
Lukas menunggu kedatangan Elvan, setelah itu dia akan menemui Bintang. Kali ini tidak perlu sembunyi bahkan melompati pagar dan menaiki balkon. Benar saja, tidak lama Elvan sudah terlihat di rumah sakit tapi Lukas tidak segera mengizinkan pria itu menemui Kania.
“Apa maksudmu? Bukankah kamu menghubungiku agar menemui Kania?”
“Betul, tapi pastikan dulu di sini hanya ada Kania,” ujar Lukas sambil menunjuk dada Elvan.
Elvan menghela nafasnya, ternyata ulah dia membantu Alexa membuat semua orang salah paham dan sulit pula mengembalikan kepercayaan kalau dia tetap pada pernikahannya dengan Kania.
“Tentu saja, Alexa hanya masa laluku.”
“Kalau sampai terjadi lagi, aku lihat kamu dengan wanita lain dalam konteks aneh … kamu tahu sendiri aku akan bagaimana,” ujar Lukas. “Tuan Damar besok akan kembali ke Jakarta, dia belum tahu kalau menantunya ini yang mendampingi Kania. Jadi siap-siap saja ya,” tutur Lukas.
Elvan tidak peduli, dia bergegas masuk ke kamar rawat dan melihat Kania terbaring lemah dengan infus di salah satu pergelangan tangan. Wajah pucat Kania membuat Elvan semakin merasa bersalah. Tidak menduga kalau Kania bahkan menyembunyikan kehamilannya dan memilih pergi.
Pria itu duduk di samping ranjang istrinya, ingin menyentuh tangan, perut atau bahkan wajah Kania tapi urung. Khawatir sentuhannya malah akan membuat Kania terbangun. Hampir satu jam menunggu sambil menatap wajah istrinya, akhirnya Kania terjaga.
“Kania, apa yang kamu rasakan? Perlu aku panggilkan dokter?” tanya Elvan.
Kania heran dengan keberadaan dia di kamar yang diyakini adalah rumah sakit bahkan ada Elvan di sana.
“Di mana Lukas?” tanya Kania.
Elvan berdecak mendengar Kania malah menanyakan keberadaan pria lain.
“Aku suamimu Kania, kenapa malah mencari Lukas?”
“Karena dia harus bertanggung jawab dengan menghadirkan kamu di sini,” ungkap wanita itu.
“Kania, aku ayah dari bayimu dan masih suamimu.”
“Hanya beberapa bulan lagi. Hanya setahun bukan?”
Elvan mengusap kasar wajahnya karena Kania mengatakan apa yang pernah Elvan sepakati sepihak dengan Kania kalau pernikahan mereka hanya setahun.
Sebagai suami pengganti dan melaksanakan pernikahan agar pemberitaan buruk mengenai dirinya dan keluarga reda, apalagi bukan atas dasar cinta maka Elvan mengatakan syarat seperti itu pada Kania.
“Awalnya aku memang mengatakan demikian tapi ….”
“Apa kamu ingin mempercepat? Baiklah, aku siap,” sahut Kania memotong ucapan Elvan.
“Tidak, siapa bilang aku ingin percepat. Ayolah Kania, aku memang salah sempat merespon Alexa tapi itu terpaksa. Dia berkali-kali ingin bunuh diri tapi aku sudah katakan pada Ayahnya kalau aku tidak bisa mengikuti apalagi menerima permintaannya.”
“Aku tidak peduli, sebaiknya kamu pergi aku ingin istirahat.”
“Aku akan temani.”
Kania mendengus kesal mendengar Elvan yang begitu keras kepala tetap tinggal di kamar dan menemaninya.
__ADS_1
“Kamu istriku wajar kalau aku menemani dan merawatmu. Apalagi saat ini ada Elvan junior di sini,” tutur Elvan sambil mengusap perut Kania yang terlihat seperti orang kembung karena usia kehamilannya baru tiga bulan.
...***...
Lukas keluar dari mobilnya sambil bersiul, Bimo yang menyadari kehadiran pria itu hanya menggelengkan kepala. Saat ini Lukas mendatangi kediaman Hadi Putra, untuk menemui Bintang.
“Ada apa?” tanya Bimo.
“Tidak ada, hanya ingin menemui kekasihku …ups ralat maksudku calon istriku.”
Lukas bahkan menepuk bahu Bimo saat melewatinya.
Nella menatap Lukas dari kepala sampai kaki saat asisten rumah tangga mengatakan ada yang ingin menemui BIntang.
