
“Kania pergi? Pergi ke mana?” tanya Nella.
Elvan memijat dahinya, kepalanya berdenyut nyeri. Kurang tidur dan mendapatkan kenyataan Kania pergi dari rumah, bahkan Papa dan Maminya menuduh ini adalah salah Elvan.
“Elvan,” pekik Nella karena belum mendapatkan jawaban.
Yuda hanya diam, menunggu penjelasan putranya. Dia sudah mendapatkan informasi kepergian Kania tapi alasan wanita itu pergi mungkin hanya Elvan yang tahu.
“Aku tidak tahu Mih.”
“Ada apa ini? Mami dan Papa kamu hanya pergi ke luar kota untuk mengurus adikmu tapi kalian ada masalah, bahkan kamu sendiri tidak tahu ke mana Kania pergi,” tutur Nella. “Yuda, kepalaku rasanya mau pecah.” Nella beranjak meninggalkan Elvan dan Yuda, menuju kamarnya.
“Pak Lim,” teriak Nella. “Minta pelayan menemani Bintang, aku harus istirahat agar tetap waras.”
Yuda menghela nafasnya, masih menatap Elvan.
“Jadi, apa masalahnya sampai Kania pergi?”
“Salah paham Pah, ini hanya salah paham.”
“Apa salah paham Kania karena kamu kembali dekat dengan Alexa?” Yuda menunggu respon Elvan.
“Aku hanya menolong Alexa, sepertinya Kania salah paham dan ….”
“Selesaikan! Jika menurutmu hanya salah paham, maka selesaikan. Temukan Kania.”
Elvan menyugar rambutnya, memikirkan ke mana wanita itu pergi. Tidak mungkin dia kembali ke kampung halamannya.
“Toko bunga. Aku akan cari ke sana.”
.
__ADS_1
.
“Kania?” tanya Adam. “Kalau kalian datang menanyakan Kania, artinya Kania tidak ada di rumah. Dia kabur?” tanya Adam lagi.
“Cepat katakan pada Kania agar segera keluar dan berhenti bermain-main. Hidupku bukan untuk mengurus hal seperti ini,” tutur Elvan dengan nada emosi.
“Keluar dari mana? Kania tidak ada di sini. Terakhir aku bertemu dengannya waktu dia ke rumah sakit,” ungkap Adam. “Hei, teman-teman. Orang kaya ini mengira Kania ada bersama kita,” teriak Adam. “Sepertinya dia tidak tahu harus mencari Kania ke mana,” ujar Adam.
“Ck, jika Kania datang sampaikan untuk segera pulang.”
“Sampaikan sendiri. Kalau dia tidak menemui kami, artinya dia tidak ingin ditemukan,” ungkap Adam.
Elvan merutuk dalam hatinya mendengar apa yang diucapkan Adam. Apa mungkin Kania memang tidak ingin ditemukan.
“Menyusahkan saja,” keluh Elvan.
Sedangkan di tempat berbeda, Kania duduk bersandar di ranjangnya. Wajah pucatnya membuat Damar khawatir bahkan mendatangkan seorang dokter dan saat ini dokter tersebut sedang bicara dengan Damar mengenai hasil pemeriksaan.
“Iya. Anakku tidak bersalah, aku bisa pergi kalau ….”
“Kania, anakmu adalah cucuku. Bagaimana bisa aku membiarkan anak dan cucuku menderita di luar sana.”
Kania menundukkan wajahnya. dia masih ragu menerima ketulusan Damar, karena kecewa pada keluarga Yuda.
“Apa yang membuatmu meninggalkan keluarga itu?”
“A-aku salah, dari awal hubungan ini sudah salah.”
Kania menjelaskan mengenai Bayu sampai dia harus menikah dengan Elvan. Termasuk kedekatan Elvan dan Alexa.
“Alexa putri dari Javis?” tanya Damar.
__ADS_1
“Entahlah, aku tidak mengenalnya. Sementara aku tidak ingin bertemu dengan Elvan atau keluarganya.”
“Tentu saja, nikmati keberadaanmu di sini. Aku bahagia walaupun banyak waktu kita yang sudah tersita,” tutur Damar. “Mulai sekarang panggil aku, Daddy.”
Kania mengangguk pelan.
“Aku akan temui Yuda dan mengatakan kebenaran siapa dirimu.”
...***...
“Mami, aku tidak melihat Kak Nia,” ujar Bintang.
“Kania pergi.”
“Pergi ke mana? Kak Elvan nggak ikut?”
“Sudahlah, kamu tidak usah pikirkan Elvan dan Kania. Fokus pada kesehatanmu,” titah Nella.
Bintang membuka ponselnya, ada pesan dari kontak yang tidak dikenal.
[Bintang, bisa kita bertemu. Ada yang harus aku jelaskan]
“Ini siapa?” gumam Bintang.
[Siapa?] balas Bintang.
[Lukas]
Brak.
Tidak sengaja ponsel yang dipegang Bintang terlepas dari genggaman mengetahui pesan yang masuk dari Lukas.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak ingin bertemu dengannya.” Bintang meninggalkan ponselnya yang masih tergeletak di lantai, bergegas menuju kamarnya.