(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Dasar Aneh


__ADS_3

“Hei, berhenti,” teriak Kania masih mengejar pria yang melakukan penjambretan.


“Kania, berhenti,” teriak Elvan ikut mengejar bersama dua pengawalnya. Terbiasa hidup enak dan tidak terlalu banyak bertindak hanya sesekali melakukan gym dan olahraga ringan membuat pria itu kesulitan mengejar istrinya.


Sedangkan Kania melihat pelaku cukup profesional, dia pun melompat sambil melakukan tendangan membuat si pelaku terjungkal begitupun dirinya.


“Aaaa,” teriak pria itu lalu melepaskan tas curiannya, bergegas melarikan diri.


“Hei, berhenti,” teriak Kania yang berusaha berdiri. Pengawal Elvan membantu Kania, dibandingkan mengejar penjahat.


“Astaga Kania,” seru Elvan yang sedang mengatur deru nafasnya setelah berlari mengejar wanita itu.


“Nona, kaki anda terluka.”


Kania pun menunduk untuk melihat luka di lututnya, Elvan tiba-tiba jongkok dihadapan Kania untuk memastikan luka ditubuh istrinya.


“Lihat, kamu malah terluka,” ujar Elvan. “Berikan tas itu, pada pemiliknya. Setelah ini kita pulang,” titah Elvan.


Saat ini Elvan dan Kania sudah berada di ruang tamu.


“Auw, itu perih jangan disentuh.”


“Diam,” pekik Elvan yang sedang membersihkan luka Kania.


Kania menggigit bibirnya menahan perih karena Elvan sedang mengobatinya. Sejak tiba di rumah, pria itu mengoceh karena ulah Kania sangat membahayakan diri sendiri bahkan bisa juga orang lain. Kania merasa aneh dengan sikap dan perhatian Elvan.


Apa dia mulai perhatian atau … ah, jangan terlalu percaya diri, batin Kania.


“Jangan banyak bergerak, luka di lutut akan lama sembuhnya,” seru pria itu. Kania menatap wajah Elvan yang masih sibuk meniup luka agar tidak perih padahal usahanya tidak bisa menghilangkan rasa sakit dan perih yang dirasakan Kania.


Elvan menoleh dan tatapan mereka bertemu, pria itu sempat menelan salivanya saat memandang bibir Kania yang cukup menggoda mengingat kejadian malam panas mereka.


“Sudah selesai, ayo ke kamar,” ajak Elvan yang sudah beranjak berdiri.


Kania berdehem untuk menghilangkan gugup karena tertangkap basah sedang memandangi wajah Elvan. Sedangkan pria itu malah mengulum senyum dan mengulurkan tangannya. Maksud Elvan adalah ingin membantu langkah Kania karena lututnya akan terasa nyeri ketika ditekuk atau melangkah.

__ADS_1


...***...


Bintang baru saja tiba di rumah, menjelang makan malam. Wajahnya merona dan senyum tersungging di wajahnya mengingat pertemuan dengan Lukas baru saja. Pria itu terus menggoda membuat gadis itu tersipu malu bahkan merasa terbang melayang.


Belum pernah merasakan dekat dengan seorang pria atau merasakan jatuh cinta karena Yuda cukup kuat menjaga dan memastikan Bintang tidak salah pergaulan.


“Dari mana kamu?”


Bintang terkejut menatap Maminya yang berdiri sambil bertolak pinggang. Wajah gadis itu langsung berubah khawatir dan takut.


“Mami tanya dari mana?”


“Hm, kuli….”


“Jadwal kuliah kamu hari ini hanya sampai pukul tiga sore,” sela Nella.


Bintang menghela nafasnya, padahal dia hanya terlambat beberapa jam. Jelas dia tidak akan punya teman kalau cara Yuda dan Nella masih tidak berubah.


“Aku pergi ke café, apa tidak boleh?” tanya Bintang.


“Mami lihat aku? I'm fine, kalau ada masalah dengan makanannya aku pasti sudah tewas.”


“Kamu kalau dikasih tahu, ngeles aja kaya bajaj. Ke kamarmu sana, kita akan makan malam tapi tunggu papamu pulang.”


Bintang pun meninggalkan maminya tanpa berkata apapun. Tidak menyangka dengan status Bintang sebagai mahasiswa dan hampir berumur dua puluh tahun, sikap Yuda dan Nella dalam menjaganya tidak berubah.


Bintang merebah di ranjang setelah membersihkan diri, bahkan dia masih mengenakan bathrobe. Kakinya menjuntai ke lantai dengan tatapan pada langit-langit kamar. Ponselnya bergetar membuat dirinya beranjak, ternyata pesan dari Lukas.


[Nggak usah mikirin aku]


“Idih, percaya diri banget sih,” gumam Bintang sudah duduk di tepi ranjangnya.


[Kalau nyaman ya ajak ketemuan lagi dong]


“Malas banget,” keluh Bintang sambil tersenyum.

__ADS_1


[Nggak usah senyum-senyum. Dasar perempuan, lain di mulut lain di hati]


Bintang hanya membalas dengan emoticon kesal tapi kenyataannya dia senang bahkan wajahnya kembali ceria.


Sedangkan di kamar berbeda. Kania keluar dari walk in closet dengan ragu-ragu. Bagaimana tidak, karena luka di lututnya tidak memungkinkan dia mengenakan piyama panjang. Elvan menyarankan mengenakan celana di atas lutut.


Melangkah malu-malu menuju ranjang, sedangkan Elvan masih duduk bersandar dengan macbook di pangkuannya. Kania bersyukur Elvan sedang fokus, dia bergegas akan menaiki ranjang tapi Elvan malah menoleh membuat suasana menjadi canggung. Kania yang malu-malu dengan kostum yang dia kenakan, Elvan terperangah dengan penampilan istrinya.


Kedua kaki jenjang dan mulus Kania cukup menggoda iman, pria itu bahkan berkali-kali mengerjapkan matanya.


“Sudah mau tidur?” tanya Elvan saat Kania sudah mendudukan tubuhnya dengan hati-hati.


“Hm. Sudah malam dan mau ngapain juga, orang kakiku sakit.”


“Ya ngapain aja, banyak jenis aktivitas menjelang tidur.”


Kania bergidik membayangkan arah pembicaraan Elvan, pria itu juga merasa aneh dengan diri sendiri karena bisa-bisanya dia bicara terbuka seperti itu.


“Ehm, tidurlah. Aku pun ingin tidur.” Elvan meletakan macbooknya di atas nakas lalu berbaring dan mengganti lampu kamar dengan lampu tidur, walaupun sempat malu-malu dan kikuk keduanya pun akhirnya terlelap.


Entah jam berapa saat Kania merasakan guling yang dia peluk terasa sangat keras dan ….


“Aaa,” pekik Kania menjauhkan diri dari pelukan Elvan. Elvan pun terjaga dan melepaskan Kania dari dekapannya.


“Kenapa peluk-peluk aku?” tanya Kania.


“Kamu juga peluk aku,” sahut Elvan.


“Tapi ….”


“Sudahlah, kita seri atau mau aku kembalikan. Sini aku peluk lagi,” ujar Elvan.


“Hahh, dasar aneh.”


 

__ADS_1


__ADS_2