
Kania memandang cincin pernikahan di jari tangannya. Tidak lama kemudian, pintu kamar rawat Elvan terbuka dan keluarlah Alexa. Kedua wanita itu sesaat saling pandang, tapi kemudian Alexa berjalan dengan angkuh melewati Kania.
Kedua pria yang menunggu di depan kamar Elvan menduga kalau Alexa adalah dokter yang bertugas memantau kondisi Elvan.
“Mbak tunggu di dalam saja,” pinta Abil. “saya sudah diminta untuk mendampingi Mbak Kania, jadi saya akan tunggu di sini,” ujar Abil lagi.
Kania pun beranjak masuk, lalu duduk di kursi tepat di sebelah ranjang Elvan. Hanya duduk dan tidak mengatakan apapun.
“Maaf.”
Kania menoleh.
“Kamu jadi terlibat dengan urusan keluargaku.”
“Apa keluarga kaya raya selalu berseteru seperti ini, sampai saling menyakiti?”
“Tidak juga, sepertinya ini urusan masa lalu Papa.”
Kania menghela nafasnya, sebenarnya dia bertanya-tanya bukan masalah nyawanya sempat terancam karena serangan dari Lukas tapi karena obrolan Elvan dengan wanita tadi yang sedikit banyak didengar.
Saat ada visit dokter, Elvan sudah diperbolehkan bergerak dan turun dari ranjang, dibantu oleh perawat dia merubah posisi berbaring bahkan sampai beranjak duduk.
“Sudah boleh turun ya, jadi kalau mau ke toilet sudah bisa tapi pelan-pelan saja jalannya.”
“Terima kasih, Sus,” ujar Kania.
Menjelang malam, Kania masih berada di kamar rawat Elvan. bahkan Abil sudah mengantarkan makan malam untuk gadis itu.
“Kamu tidak pulang?” Elvan sebenarnya tidak tega melihat Kania ikut sibuk dengan kondisinya.
Namun, berbeda dengan penerimaan Kania. Gadis itu menduga kalau Elvan mungkin ingin ditemani dengan kekasih Elvan yang tadi datang.
“Apa kamu terganggu? Aku bisa tunggu di luar, tidak mungkin aku pulang karena sudah janji dengan tante Nella akan jaga kamu malam ini.”
“Hah, bukan begitu. Maksudku … ah sudahlah.”
Sebenarnya Elvan khawatir Kania lelah atau tidak nyaman berada di rumah sakit, tapi dia tidak pandai mengungkapkan maksudnya.
Makan malam Elvan juga sudah diantar, termasuk obat yang harus dikonsumsi pria itu.
“Biar aku bantu suapi,” ujar Kania.
Ranjang Elvan sudah dinaikkan dan Kania menyuapi suaminya dengan telaten serta memastikan pria itu meminum obatnya. Kania juga menikmati makan malamnya yang tadi diantar oleh Abil.
Melihat pergerakan Elvan, Kania yang sedang duduk di sofa pun menghampiri.
“Butuh sesuatu?”
“Aku ingin ke toilet.”
__ADS_1
Kania membantu Elvan turun dan membawakan infusan Elvan.
“Aku tunggu di luar, panggil aku jika butuh sesuatu,” tutur Kania.
Elvan agak kesulitan melepaskan celananya tapi dia enggan meminta Kania membantunya, tentu saja hal itu akan membuat canggung keduanya.
“Apa sudah selesai?” tanya Kania karena Elvan sudah cukup lama di dalam.
“Sebentar.”
Setelah mendengar flush closet, Kania membuka pintu toilet dan membantu Elvan kembali ke ranjang dan mendekatkan tombol darurat agar mudah di jangkau oleh Elvan. Memastikan Elvan sudah tertidur, Kania pun berbaring di ranjang khusus penunggu pasien.
...***...
Kania terjaga mendengar percakapan, walaupun dia belum membuka matanya dia menyadari kalau itu suara wanita.
“Ini bubur kesukaanmu, kita sering menikmati ini kamu masih ingat ‘kan?”
“Alexa, jangan begini. Ada Kania ….”
“Lalu kenapa?” tanya Alexa memotong ucapan Elvan. “Aku lebih dulu dicintai olehmu dan pernikahan kalian hanya hanya untuk citra keluarga.”
Kania tidak membuka matanya, berpura-pura kalau dia masih tertidur.
“Alexa.”
