(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Menghamburkan Kasih Sayang


__ADS_3

“Mbak Kania, celaka saya mbak,” ujar Abil.


“Elvan tau Lukas membawaku?”


Abil menganggukkan kepalanya.


“Saya panik, waktu Mbaknya dibawa dan nggak tau kemana. Jadi saya hubungi Pak Bimo dan Tuan Elvan.”


Kania menghela pelan. “Ya sudah sekarang kasih mereka kabar kalau kita sudah mau pulang,” titah Kania lalu masuk ke dalam mobil lalu membuka ponselnya, banyak panggilan tak terjawab dari Elvan.


“Ayo jalan.”


Kania tidak ingin Elvan dan yang lain menyusul ke Rumah sakit dan nanti bertemu Lukas lalu terjadi keributan. Dia yakin Lukas masih ada di sana.


Dalam perjalanan, wanita itu kembali mengingat apa yang disampaikan oleh Damar kalau dia adalah putri pria itu. Selama tinggal dengan Ayahnya di kampung, bukan sekali dua kali dia mendengar keluarga besar Ayahnya mengatakan kalau dia bukan anak Hartono tapi apa memang begitu kenyataannya Kanalia tidak tahu.


Saat Ayahnya meninggal tidak ada wasiat atau pengakuan kalau dia memang bukan putri pria itu lalu sekarang ada pria lain datang dan mengaku sebagai ayahnya.


“Hah.” Kania menghela kesal.


“Mbak Kania kenapa? Apa mereka menyakiti Mbak Kania?” tanya Abil.


“Tidak, kamu fokus saja dengan kemudi dan siap-siap kita akan diinterogasi bahkan bisa jadi kamu akan jadi bulan-bulanan Bimo.”


Abil menelan saliva membayangkan apa yang akan terjadi dengannya saat tiba di rumah. Benar saja, saat mobil melewati gerbang sudah ada dua mobil yang siap berangkat bahkan Elvan dan beberapa pengawal terlihat menunggu kedatangan mereka.


“Waduh, gawat ini Mbak.”


“Tenang saja, yang penting aku baik-baik saja,” seru Kania.


Elvan tidak sabar, langsung membuka pintu mobil di mana Kania berada.


“Apa yang terjadi, kenapa tidak menjawab teleponku?” tanya Elvan sambil menatap wajah Kania dan mengecek dari kepala sampai kaki entah mencari apa.


“Elvan,” tegur Kania.


“Ikut aku,” ajak Elvan sambil menggenggam tangan istrinya.


Kania hanya bisa menurut dengan mengekor langkah Elvan yang ternyata menuju kamarnya.


“Apa ada yang luka?” tanya Elvan menangkup wajah Kania dan melihat pergelangan tangan lalu ….


“Hentikan, aku tidak apa-apa. Memang tadi Lukas sempat mengajakku bicara tapi tidak ada yang terjadi. Kalau untuk menghalau gerakannya aku masih bisa tapi sudah pasti akan kalah.”


Elvan bersedekap masih menatap Kania.


“Apa yang dia bicarakan?”


Kania mengedikkan bahunya lalu menuju sofa fan duduk di sana meninggalkan Elvan yang masih penuh tanya.


“Kania!”


“Dia mempertemukanku dengan pria bernama Damar.”

__ADS_1


“Damar Mahesa? Apa yang dia lakukan dan ....”


“Tidak ada, hanya bicara saja.”


Elvan sudah duduk dihadapan Kania, memandang wajah wanita itu mencari kebohongan di sana.


“Kania, sayang.” Nella merangsek masuk ke dalam kamar bahkan tanpa mengetuk pintu. “Kamu oke? Mami dengar kamu dibawa Lukas, orang itu bener-bener ya. Apa mau mereka mengganggu kita terusm” tutur Nella.


“Mami, lain kali ketuk pintu dulu.”


“Kenapa, Mami ‘kan masuk kamar anak dan menantu mami bukan kamar orang lain.”


“Kami punya privasi bagaimana kalau tadi kita sedang dalam posisi tidak nyaman untuk dilihat orang lain,” ujar Elvan. Kania mengernyitkan dahi mendengar pernyataan Elvan begitu pun dengan Nella.


“Posisi seperti apa? Ahhh.” Dia lalu terkekeh. “Kalau lagi enak-enak pintunya dikunci ya,” seru Nella lagi. “ya sudahlah kalau kamu baik-baik saja, tadi mami khawatir kalau kamu terluka. Elvan, bicarakan dengan Papa mu untuk mengurus si Lakus itu.”


“Lukas Mih.”