“Bisa-bisanya kamu dengan santai tidak merasa bersalah datang kemari ingin menemui putriku,” bentak Nella.
“Tenang Nyonya, aku sangat merasa bersalah makanya ada di sini. Apa Tuan Yuda ada? Atau aku boleh langsung menemui Bintang?”
“Tidak ada dan kamu sebaiknya pergi,” titah Nella. “Bimo,” pekik wanita itu yang mengarahkan agar membawa Lukas pergi.
Bimo menatap Lukas, dia tidak bisa mengusir pria itu karena Yuda sepertinya sudah memberikan peluang untuk Lukas bertanggung jawab. Kalau dipikir memang hal itu yang terbaik untuk Bintang dari pada harus melewati kehamilan di luar nikah bahkan tanpa suami.
“Lihat nyonya, dia tidak berani mengusirku,” ujar Lukas menunjuk Bimo.
“Mamih,” panggil Bintang.
“Iya sayang,” jawab Nella. “Diam di sini dan jangan menunjukkan dirimu di hadapan Bintang,” titah Nella.
“Tidak bisa. Aku harus menemui calon istriku.”
“Hei,” tegur Bimo karena Lukas malah menuju arah suara Bintang.
Nella sudah menemani Bintang di meja makan. Putrinya ingin makan sesuatu yang berkuah dan hangat. Nella sudah perintahkan asisten rumah tangga dan saat ini menemani Bintang sampai makanannya siap.
“Morning, calon istriku,” sapa Lukas.
Bintang tidak menduga ada Lukas datang. Nella kembali histeris dan mengusir Lukas.
“Mami,” panggil Bintang melihat Nella yang emosi.
“Apa sayang, kamu butuh hal lain? Usir dia misalnya,” tunjuk Nella pada Lukas.
Bintang menatap Lukas, walaupun masih sakit mengingat apa yang dilakukan pria itu terhadapnya tapi menerima pertanggungjawaban Lukas adalah yang terbaik dari pada dia harus melahirkan tanpa status sebagai seorang istri.
“Mamih, aku akan ikut apa kata Papa yang akan menerima dia sebagai suamiku.”
“Bintang, Mamih tahu kamu ….”
__ADS_1
“Hei, jangan pengaruhi calon istriku,” sela Lukas.
“Tapi dia putriku,” sahut Nella.
“Ada apa ini?” tanya Yuda yang memang masih ada di rumah.
“Kamu seharusnya tidak beri laki-laki ini kesempatan. Lihat saja gayanya,” keluh Nella.
Yuda mengajak Lukas menjauh dari meja makan dan membiarkan istri serta putrinya tidak histeris. Mereka akan bicara di ruang kerja Yuda.
“Ada apa sepagi ini kamu mengacau di rumahku?”
“Aku datang menjenguk Bintang sekaligus membicarakan masalah pernikahanku dengan Bintang,” ungkap Lukas.
Yuda memijat pelan dahinya.
“Pernikahan akan berjalan tapi cukup keluarga kita yang tahu. Tidak akan ada resepsi dan pemberitaan.”
“Oke, tidak masalah,” ujar Lukas.
“Kita langsungkan minggu depan, di sini di rumahku,” ujar Yuda lagi.
Diskusi kedua pria itu pun akhirnya selesai, saat akan beranjak dan tidak sabar untuk menemui Bintang. Yuda malah menahan Lukas.
“Tidak ada pertemuan dengan Bintang sampai pernikahan kalian berlangsung.”
“Apa?”
Sedangkan di rumah sakit, Kania yang harus ke toilet dibantu oleh Elvan. Sudah menolak bantuan dan sentuhan dari Elvan tapi Kania akhirnya pasrah saat pria itu memaksakan kehadirannya.
“Mau apa di sini?” tanya Kania yang sudah berada di toilet dan akan duduk di closet tapi Elvan masih berdiri menatapnya.
“Menemani kamu, aku takut kamu butuh bantuan.”
“Ck, keluar. Bagaimana bisa aku buang air tapi ditonton begini,” keluh Kania.
“Kenapa tidak bisa? Aku sudah melihatnya dan merasakannya jadi ….”
“Keluar,” titah Kania. “Kalaupun aku butuh bantuan akan panggil kamu,” pekik Kania.
“Oke, aku tunggu di depan atau aku berbalik saja? Aku yakin kamu akan kesulitan membasuh area itu dan ….”
“Elvan, keluarrrr!”
\=\=\=\=
Selamat Idul Fitri, bagi yg merayakan 🥰
__ADS_1