
Semua bertanya-tanya dengan keberadaan Bintang di kantor polisi. Bahkan saat Yuda menanyakan posisi Bintang semalam pada Nella, wanita itu tidak bisa menjawab. Setelah makan malam semua melihat gadis itu menuju kamarnya.
"Kita jemput sekaligus memastikan alasan keberadaan dia di sana," ujar Yuda.
"Maaf Tuan, sebaiknya tuan Yuda tidak usah ikut," usul Bimo.
"Bintang tidak dikenal tapi kehadiran Papa di sana akan menjadi hidangan lezat untuk pencari berita. Biar aku, Bimo dan Pak James yang menjemput bintang," ujar Elvan yang akan mengikutsertakan pengacara keluarga.
"A-aku ikut," usul Nella.
"Jangan," sahut Yuda. "Kita tunggu di rumah."
Agar tidak menyita perhatian, Elvan hanya membawa satu orang pengawal selain Bimo. Sudah berada di kantor polisi dan mendapatkan kejelasan mengenai Bintang yang terjaring razia kelab malam yang diadakan pagi tadi.
Pak James selaku pengacara langsung mengurus kebebasan Bintang bahkan harus menutup mulut pihak-pihak terkait agar nama Bintang tidak diproses dan tidak sampai tercium media.
Elvan menghela nafasnya melihat kondisi bintang yang cukup berantakan. Wajahnya sembab tertunduk malu, segera Elvan memberikan jaket untuk melapisi tubuh adiknya yang hanya mengenakan dress bahkan alas kaki wanita itu entah kemana.
"Pakai masker ini," titah Bimo pada Elvan dan Bintang. Di luar gedung sudah banyak wartawan, tentu saja mereka tidak ingin menjadi bahan pemberitaan.
Selama dalam perjalanan pulang tidak ada pembicaraan apapun. Bintang hanya terlihat gugup dan takut, kedua tangannya saling meremmat dan wajah menunduk. Sesekali dia mengusap wajahnya.
Sampai rumah Bintang bergegas ke kamar, mengurung diri di kamar mandi. Nella berkali-kali menggedor pintu dan berteriak.
"Hentikan, biar dia tenang dulu. Kita tanya Elvan kronologinya," ajak Yuda pada Nella.
Bintang duduk di bawah guyuran shower, menyesali ulahnya yang percaya pada Lukas. Merasakan kalau sesuatu dari dirinya telah dirampas oleh pria itu.
"Aku benci kamu, Lukas," gumam Bintang di tengah isak tangisnya.
Tidak mengingat terlalu jelas kejadian semalam tapi merasakan aneh pada tubuhnya saat di terjaga berada di ruangan yang tidak dia kenal. Sakit di bagian inti serta tubuh polos hanya berbalut selimut.
Saat dia sudah mengenakan kembali pakaiannya yang tercecer di lantai bahkan masih belum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Ada beberapa orang membawa senjata merangsek masuk dan membawanya ikut ke dalam mobil dan berakhir di kantor polisi.
__ADS_1
Bukan hanya rasa hina tapi malu luar biasa mengingat apa yang sudah dia lewati.
Sedangkan di ruang kerja Yuda, Nella menangis dalam pelukan suaminya mendengar kronologi mengapa Bintang berada di kantor polisi.
Tidak menduga putrinya tertangkap saat razia prostitusi di kelab malam.
"Cari tahu mengapa Bintang bisa ada di sana. Aku yakin dia dijebak." Yuda bertitah dengan rahang mengeras.
"Sementara pastikan dia aman, tempatkan penjagaan dan jangan sampai dia berbuat nekat. Hubungi psikolog untuk Bintang konsultasi, dia pasti syok."
"Apa mungkin ini ulah Lukas?" Elvan bergumam.
Bimo menjelaskan foto kedekatan Bintang dan Lukas.
Brak.
Yuda menggebrak meja di hadapannya.
"Pah, kita baru berencana mengamankan situasi. Ternyata sudah kejadian," sahut Elvan.
Kania yang mendengar penjelasan Elvan mengenai kondisi Bintang pun berniat menemui Damar atau Lukas.
"Sepertinya ini kontak Tuan Damar." Kania menghubungi kontak tersebut.
Dua kali nada panggil, langsung terdengar suara di ujung sana.
“Kania, ada apa sayang?” tanya Damar di ujung telepon.
“Aku ingin bertemu,” pinta Kania.
“Tentu saja, kapan pun aku siap,” sahut Damar di ujung telepon.
“Hm, besok saja. Aku tidak mungkin memberitahu Elvan kalau akan menemuimu.”
__ADS_1
Tidak lama panggilan pun berakhir.
...***...
Lukas beranjak dari posisinya berbaring, dia memikirkan apa yang dia lakukan pada Bintang. Menyugar rambutnya lalu menghela nafas.
“Hahh.”
Setelah kejadian malam tadi, hasil pengambilan gambar dan video saat Lukas menyentuh Bintang diserahkan pada Damar yang katanya akan digunakan untuk menekan Yuda.
“Kenapa aku bisa sebrengsek ini,” gumam Lukas sambil mengusap kasar wajahnya. Pagi itu Lukas meninggalkan Bintang begitu saja karena ada informasi kalau tempat tersebut akan dirazia. Dia bahkan tidak sempat membangunkan Bintang. Lukas mencoba menghubungi Bintang tapi nihil, kontak wanita itu tidak aktif.
Pria itu beranjak dari tempat tinggalnya. Mengemudikan mobil menuju kediaman di mana Bintang selama ini. Sampai di depan kediaman itu, Lukas tidak keluar dari mobil karena terlihat penjagaan rumah yang cukup ketat. Dia hanya sendiri, sehabat-hebatnya ilmu bela diri yang dia miliki kalau harus melawan semua orang itu tetap saja dia kalah.
“Aku akan pikirkan cara untuk kita bertemu lagi,” ujar pria itu kemudian melajukan mobilnya.
Dengan tubuh yang menggigil karena terlalu lama berada di bawah guyuran air, Bintang yang sudah mengenakan piyama membuka ponselnya. Menghapus semua riwayat panggilan dan pesan dari Lukas termasuk juga memblokir kontak pria itu.
“Kenapa kamu begitu jahat,” lirih Bintang.
Terdengar ketukan pintu dan masuklah Nella. Walaupun masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada putrinya bahkan banyak pertanyaan dibenaknya, tapi kekhawatiran dengan kondisi fisik dan psikis putrinya lebih penting.
“Sayang, kamu belum makan. Kita makan ya atau mau Mami bawakan ke sini makanannya?”
“Aku belum lapar Mih,” sahut Bintang lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dan menyelimuti dirinya.
“Dipaksakan ya, sedikit saja. Mami tidak mau kamu sakit,” bujuk Nella.
Bintang menggelengkan kepalanya.
“Aku lelah Mih, bisa tinggalkan aku sendiri.”
Menghargai keputusan putrinya, Nella pun mengalah. Saat ini kondisi Bintang tidak bisa dipaksa untuk melakukan apapun termasuk mengakui kejadian sebenarnya dan siapa yang sudah membuatnya berada di situasi tidak terbayangkan oleh dirinya juga keluarga.
__ADS_1