“Ah, siapapun namanya yang jelas dia sudah mengganggu kita. Jangan sampai aku dapat menantu macam begitu, yang senangnya mengganggu orang lain,” tutur Nella kemudian meninggalkan kamar di mana Elvan dan Kania berada.


Elvan berpindah duduk di samping Kania menyingkap rambut Kania, mengecek tengkuk wanita itu. Entah apa maksud Elvan.


“Posisi tidak nyaman?” tanya Kania masih dengan dahi berkerut.


Elvan berdehem. “Iya namanya kita di dalam kamar, bisa sedang apa saja.”


“Dan apa saja yang kamu maksud ….”


“Sudahlah, itu tidak penting atau kamu mau aku contohkan?”


Sedangkan di kamar berbeda, Bintang sedang senyam senyum membaca pesan yang dikirimkan oleh Lukas untuknya. Tentu saja pesan yang berisi rayuan gombal tapi cukup membuat Bintang terhanyut. Selama ini gadis itu belum pernah berteman dengan makhluk bernama pria apalagi berhubungan dengan pria karena dikekang oleh Papanya.


Banyak pesan yang dikirim oleh Lukas dan hanya dibaca oleh Bintang.


“Eh, kok dia malah telepon. Jawab nggak ya?”


Bintang berdehem sebelum menjawab panggilan dari pria itu.


“Ha … lo.”


“Kenapa pesanku tidak dibalas?” tanya Lukas di ujung telepon.


“Hm, aku sibuk.”


“Sibuk karena senang membaca pesanku,” goda Lukas.


“Ck, ya nggak lah.”


“Nggak salah,” sahut Lukas.


“Kamu telepon ada perlu apa?”


“Nggak ada, mau dengar suara kamu aja,” rayu Lukas.

__ADS_1


Bintang tidak menjawab dan merespon, dia menggigit bibirnya menahan senyum. Mungkin kalau Lukas ada di depannya, dia akan malu dengan wajah yang sudah merona. Terdengar ketukan pintu dan panggilan Nella, membuat Bintang segera mengakhiri panggilan telepon.


“Hei, kenapa dikunci?” tanya Nella saat putrinya membuka pintu.


“Aku sudah dewasa Mih, masa kamar tidak dikunci.”


“Hm, bagaimana kuliahmu?”


“Biasa saja,” sahut Bintang lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.


“Ingat ya, jangan sampai merusak kepercayaan Mami dan Papa kamu. Sekarang kita sudah berkumpul dan kamu senang bukan dengan kita berkumpul lagi,” tutur Nella.


“Hm.”


...***...


Elvan masih berada di walk in closet sedangkan Kania sudah rapi, keduanya akan menghadiri acara di perusahaan Yuda. Kania duduk di depan cermin meja rias sedang mengimplementasikan apa yang sudah dipelajari dari kelas kecantikan, saat ponselnya berdering.


Mengabaikan sebentar memastikan penampilannya sudah sempurna, lalu Kania beranjak mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.


“Nomor baru, siapa ya?”


“Halo,” ujar Kania.


“Halo Kania, bisa kita bertemu?”


Kania mengernyitkan dahi mendengar permintaan seseorang di ujung telepon. Bahkan dia menjauhkan telepon dari telinga dan melihat kembali layar telepon untuk mengingat siapa pemilik nomor tersebut.


“Ini siapa?” tanya Kania.


“Damar, sayang. Daddy mu.”


Kania menghela nafasnya, mendengar identitas pria yang menghubunginya.


“Maaf sepertinya anda salah sambung, aku bukan putri Anda.”


Kania langsung mengakhiri panggilan telepon dan bergumam umpatan.


“Siapa yang telepon, kenapa kamu terlihat emosi?”


“Hah, bukan siapa-siapa. Salah sambung,” sahut Kania kemudian mengenakan heelsnya dan kembali mematut diri di cermin.


“Cantik,” bisik Elvan di telinga istrinya membuat wanita itu terpaku. Pria itu sudah berada di belakang tubuh Kania bahkan terasa menempel.


“Hm. Bisakah kamu mundur aku ….”


“Tidak. Sepertinya ada magnet di pakaian kita jadi kita harus menempel begini,” sela Elvan merayu Kania.


“Apa kamu benar Elvan, aku ragu karena Elvan yang aku kenal tidak gombal seperti ini.”


Elvan membalik tubuh Kania membuat keduanya berhadapan dan saling memandang.


“Maksudmu aku tidak perlu merayu jadi kita langsung saja praktek menghamburkan kasih sayang. Begitu?”

__ADS_1


 "Eh."


__ADS_2