
Elvan yang berada satu meja dengan Damar, Lukas dan beberapa rekan bisnis mereka sedang berdiskusi untuk membicarakan kemungkinan mereka mendirikan usaha baru. Damar yang notabene memiliki perusahaan di luar negeri berencana membuka usaha di Indonesia agar bisa dekat dengan Kania.
Mereka sedang berbicara di salah satu restoran, dan Kania ikut serta hanya berada pada meja berbeda. Sesekali Elvan akan menoleh ke arah istrinya memastikan wanita itu aman dan nyaman. Kania sendiri ditemani oleh salah satu pengawal keluarga Damar.
“Bagaimana Elvan?” tanya Damar.
“Prospeknya bagus dan kalaupun dimulai bukan murni dari awal karena kita merger dengan perusahaan yang sudah eksis.”
Damar menganggukan kepalanya.
“Lukas, belajarlah dari Elvan. Karena kalian berdua yang akan mengurus, aku hanya akan mengawasi dan menikmati masa tua dengan anak cucu.”
“Anak cucumu itu istri dan anakku,” sahut Elvan.
Sepertinya diskusi mulai mendapatkan kata sepakat, karena Elvan menjadwalkan pertemuan berikutnya lebih detail dengan nota kerjasama dan rekan bisnis mereka pun sudah undur diri.
“Apa Yuda akan menyerahkan perusahaannya untukmu juga?”
“Hm, sepertinya begitu,” jawab Elvan.
Ada beberapa orang masuk ke area restoran dan menghampiri meja Kania.
“Kamu yang bernama Kania?” tanya salah satu pria.
Kania mengangkat wajahnya memandang empat orang pria bertubuh besar tepat di depan mejanya. Wanita itu bisa menyimpulkan kalau mereka sepertinya bodyguard atau paling parah pembunuh bayaran.
Brak.
“Jawab!” teriak pria lainnya.
Tentu saja Elvan dan yang lain langsung merangsek menghampiri dan beberapa pengawal Damar mengamankan posisi Kania.
“Minggir kalian, ini urusan kami.”
“Tentu saja ini jadi urusan kami, karena wanita itu tanggungjawab kami,” untuk Lukas pada Kania. “Siapa yang memerintahkan kalian?” tanya Lukas.
Damar dan Elvan sudah mengajak Kania untuk beranjak, tapi Kania baru saja berdiri dan menolak untuk kabur. Dia begitu penasaran siapa yang mengirim orang-orang itu.
“Banyak bacot, serahkan wanita itu maka kita damai!”
“Damai? Kalian yang cari gara-gara,” sahut Lukas.
“Kita pergi,” ajak Lukas dan rekannya menghalau empat orang itu.
Elvan sudah merangkul pinggang Kania dan Damar sudah berjalan lebih dulu dan terjadi perkelahian. Kania menoleh ke belakang dan berhenti.
“Ayo, bahaya untuk kamu tetap di sini. apalagi mereka mencari kamu,” ajak Elvan.
__ADS_1
“Justru itu, kita harus cari tahu siapa yang mengirimkan orang-orang itu,” jawab Kania.
“Biar itu diurus Lukas.”
“Elvan, ajak Kania pulang,” titah Damar sebelum memasuki mobilnya yang berada di lobby restoran.
Elvan menuntun Kania memasuki mobil tepat di belakang mobil Damar lalu keduanya kendaraan itu meninggalkan Restoran.
“Aku penasaran, mereka kenapa cari aku? Perasaan aku nggak punya musuh,” gumam Kania.
“Sudah, jangan dipikirkan. Kamu menantu keluarga Hadi Putra dan putri dari Damar. Tidak aneh kalau ada yang iri dengan kehidupanmu.”
Saat tiba di rumah, Elvan langsung membawa Kania ke kamar.
“Istirahat dan jangan punya ide aneh untuk pergi keluar atau mencari tahu masalah di restoran. Tunggu saja Lukas datang dan menjelaskan, aku harus kembali ke kantor. Papa sedang ke luar kota, mengurus kantor cabang,” tutur Elvan, Kania menganggukkan kepalanya walaupun dia memang penasaran dengan kedatangan pria tidak dikenal tadi.
Benar saja, setelah kepergian Elvan Kania malah semakin penasaran.
“Bik,” panggil Kania pada salah satu pelayan yang lewat depan kamarnya.
“Nona Kania butuh sesuatu?”
“Hm, suami saya pergi?” tanya Kania.
“Sudah dari tadi ya.”