“Oke, aku akan pergi tapi jangan abaikan teleponku setelah kamu sudah boleh pulang. Aku tidak ingin hubungan dan komunikasi kita memburuk. Aku masih pegang janjimu kalau kalian akan bercerai setelah setahun.”
Kania tidak langsung bangun setelah Alexa pergi, menunggu beberapa saat barulah dia mengerjapkan matanya.
“Kamu butuh sesuatu? Atau perlu aku panggilkan dokter?” Kania bertanya seolah dia tidak mendengar percakapan Elvan dengan kekasihnya.
“Tidak. Aku baik-baik saja.”
Tentu saja kamu baik-baik saja, kekasihmu mengunjungi terus, batin Kania lagi.
“Wah, sudah ada sarapan. Mau aku suapi?”
“Itu buka sarapan dari rumah sakit, ada yang mengantar ke sini.”
“Owh, apa bodguardmu yang memberikan ini?” taya Kania ingin tahu kejujuran Elvan.
“Bukan, ada seorang teman yang tadi datang menjenguk.”
“Ahh, teman.”
Teman kepalamu, jelas-jelas wanita itu kekasihmu.
“Selamat pagi, hai sayang. Bagaimana kabarmu?” Nella sudah datang dan akan bergantian lagi dengan Kania.
__ADS_1
“Lebih baik,” jawab Elvan.
“Hm. Kamu boleh pulang sayang,” titah Nella pada Kania. “Tidur di rumah sakit tidak nyenyak bukan, jadi tidurlah. Biar Elvan jadi urusan Mami.”
Kania pun membereskan bawaannya, tas dan sweater yang dipakai saat dia tidur. Elvan menatap kepergian Kania, apalagi gadis itu hanya pamit pada Maminya.
“Hush, jangan diliatin begitu. Sabar aja, kalau sudah boleh pulang ke rumah kamu puas-puasin deh bersama Kania.
Kania berjalan diikuti Abil, di koridor menuju parkiran dia berpapasan dengan Alexa. Kania acuh karena dia tidak mengenal wanita itu secara langsung, berbeda dengan Alexa yang mencibir dan bergumam ketika melewati Kania.
“Dasar aneh,” ujar Kania.
“Kita langsung pulang, Mbak?” tanya Abil ketika sudah berada di mobil.
“Hm.”
Dalam perjalanan pulang, Kania sempat berkirim dan berbalas pesan dengan Adam. Sahabatnya itu menanyakan kondisi Kania karena tahu gadis itu sempat berada di tengah keributan bahkan suaminya sampai terkena tembakan.
Setiba di kediaman Hadi Putra, Kania melewati ruang kerja Ayah mertuanya dan tidak sengaja mendengarkan percakapan dalam ruangan karen pintu yang tidak tertutup rapat.
“Sepertinya Damar sudah menabuh genderang perang. Kalian tetap fokus pada keselamatan keluarga ini, usahakan hanya fokus pada keselamatan kami bukan memprovokasi mereka. Aku sudah tidak ingin hidup di dunia hitam, itu semua sudah masa lalu.”
“Kami perlu tahu motivasi pihak mereka, karena ini penting untuk kami berstrategi.”
Sepertinya Yuda sedang berdiskusi dengan tim pengawalan keluarganya, untuk mengantisipasi pihak musuh yang kembali berniat jahat.
Tidak ingin ketahuan mendengar apa yang dibicarakan, Kania pun bergegas ke kamar. setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian dia menuju ke ruang makan untuk sarapan.
Sedangkan di tempat berbeda, Damar mendapatkan titik terang keberadaan dua bocah yang hilang dua puluh tahun yang lalu.
“Di mana aku bisa menemukan mereka?” tanya Damar.
“Bocah itu sempat dibawa mereka dan tinggal di kampung. Ini alamatnya, kami bisa kirim orang untuk mencari ke sana.”
“Jangan, aku yang akan pergi ke sana. Aku sendiri yang akan pastikan keberadaan bocah itu.”
“Tuan Damar, Lukas ingin bertemu.”
“Hm.”
Lukas dengan pongah memasuki ruangan di mana Damar berada dan sedang menerima tamu. Setelah rekan Damar sudah meninggalkan ruangan, pria itu menyampaikan apa yang sudah dia lakukan pada anggota keluarga Yuda.
“Bagaimana kalau putra Yuda tewas, semua bisa kacau.”
Lukas terkekeh. “Jangan anggap remeh kemampuanku, aku sudah memperkirakan kalau tembakan itu hanya akan melukai bukan membuatnya m4ti.”
\=\=\=\=\=
Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya
__ADS_1