(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Balas Mengancam


__ADS_3

“Maaf tadi Tuan Damar masih ada acara, jadi nggak mungkin aku tinggal,” ujar Lukas yang sejak sore dihubungi oleh Bintang.


Wanita yang sudah menjadi istrinya sejak beberapa bulan lalu, sering menghubungi ketika Lukas sedang bekerja. Selain semakin manja, Bintang kadang meminta berbagai macam makanan dengan alasan ngidam. Lukas tidak dapat menolak selain berusaha memenuhi, hanya saja terkadang Bintang meminta saat pria itu masih dalam jam kerja.


“Udah telat, aku maunya tadi sore,” ujar Bintang yang saat ini sedang menatap laptop di meja belajarnya. Bintang masih melanjutkan kuliahnya walaupun dalam keadaan hamil dan perut yang sudah membuncit.


Lukas merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kedua kaki tetap menjuntai ke lantai, dia sudah berusaha bergegas pulang dengan kondisi tubuh yang letih dan lagi-lagi dia harus membujuk istrinya yang sudah pasti merajuk.


“Aku bekerja sayang. Sedikit lengah, keselamatan Tuan Damar dalam bahaya.” Lukas bicara masih dengan posisi berbaring dan mata terpejam.


Bintang menoleh dan merasa kasihan dengan suaminya, terkadang dia meminta sesuatu bukan karena keinginan tapi hanya mengerjai Lukas.


“Mandi dulu baru istirahat, kamu dari mana langsung rebahan di ranjang.”


Pria itu langsung mengerjapkan matanya dan beranjak duduk.


“Masih mau nasi goreng di belakang kampus kamu?” tanya Lukas.


Bintang menggelengkan kepalanya.


“Terus mau apa? Aku nggak mungkin tidur di sofa, hari ini benar-benar lelah dan aku butuh ranjang,” ungkap Lukas. Biasanya Bintang akan menghukum Lukas denga tidur di sofa0 ketika marah.


“Siapa juga yang suruh tidur di sofa. Aku minta kamu mandi terus istirahat kalau perlu makan malam biar bibi antar aja ke kamar,” tutur Bintang yang sudah beranjak dari kursinya dan menuju ruang ganti mengambilkan pakaian ganti untuk Lukas.


Lukas masih menatap heran, khawatir jika Bintang serius merajuk.


“Bintang,” panggil Lukas.


Wanita itu menoleh, “Cepat, ini handuknya.”


Lukas menerima handuk yang disodorkan oleh Bintang kemudian menuju kamar mandi. Sempat menoleh ke arah Bintang sebelum menghilang di balik pintu.


“Mandiii,” pekik Bintang yang melihat Lukas masih menatapnya.


Sambil menunggu Lukas selesai dengan urusannya. Bintang bersandar pada headboard, sempat berkirim pesan pada Kania kakak iparnya. Apa yang dibahas melalui pesan membuat Bintang tersenyum bahkan sesekali terkikik.


Lukas yang baru saja keluar dari kamar mandi, berpikir negatif dengan ulah Bintang. langsung menghampiri sambil membawa baju ganti yang sudah disiapkan oleh istrinya.


“Asyik amat, balas pesan siapa sih?” tanya Lukas terselip nada kecemburuan.


“Hm, ada deh.”


“Ck, kemarikan ponsel kamu,” titah Lukas sambil mengulurkan tangannya menunggu Bintang menyerahkan ponsel miliknya.

__ADS_1


“Nanti aku balas dulu,” sahut Bintang tanpa menoleh.


“Bintang,” tegur Lukas.


“Apa sih?”


“Aku tidak suka kamu berhubungan dengan laki-laki di luar sana. Aku ….”


“Sejak kapan Kak Nia berjenis kelamin laki-laki,” sela Bintang.


“Nia, Kania?”


“Memang ada lagi Kania yang lain?”


Lukas mendengus kesal, karena kecemburuannya salah sasaran.


“Karena tadi sore gagal belikan aku nasgor dan barusan kamu bentak aku. Kaki dan punggung aku pegal, pijitin," rengek Bintang.


"Siap, asal nanti malam bolehlah aku nengok bayiku."


...***...


Tidak jauh berbeda dengan Elvan dan Kania, Kania sering menjahili suaminya untuk memenuhi apa yang diminta tentu saja dengan alasan bawaan bayi. Seperti tadi malam, Kania tidak bisa tidur karena menginginkan mie tektek dan harus buatan Elvan.


