(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Rencana Lukas


__ADS_3

“Kania, awas!” pekik Elvan saat ada pria lain yang akan menyerangnya.


Bimo yang menyadari Kania akan mendapat serangan, bergegas menghampiri tapi Kania sudah menghindar dan melayangkan tendangan dari samping pada pria yang tadi menyerangnya.


Brak.


Pria itu terjerembab menimpa salah satu kursi yang memang sudah jadi bulan-bulanan keributan.


“Nona baik-baik saja?” tanya Bimo.


Kania hanya mengangguk. Elvan sudah berada di sampingnya memperhatikan dan memastikan Kania baik-baik saja.


“Bimo, bawa kami keluar dari sini,” titah Elvan.


“Baik.”


Baru saja Bimo akan mengarahkan temannya yang tersisa untuk keluar, seorang pria yang tidak asing masuk ke dalam ruangan sambil bertepuk tangan.


“Bravo, bravo … tapi ternyata hanya segini kemampuan kalian,” ujar pria itu.


“Lukas,” ujar Kania.


“Ah, cantik. kamu masih ingat aku?”


Elvan menarik tangan Kania agar menjauh. Bimo sudah berpindah ke hadapan Elvan dan Kania.


“Siapa kalian?” tanya Bimo.


“Dasar bodoh. Majikanmu saja sudah tau siapa aku, malah kalian cecunguk masih bertanya,” pekik Lukas. “Mari kita duduk, kita bicara baik-baik jangan gunakan kekerasan,” ujar Lukas mengambil salah satu kursi dan duduk.


Kondisi meja sudah sangat berantakan. Kania pun ikut duduk dan ingin tahu apa maksud pria bernama Lukas tersebut.


“Kania bangun, kita pergi dari sini,” ajak Elvan.


“Hei, duduk. Istrimu saja paham cara menghargai tamu,” ujar Lukas.

__ADS_1


“Apa maumu?” tanya Bimo.


“Tidak ada, aku hanya menyapa. Sayangnya menyapa kalian harus dengan cara seperti ini,” ujar Lukas dengan pandangan tidak lepas dari Kania.


Tanpa diduga, Kania mengambil gelas dan melemparkan pada Lukas saat pria itu selesai bicara. Lukas yang kemampuan bela dirinya cukup baik menangkis gelas tersebut dan jatuh ke lantai.


Prang.


“Kania,” tegur Elvan karena Kania bisa saja menyulut kemarahan Lukas dan membuat suasana semakin kacau. Teman-teman Bimo sudah terkapar, hanya tinggal Bimo saja dan bisa dipastikan mereka sudah kalah kalau kembali ada serangan.


“Wow, gerakan yang cepat juga. Kenapa kamu marah, cantik?”


“Apa maumu? Pemberitaan dan foto-foto yang beredar itu ulahmu ‘kan?” tanya Kania.


Lukas terkekeh.


“Aku hanya menyapa, ingat ya ini hanya menyapa,” ujar Lukas penuh penekanan sambil menatap Bimo dan Elvan bergantian. “Sampaikan salam kami untuk Yuda Hadi Putra, dari Damar,” ujarnya lagi. “Untuk kamu cantik, kita akan bertemu lagi nanti.” Lukas beranjak sambil terkekeh meninggalkan ruangan yang sudah berantakan.


Tidak lama kemudian, beberapa pelayan dan security datang dan menanyakan kondisi Elvan serta yang lainnya.


Elvan memandang Kania yang berbaring di sofa, mengingat kejadian semalam. Di mana Kania menggerakkan tubuhnya ikut menyerang. Bahkan wanita itu tidak terlihat takut sama sekali.


Semalam Elvan sudah menyampaikan pada Papanya tentang serangan yang dia terima dan nama Damar yang diucapkan Lukas, cukup membuat Yuda terkejut.


Pagi ini Bimo menunggunya untuk membicarakan kelanjutan keberadaan mereka di Bali yang sepertinya sudah terancam karena kedatangan Lukas.


“Jadi, gimana?”


“Kabar kejadian semalam tidak ada di pemberitaan manapun. Bahkan kepolisian pun tidak mengendus hal ini, pihak mereka bermain aman termasuk restoran yang tidak menuntut atau meminta ganti rugi,” jelas Bimo.


“Lalu?”


“Masyarakat masih mengetahui kalian sedang honeymoon, menurut saya rencana tetap kita lanjutkan. Tim sudah menuju ke mari untuk memastikan kalian aman.”


“Buktinya semalam kita kalah,” ujar Elvan. “Perhatikan lagi cara kerja kalian. Kania benar, kalau mereka ingin kita mati mungkin itu sudah terjadi dengan mudah.”

__ADS_1


Bimo bergeming, apa yang dikatakan oleh Elvan memang benar bahwa mereka kalah telak.


“Kania bisa bela diri?” tanya Elvan.


“Saya baru dapat informasi, kalau Nona Kania pelatih taekwondo,” jawab Bimo.


“Apa?”


Saat ini Kania sudah berada di living room, duduk berdampingan dengan Elvan. Bimo dan beberapa bodyguard yang baru saja tiba menggantikan yang kemarin terluka.


“Jadwal tidak akan berubah apalagi dipercepat, jadi tolong kerjasamanya untuk tetap berada dalam pantauan kamu,” seru Bimo. “Apalagi kejadian semalam ….”


“Kejadian semalam jelas kalian tidak siap,” sela Kania.


“Tidak ada yang pernah siap menerima serangan,” ujar Bimo.


“Pekerjaan kalian itu memang melindungi orang, jadi kalian harus selalu siap menerima serangan. Kalian pikir musuh akan izin atau mengajukan permohonan kalau mereka akan menyerang,” tutur Kania.


Bimo yang merasa kalah pun hanya diam.


Ternyata bukan hanya bisa bela diri, dia juga pintar bicara dan berdebat, batin Bimo.


“Aku bosan, ini hari ketiga aku dikurung dalam villa. Semalam keluar hanya menyaksikan kalian kalah,” keluh Kania.


“Lalu kamu mau ke mana?” tanya Elvan.


“Judulnya honeymoon, aku tidak peduli dengan apa yang ingin kamu lakukan tapi aku ingin keluar dari sini. Sekedar jalan-jalan, makan dan ….”


“Maaf, saya tidak bisa mengizinkan,” ujar Bimo.                                     


Kania melipat kedua tangannya di dada sambil bergumam kalau dia sangat bosan.


Sedangkan di tempat berbeda. Lukas yang sudah menatap ke luar jendela kamarnya, memastikan rencana yang akan dilaksanakan berikutnya.


“Kita lihat saja, apa kamu masih bisa tersenyum sinis lagi,” ujar Lukas sambil terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2