“Maaf Nona, saya belum lihat Tuan Lukas.”
“Owh ya sudah.”
Kania kembali ke kamar dan membuka ponselnya, memutuskan menghubungi suami dari Bintang. Panggilan terhubung tapi tidak dijawab oleh pria itu. Kania kembali menghubungi masih tidak terjawab.
“Huftt, sudah pasti mereka sepakat untuk tidak kasih tahu aku.”
Sedangkan di tempat berbeda, Lukas menemui Elvan di kantor mengenai kejadian di restoran.
“Lo masih ada hubungan dengan Alexa?” tanya Lukas duduk di depan meja kakak iparnya tanpa basa basi.
“Gila kali, ya nggak lah. Kania udah ancam gue, bakalan pergi kalau masih ada urusan dengan Alexa.”
“Orang-orang tadi, karyawannya tuan Javis.”
“Hahh, Ayahnya Alexa dong, ulah apalagi sih?”
“Pihak resto tidak ingin berdamai, jadi semua yang terlibat ada di kantor polisi. Tuan Damar juga sudah ke sana, lo nggak usah kemana-mana biar gue yang handle dan istri lo ini dari tadi hubungi gue,” ungkap Lukas sambil memperlihatkan log panggilan Kania pada Elvan.
Sedangkan di tempat berbeda.
__ADS_1
“Ayah nggak ngerti apa mau kamu?”
“Aku hanya ingin bertemu Elvan.”
“Alexa, Elvan sudah menikah dan yang kamu lakukan tadi itu kejahatan. Untung saja Damar tidak mempersoalkan ini dengan berdamai, juga restoran akhirnya melunak dengan hanya minta ganti rugi. Kamu bisa terseret jadi tersangka karena otaknya adalah kamu,” tutur Javis ayah Alexa.
“Apa Elvan datang ke kantor polisi?” tanya Alexa penuh tanda tanya.
“Tidak ada, kamu berhadapan dengan Damar dan Yuda bahkan Ayah sendiri tidak akan mampu menghalau mereka. Elvan katanya sudah mengancam kamu dengan menyampaikan pada Rumah Sakit tentang ancaman bunuh diri kamu, apa kamu sudah gila? Izin praktek bisa dicabut,” pekik Javis.
“Rencana Ayah sebelumnya tetap berlaku. Kita pindah ke Singapura, urus kepindahan profesi kamu. Tidak ada alasan lagi karena Ayah tidak ingin kehilangan putri Ayah.”
“Tapi Yah?”
“Kamu sakit sayang, kita bisa konsultasikan hal ini pada pihak yang berkompeten tanpa ada orang tahu.”
...***...
Kania tetap Kania, akhirnya dia tau kalau semua ulah Alexa. Malam ini dia menunnggu Elvan pulang di beranda rumah. Lukas tentu saja pulang menemui Bintang. Damar sudah sejak tadi sore, tidak mau menjelaskan detail hanya mengatakan semua sudah beres.
Alexa, yang sempat didengar Kania dari para pengawal Damar yang tadi siang terlibat. Wanita itu langsung berdiri dengan tangan dilipat di dada, saat mobil Elvan sudah terparkir dan pria itu keluar dari mobil menghampiri Kania.
“Kamu boleh istirahat,” titah Elvan pada Abil yang akhirnya menjadi supir pribadi dan pengawalnya juga.
Melihat raut wajah Kania, pria itu paham kalau istrinya akan menuduh dia yang bukan-bukan.
“Tunggu aku? Ini sudah malam loh,” ujar Elvan lalu menyentuh kedua bahu istrinya akan mencium kening wanita itu.
Namun, Kania menahan tubuh Elvan.
“Ulah Alexa bukan?”
Elvan menghela nafasnya, “Tapi bukan salahku, dia ….”
“Kamu bertemu dia?”
“Nggak sayang, sumpah. Daddy yang urus semua dan aku di kantor papa. Kamu bisa hubungi sekretaris papa kalau butuh kepastian.” Elvan sudah mengeluarkan ponsel dan mencari kontak seseorang.
“Tidak perlu, aku percaya kok. Ayo masuk,” ungkap Kania.
“Hahh.” Elvan mengusap tengkuknya.
“Ayo atau aku berubah pikiran?”
Elvan segera merangkul tubuh Kania dan berjalan ke dalam rumah, tidak ingin sampai Kania berubah pikiran dan dia diminta tidur di sofa.
\=\=\=\=
__ADS_1
Fix, 1 bab lagi 🥰🥰🥰