(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Melupakan Dendam


__ADS_3

Kania keluar dari mobil dibantu oleh Elvan. Dia merasa seperti orang sakit mendapatkan perhatian dari suaminya.


“Aku bisa sendiri,” gumam Kania.


“Ck ck ck, kemarin-kemarin ke mana aja Bung baru repot hari ini,” ejek Lukas. Mereka baru saja sampai di kediaman Hadi Putra.


Atensi mereka beralih pada mobil yang baru saja tiba, ternyata Damar yang datang. Pria itu langsung menghampiri Kania dan mencium kening wanita itu.


“Kamu sehat sayang?”


Kania mengangguk sambil tersenyum.


“Kalau pria ini berulah, tidak usah khawatir. Kita bisa kirim dia ke Timbuktu sekalian,” ujar Damar sambil menunjuk Elvan dengan dagunya.


“Dia istriku dan Anda bisa dampingi dia,” tunjuk Elvan pada Lukas.


Saat ini semua sudah berada di ruangan di mana akan dilangsungkan pernikahan Bintang dengan Lukas. Nella terlihat begitu sedih, melepas putrinya apalagi dengan Lukas dan awal hubungan mereka yang cukup pelik.


“Aku harap dengan pernikahan Bintang dan Lukas bisa merubah pola pikir dan menghilangkan dendammu,” ungkap Yuda.


Damar menghela nafasnya, meyakini jika yang diucapkan Yuda ada benarnya. Untuk apa mereka masih dendam kalau saat ini akan menjadi keluarga.


Tidak lama kemudian Bintang pun diantar masuk ke ruangan. Lukas memandangnya bahkan tidak berkedip. Mengenakan kebaya putih sederhana dengan tatanan rambut sederhana dan make up flawless. Bintang hanya menunduk tidak berani menatap setiap orang yang hadir.


“Aku titip anakku, dia akan menjadi tanggung jawabmu. Tolong jangan sakiti dia, dia berlianku,” tutur Nella sambil terisak.


“Tidak akan, aku akan berusaha membahagiakannya bukan menyakitinya.”


“Sudah bisa dimulai?” tanya penghulu.


Lukas, Bintang dan Yuda pun duduk di meja yang sudah disiapkan.


“Kamu cantik sayang,” bisik Lukas saat duduk berdampingan dengan Bintang, membuat wanita itu tersenyum.


Yuda mengulurkan tangan begitu pun Lukas yang menyambut uluran tangan tersebut. Lafadz ijab qobul dilantunkan oleh keduanya yang disambut dengan kata sah oleh yang menyaksikan. Bintang dan Lukas menandatangani berkas pernikahan mereka kemudian Lukas menyematkan cincin di jemari wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


Saat Lukas mencium kening Bintang, beberapa orang mengabadikan momen tersebut termasuk Kania. Elvan tidak lepas dari sisi Kania, kemana pun wanita itu beranjak selalu diikuti oleh Elvan.


Damar sedang bicara serius dengan Yuda, sedangkan Kania bersama Nella.


“Udah nggak sabar unboxing kamu,” bisik Lukas di telinga Bintang.


“Bukannya udah? Dalam perut aku hasilnya,” sahut Bintang.

__ADS_1


“Bedalah, kalau sekarang kan penuh perasaan dan dalam keadaan sadar,” ujar Lukas lagi.


Bintang menghela nafasnya mendengar ucapan Lukas yang kadang tidak terfilter.


“Nona Bintang, ini dari Nyonya. Katanya Non Bintang belum makan,” ujar salah satu asisten rumah tangga sambil menyodorkan segelas su _su khusus ibu hamil.


“Loh kamu belum makan? Ayo aku suapi,” ajak Lukas yang sudah meraih tangan Bintang dan satu tangan lainnya mengambil gelas yang diberikan oleh ART.


“Ihh, nggak ah. Aku minum ini aja.”


“Aku harap kamu lupakan sudah masa lalu, bagaimanapun kita sekarang berbesan dan bersaudara. Apa tidak malu dengan anak cucu kalau masih saja menyimpan dendam,” ujar Yuda.