Pria itu membuatkan apa yang Kania minta sambil menonton tutorial dari youtub* dan setelah tersaji, Kania hanya mencicipi beberapa sendok setelah itu meminta Elvan yang menghabiskan.


“Rasanya bukan begini, seharusnya kamu tambahkan yogurt setelah buah dan esnya tercampur,” tutur Kania mengomentari juice yogurt buatan Elvan.


“Ya sudah, aku buatkan lagi,” usul Elvan.


“Eehh, jangan,” cegah Kania yang mengambil kembali gelas yang akan dibawa Elvan. “Ini aku habiskan saja, lain kali kalau mau buat sesuai dengan yang aku minta ya?”


Elvan menganggukkan kepalanya lalu mengusap perut Kania yang sudah membuncit. Pria itu menundukkan kepalanya, lalu mengajak bayi mereka bicara. Terkadang bayi dalam kandungan Kania merespon dengan gerakan atau tendangan.


“Kok diam aja, apa lagi tidur ya,” ujar Elvan.


“Ya pasti hanya tidur. Memang mau ngapain di dalam perut kalau bukan tidur. Nggak mungkin dia main bola,” sahut Kania.


“Kapan jadwal periksa lagi? Aku penasaran dengan jenis kelaminnya,” ungkap Elvan.


“Minggu depan,” jawab Kania setelah menghabiskan isi gelas lalu meletakkan di atas nakas.


Elvan masih berada di perut Kania, membuat wanita itu mengusap kepala suaminya yang asyik berbicara dengan perut buncit istrinya.

__ADS_1


“Apa, kamu ingin dijenguk Ayah?”


“Nggak usah aneh-aneh, itu sih maunya kamu,” cetus Kania mendengar candaan Elvan.


“Nggak aneh dong, wajarlah karena aku pria normal. Mana ada laki-laki yang tahan seranjang dengan istri cantik dan seksi lalu dianggurin gitu aja.”


“Tau ah, aku mau tidur.” Kania menepuk bantalnya dan siap merebahkan diri.


“Ayolah sayang, semalam kita nggak ngapa-ngapain.”


“Semalam kita tidur dan sekarang juga tidur,” sahut Kania yang sudah merebah bahkan mencoba memejamkan mata.


“Kamu diam aja, biar aku yang bekerja.”


Elvan melepaskan pakaian Kania juga pakaiannya. Penolakan dari mulut Kania hanya angin lalu karena berikutnya wanita itu sangat menikmati bahkan berkali-kali mendessah karena sentuhan Elvan.


.


.


Hari di mana jadwal kontrol kehamilan Kania pun tiba, Elvan sengaja meluangkan waktu untuk menemani. Saat ini mereka sudah berada di rumah sakit. Berjalan di sepanjang koridor menuju poli kandungan, Kania memeluk lengan Elvan diikuti oleh Abil dan satu orang lainnya.


“Padahal aku bisa periksa sendiri,” ujar Kania.


“Mana mungkin aku biarkan kamu sendiri, dia anakku. Aku harus tau bagaimana perkembangannya dan kesehatan kamu juga.”


“Elvan,” panggil seseorang membuat pasangan itu berhenti melangkah dan menoleh ke arah suara. “Elvan, kamu ke mana aja. Kenapa sekarang susah dihubungi.”


Kania menghela nafasnya, Alexa sudah berdiri di hadapan Elvan seakan mengabaikan Kania. Bahkan kalau tidak ingat mereka sedang berada di tempat umum, wanita itu mungkin memeluk Elvan.


“Ngapain juga Elvan harus merespon situ, jelas-jelas dia punya istri. Nggak capek ya, ngejar-ngejar suami orang. Situ waras?”


“Maaf Alexa, kamu sudah dengar bukan. Aku sudah beristri dan kamu sebaiknya berhenti menghubungiku." Elvan dan Kania kembali melangkah.


“Elvan, aku tidak main-main. Aku bisa menyakiti diriku lebih dari yang sebelumnya,” ancam Alexa.


“Silahkan, tapi sebelum kamu lakukan itu aku akan laporkan kepada pemilik rumah sakit ini kalau salah satu dokternya memiliki gangguan jiwa dengan mengancam orang lain agar keinginannya dikabulkan.” Elvan balas mengancam Alexa.


“Ayo, keburu ramai,” ajak Kania lalu menjulurkan lidahnya pada Alexa yang masih memandang sengit pada pasangan itu.


 


\=\=\=\=

__ADS_1


Eh,satu bab lagi deh 🥰🤭


 


__ADS_2