(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Mencari Kania


__ADS_3

“Bintang, dengarkan aku dulu,” ucap Lukas.


“Pergi!” Bintang menunjuk pintu balkon. “Kalau perlu loncatlah dan mati sana.” Bintang memekik sambil memukul dada Lukas, air matanya sudah tidak terbendung.


Lukas meraih tangan Bintang dan memeluk tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


“Kamu boleh pukul aku bahkan bunuh aku tapi setelah aku menjelaskan semuanya.”


Bintang mendorong tubuh Lukas lalu duduk di tepi  ranjang tanpa menatap pria itu. Lukas mencoba menjelaskan bagaimana dia mendekati Bintang karena perintah tapi lama kelamaan terbawa perasaan pada gadis itu hingga jatuh cinta.


“Aku menyentuhmu dan menyesal. Tidak pernah aku begini setelah meniduri seseorang. Saat aku kembali, tempat itu sudah dikepung oleh polisi.”


“Lalu masalah Video ….” Lukas tidak melanjutkan kalimatnya. Bintang menatap sinis pada Lukas karena hal video itu sudah membuat hidupnya hancur dan bahkan depresi.


“Ayahmu dan atasanku, mereka memiliki dendam. Masalah video itu awalnya hanya untuk mengancam ayahmu, tapi …"


Lukas bersimpuh di depan Bintang. “Sungguh aku menyesal. Aku ingin bertanggung jawab, walaupun kamu ingin aku mata sebagai bentuk pertanggung jawaban. Aku siap,” ungkap Lukas.


“Pergi … aku ….” Bintang memijat dahinya.


“Bintang, are you okay?”


Lukas berdiri dan menyentuh wajah Bintang yang semakin pucat.


“Aku akan panggil seseorang.”


Bintang menahan tangan Lukas yang akan pergi.


“Kamu pikir hal ini tidak akan jadi masalah baru? Pria yang sangat dimusuhi oleh keluargaku, keluar dari kamar putrinya. Kamu pasti akan ditembak di tempat.”


“Apa yang harus aku lakukan?”


Bintang menghela nafasnya kemudian berbaring dan memejamkan mata.


“Mami bilang ini normal, untuk Ibu hamil.”


“Owh.” Setidaknya Lukas lega karena bukan hal serius dan berbahaya tapi dia tidak tega melihat Bintang yang terkulai lemas dan tak berdaya. “Apa yang bisa aku lakukan untuk ….”


“Yah, jangan berisik.”


“Pantas Kania minta aku menemuimu, rasanya pasti tidak nyaman.”


Bintang langsung membuka matanya, mendengar apa yang diucapkan oleh Lukas.


“Kania? Kamu tahu Kak Nia di mana?” Bahkan Bintang beranjak duduk.


“Aku tidak bisa katakan, dia akan marah.”

__ADS_1


Bintang kembali memasang wajah tidak bersahabat, “Pergilah, kamu memang tidak berguna.”


“Kania itu putri Tuan Damar, entah apa yang terjadi  dengan pernikahannya yang jelas Kania tidak ingin bertemu Elvan. Bahkan dia bilang akan membesarkan anaknya sendiri,” tutur Lukas.


“Anak? Maksudnya Kak Nia hamil?”


“Hm.”


...***...


Lukas menemani Damar bertemu dengan Yuda. Setidaknya pria itu sudah lebih lega karena berhasil menemui Bintan walaupun wanita itu masih marah dan emosi. Mungkin setelah satu atau dua kali menemuinya lagi, Lukas bisa kembali mendapatkan perhatian dan cinta dari Bintang.


Yuda menatap kesal pada Lukas, jika membunuh bukan sebuah kejahatan rasanya ingin membuat nyawa pria itu melayang.


“Silahkan duduk Yuda, kita sudah tua. Tidak baik terlalu emosi dan kelelahan,” ujar Damar.


“Apa maumu Damar?” tanya Yuda tanpa basa basi. “Setelah Bintang terpuruk, apa lagi maumu. Kenapa tidak kamu bunuh saja aku daripada menyakiti anak-anakku.”


“Banyak alasannya dan kamu sudah tahu. Namun, ada satu hal yang mungkin tidak pernah kita duga sama sekali. Aku sudah menemukan putriku,” tutur Damar.


“Aku senang mendengarnya, lalu apa hubungannya dengan Bintang yang sudah kamu buat menderita?”


“Karena putriku pun sudah kalian buat menderita,” sahut Damar.


“Apa maksudmu, kapan kami menyisak putrimu,” pekik Yuda.