Damar memperhatikan interaksi Kania dengan Elvan, walaupun wajah Kania terkadang cemberut pada Elvan yang mulai terlihat posesif tapi terlihat cinta dari keduanya. Juga Lukas dan Bintang, pasangan beda usia itu terlihat bahagia walaupun diawali dengan drama yang juga ulahnya.


“Maaf,” ujar Damar.


“Apa?” tanya Yuda yang tidak yakin dengan ucapan Damar.


“Maaf, karena pernah menyakiti putrimu,” ujar Damar lagi.


“Lupakanlah, mereka sudah bahagia. mungkin memang ini jalan untuk menyatukan dan membuat kita kembali bersahabat.”


“Hm.”


Sore itu, kediaman Yuda sudah kembali normal seperti biasa. Damar dan Kania sudah pulang, Elvan tentu saja ikut serta. Sedangkan Lukas dan Bintang sudah berada di kamar.


“Mami tidak akan izinkan aku tinggal tanpa mereka, jadi kamu yang harus tinggal di sini,” jelas Bintang.


“Tidak masalah, asal bersamamu,”sahut Lukas. Saat ini keduanya duduk di tepi ranjang, Lukas sudah mulai beraksi dengan menciumi pipi Bintang.


“Hentikan,” gumam Bintang.


“Kenapa?” tanya Lukas heran.


“Ra-sanya tidak percaya kalau kita sudah menikah, lagi pula ini masih siang.”


“Hm, oke. Aku akan sabar sampai nanti malam.”


“Ehhh.”


...***...


“Iya, aku sudah dalam perjalanan,” ujar Lukas.

__ADS_1


Pria itu masih menjadi asisten Damar khususnya urusan keamanan. Menatap Bintang yang masih terlelap di ranjangnya, setelah semalam melakukan malam pertama dalam keadaan sadar. Lukas pernah menyentuh Bintang tapi saat wanita itu sengaja dibuat mabuk.


Lukas duduk di samping Bintang lalu mengusap kepala istrinya.


“Sayang, bangunlah dulu. Aku akan berangkat, tidak mungkin meninggalkan kamu masih polos begini,” ujar Lukas.


Bintang mengerjapkan matanya.


“Kamu mau kemana?”


“Kerja, Papamu kaya raya tidak mungkin aku hanya diam saja di sini. Kamu bangun dan berpakaian, jangan sampai nanti Mami masuk kamu masih ….” Lukas menyibak selimut Bintang dan terkekeh.


“Lukaas,” pekik Bintang.


Lukas sudah tiba di kediaman Damar. Pria itu akan bekerja dari rumah dan ada hal yang akan dibicarakan dengan Lukas.


“Kamu apakan adikku?” tanya Elvan saat bertemu dengan Lukas.


“Mau aku bolak balik juga sudah hak aku, sekarang Bintang adalah istriku.”


“Kamu ….”


“Hei,” ujar Kania. “Kalian ini kenapa sih, seperti tikus dan kucing. Nggak pernah akur,” cetus Kania. “Bintang sudah menjadi istrinya Lukas, kamu tidak usah ikut campur. Kecuali Lukas menyakiti Bintang, barulah itu menjadi urusan kamu lagi.”


“Aku tidak akan menyakiti Bintang karena aku sangat mencintainya,” ungkap Lukas. “Tidak seperti kamu yang malah sibuk dengan wanita lain saat istrinya hamil,” ejek Lukas.


“Tidak begitu ….”


“Cukup! Lukas sebaiknya kamu segera temui Daddy dan kamu cepat berangkat,” titah Kania.


Lukas meninggalkan Kania dan Elvan sambil menjulurkan lidahnya.


“Dia yang mulai, kamu lihat sendiri ‘kan?”


“Kalian itu saudara ipar, jangan bertingkah seperti anak kecil begini.” Kania memeluk lengan Elvan dan mengajak pria itu ke luar, mengantar sampai mobil.


“Bagaimana kalau kita pindah ke rumah kita sendiri?”


“Hm, bicaralah dengan Daddy,” sahut Kania sambil tersenyum.


 


\=\=\=\=1 bab lagi tamat yesss 😊

__ADS_1


__ADS_2