyata Kania sedang duduk di gazebo, menangis sambil memeluk kedua lututnya. Bimo yang hendak bertanya pun urung dan membiarkan Kania menenangkan dirinya.


“Seharusnya abang tidak pergi, jadi aku bisa merasakan menjadi ratu di kehidupanku. bukan malah menikah dengan pria itu dan diperlakukan seperti pembantu.”


Sedangkan di kamar.


“Ke mana dia? Ah, terserah. Bukan urusanku,” ujar Elvan lalu kembali berbaring.


Hampir sepuluh menit Kania keluar dari kamar dan belum kembali. Elvan yang awalnya acuh, malah jadi khawatir. Khawatir jika ada yang mencelakainya dan berimbas kepada dirinya.


“Menyusahkan saja,” gerutu Elvan yang kemudian beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar.


Tidak menemukan Kania di ruang tengah ataupun ruang tamu. Hanya beberapa bodyguard yang masih berjaga, Elvan pun menuju balkon dan melihat Bimo. Baru akan membuka mulutnya untuk bertanya tapi dia batalkan saat mendengar Bimo berkata pada Kania.


“Sebaiknya Nona masuk, angin malam tidak baik untuk kesehatan. Kalaupun nona kecewa karena kepergian Bayu dan hidup saat ini menyedihkan, percayalah masih ada orang atau kebahagiaan yang akan menjemputmu.”


Ada apa dengannya, apa dia curhat masalah Bayu, batin Elvan.


Melihat pergerakan Kania, Elvan pun langsung kembali ke kamar. Pria itu kembali merebahkan tubuhnya dan berpura-pura tidur saat Kania masuk ke kamar.


...***...


Keesokan hari.


Kania mengerjap pelan dan meregangkan tubuhnya yang terasa pegal karena tidur di lantai. Terdengar deru ombak dari jendela yang sudah terbuka. Gadis itu beranjak bangun dan tidak melihat Elvan di ranjang, ternyata dia bangun terlambat.


“Haus sekali,” keluh Kania dan tidak menemukan air mineral di kamar itu.


Kania keluar dari kamar sambil menguap dan rambut yang agak berantakan. Bimo dan Elvan yang sedang berbincang terhenti dan terpaku melihat tingkah Kania.


Bimo sampai mengalihkan pandangan dan Elvan menelan saliva saat Kania mengangkat kedua tangan untuk meregangkan ototnya dan ulahnya itu membuat atasan piyama yang dipakai sedikit tersingkap memperlihatkan perutnya.


 “Ehm.” Elvan berdeham agar Kania berhenti melakukan hal itu.


“Apa?” tanya Kania pada Elvan, yang dijawab oleh pria itu dengan gelengan kepala.


Sepertinya Kania mengibarkan bendera perang kepada Elvan. Gadis itu mengabaikan Elvan, tidak menyahut ketika ditanya dan hanya merespon seperlunya saja.


Dua hari sudah Kania merasa terkurung dalam vila tersebut dan masih berstatus gencatan senjata dengan Elvan.

__ADS_1


“Kita makan malam di luar, gantilah bajumu,” titah Elvan.


Kania tidak menjawab, tapi dia beranjak untuk berganti dress dan sedikit bermake up. Beruntung dia sudah mendapatkan kelas tentang kecantikan, paling tidak bisa mengatur sendiri rambutnya.


“Ck, lama sekali,” keluh Elvan ketika Kania keluar dari kamar tanpa menatap gadis itu. “Bimo, kita pergi sekarang,” titah Elvan. “Kania, selama ….”  Ucapan pria itu terhenti karena dia terpesona dengan penampilan Kania.


“Apa?”


“Hm, tidak. Hanya mengingatkan kita sedang berbulan madu, jadi bekerjasamalah seakan kita adalah pasangan yang romantis,” ujar Elvan.


“Ya nanti saja, ketika di tempat ramai.”


Sesuai dengan ucapannya, Kania pun memeluk lengan Elvan dan bersikap seolah mereka adalah pasangan romantis karena sedang berada di tempat ramai. Bertempat di salah satu restoran mewah, pasangan itu menjadi pusat perhatian karena selain terlihat serasi keduanya diikuti oleh beberapa bodyguard.


Tentu saja Bimo sudah mengatur semuanya dan memesan private room untuk majikannya. Bimo memastikan ruangan aman dan tetap di ruangan, sedangkan di luar dia menempatkan dua orang berjaga. Sepertinya makanan pun sudah dipesan saat reservasi, karena tidak lama kemudian pelayan mengantarkan berbagai macam menu.


Kania pun mulai menikmati dan mengabaikan Elvan yang sedang menatapnya. Tiba-tiba terdengar keributan di luar.


“Bersiap,” titah Bimo kepada kedua rekannya yang berada di dalam ruangan.


“Ada masalah?” tanya Elvan.


“Sepertinya begitu,” jawab Bimo.


Brak.


Pintu ruangan itu rusak entah karena tendangan atau pukulan. Salah satu bodyguard terpental ke arah dalam. Tidak lama kemudian masuklah beberapa pria yang memasang wajah garang. Para bodyguard Elvan langsung bersiap melindungi majikannya.


Elvan sempat berjengit kaget dan berdiri dari kursinya.


“Duduklah!” titah Kania. “Kalau mereka ingin membunuhmu, kamu pasti sudah mati sejak tadi.”


“Ck, mulutmu itu,” ujar Elvan dan saat ini Bimo serta yang lain sedang berkelahi dengan para pria tidak dikenal.


“Sepertinya kita harus pergi,” ujar Elvan karena para bodyguardnya terlihat kewalahan.


Kania hanya memperhatikan perkelahian itu, bahkan dengan tenang dia mengambil gelas minumnya dan meneguk habis isinya. Seorang pria terjatuh ke atas meja bahkan membuat piring dan peralatan makan lainnya pecah dan berjatuhan ke lantai.


“Aish, lihat ulahmu membuat berantakan,” ujar Kania.


Pria itu kesakitan, lalu menoleh ke arah Kania dan menarik tubuh Kania.


“Bimo, tolong Kania,” pekik Elvan yang sudah berdiri.


“Dasar gil4,” teriak Kania sambil berontak melepaskan diri lalu mengeluarkan tendangannya tepat mengenai lato-lato sang pria.

__ADS_1


Bimo yang hendak membantu Kania terkejut karena pria itu terjerembab sambil memegang senjata pribadinya. Begitu pula dengan Elvan yang mengernyitkan dahinya melihat gerakan Kania.


 


__ADS_2