“Ini … Kania, dia putrimu?”


Damar melipat kedua tangannya di dada, menatap lekat Yuda yang masih memastikan dokumen yang dia baca adalah informasi mengenai Kania dan Damar yang ternyata ayah dan anak.


“Bagaimana bisa dia ….”


“Di dunia ini semua bisa terjadi, bahkan aku pun tidak menyangka akan seperti ini dan yang membuat aku semakin marah adalah kalian tidak memperlakukan Kania dengan baik terlepas dia putriku atau bukan.”


“Apa maksud kamu memperlakukan dia tidak baik? Kania menantuku, dia mendapatkan haknya sebagai menantu keluarga Hadi Putra.”


Damar terkekeh kemudian bertepuk tangan.


“Entah kamu bodoh atau bagaimana, Kania menikahi Elvan untuk nama baik keluarga kalian setelah tunangannya meninggal bahkan untuk melindungi putramu yang menyebalkan itu. bahkan saat putriku hamil, dia malah mengurus mantan kekasihnya. Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan hah?”


“Kania sedang hamil?”


“Ck, ternyata benar. Putriku tersisihkan di rumah kalian. setelah ini aku pastikan kalian tidak akan bisa menemuinya, tunggu saja panggilan dari pengadilan. Aku akan minta Kania menggugat cerai Elvan.”


Damar beranjak pergi diikuti Lukas, Yuda mencegahnya.


“Sebaiknya kita duduk lagi dan bicarakan semua baik-baik. Urusan Bintang dan Kania,” seru Yuda.

__ADS_1


“Aku tidak tertarik. Kamu sakit karena masalah Bintang, aku pun sama.”


Yuda hanya bisa memandang kepergian Damar.


“Tuan, sebaiknya kita pulang. Bicarakan di rumah bersama Tuan Elvan,” ajak Bimo. Dia khawatir kalau Damar akan berubah pikiran dan menyerang Yuda.


Plak.


Elvan mendapatkan tamparan dari Yuda. Nella bahkan memekik ketika melihat Yuda menampar putranya sendiri.


“Yuda, apa yang kamu lakukan?” tanya Nella.


“Justru aku harusnya bertanya pada pria bodoh ini, apa yang dia lakukan sampai tidak tahu istrinya hamil dan malah mengurus wanita lain. Pertanyaanku selama ini terjawab, kalau Kania kecewa karena sikapmu.”


“Kania hanya salah paham Pah,” elak Elvan.


“Salah paham di mananya. Mana ada wanita yang rela suaminya merawat dan lebih peduli pada mantan kekasihnya dibandingkan peduli pada istrinya yang sedang hamil. Jangan-jangan kamu pun tidak tahu kalau Kania sedang hamil?”


“Kania hamil?” tanya Nella memastikan apa yang dia dengar. “Kania hamil dan tidak ada yang peduli terhadapnya. Bahkan kita hanya fokus pada Bintang,” tutur Nella.


“Damar mendorong Kania untuk menceraikanmu. Segera cari Kania, perbaiki hubungan kalian,” titah Yuda.


“Apa hubungannya Kania dengan Damar?” Elvan bertanya karena heran dengan penjelasan Yuda mengenai Damar dan Kania.


“Karena Kania putri dari Damar.”


“Apa?”


“Ya, dia putri dari Damar. Sebaiknya kamu hati-hati, Damar tidak pernah main-main.”


Elvan mengusap kasar wajahnya, menyadari segala masalah semakin pelik.


Sedangkan di tempat berbeda, Kania sedang berbaring di ranjangnya. Merasakan gejala kehamilan yang membuatnya tidak nyaman. Pikiran dan hatinya sangat membenci Elvan tapi ada rasa rindu pada pria itu, dia ingin tidur di pelukan suaminya. Kania sadar kalau perasaan itu karena hormon kehamilannya.


Kania mengusap pelan perutnya yang masih rata.


“Sadarlah Kania, Elvan tidak mencintaimu. Dia hanya mendekatimu ketika dia butuh saja,” gumam Kania.


“Sayang, kita kuat walaupun tanpa Ayahmu. Sehat-sehat ya,” ujar Kania sambil mengusap kembali perutnya.


Terdengar keributan di luar, Kania pun beranjak dari ranjang dan keluar dari kamarnya.


“Ada apa?” tanya Kania pada salah satu pelayan di kediaman Damar.  


“Ada yang memaksa masuk dan ingin bertemu Nona Kania. Lukas bilang agar Nona tetap di kamar,” ajak pelayan itu.


“Mencari aku?”

__ADS_1


 


__ADS_2