(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Jalan Sore


__ADS_3

Elvan baru saja keluar dari ruang kerja Yuda, setelah membicarakan beberapa persoalan termasuk ulah Lukas di mana didalangi oleh Damar. Yuda tidak menjelaskan detail kalau Damar dan dirinya pernah ada urusan di masa lalu.


“Papa tunggu di meja makan, ajak istrimu juga Bintang,” titah Yuda.


“Hm.”


Elvan akan ke kamar untuk memanggil Kania, tapi urung setelah mendengar suara istrinya juga Bintang dari arah beranda samping. Terdengar kekehan serta tawa lepas dari Kania yang tidak pernah wanita itu lakukan ketika bersama dirinya.


Apa dia terlalu membenciku sampai tidak pernah tersenyum apalagi tertawa di hadapanku, batin Elvan.


“Ehem.”


Bintang, Kania dan Abil yang sedang berceloteh menoleh dan menghentikan tawa mereka.


“Sedang apa kalian di sini, kami sudah menunggu di meja makan,” ujar Elvan sambil memandang Kania.


Abil yang tahu diri kalau dirinya hanya bekerja, langsung undur diri.


“Aku kira Papa masih lama diskusi dengan Kak Elvan,” sahut Bintang sambil berlalu menuju meja makan.


Kania yang berada dalam pandangan Elvan merasa kikuk.


“Apa kamu ingin berdiri di situ terus?”


Kania baru akan membuka mulut untuk menjawab tapi Elvan sudah meraih tangannya.


“Ayo, aku sudah lapar.”


Kania berjalan sambil menatap tangannya yang berada dalam genggaman Elvan. Hari ini sudah dua kali Elvan menautkan jemari tangannya. Sejujurnya wanita itu merasa seakan terlindungi dengan sikap Elvan kali ini, tapi tidak ingin terlalu berharap karena hati siapa yang tahu.


...***...


Bintang sudah berbaring di ranjangnya, saat ponsel yang tadi diletakkan di atas nakas bergetar. Ada notifikasi pesan masuk dari nomor baru.


“Ini siapa, aku belum kenal nomer ini,” gumam Bintang.


[Aku tagih janjimu, besok. Café x]


“Siapa sih?” gumamnya lagi, lalu membalas pesan tersebut.


[Janji apa? Ini siapa?]

__ADS_1


Tidak lama ada balasan pesan


[Aku takdirmu, seharusnya tadi kamu traktir aku. Besok aku tidak sibuk, aku tunggu]


“Ah, pria tadi siang.”


Sedangkan di tempat berbeda, Lukas tersenyum karena idenya cukup efektif.


“Kalau besok dia datang, semuanya akan semakin mudah. Tinggal aku pikirkan cara menemukan Kania dan Tuan Damar,” gumam Lukas.


“Apa yang akan terjadi kalau wanita itu tahu dia adalah putra Tuan Damar. Akan ada perseteruan lagi dan aku yang akan disibukkan,” keluh Lukas kemudian berbaring di ranjang dan menatap langit-langit kamarnya.


Jika bukan keluarganya berhutang budi pada Damar, dia pun enggan menjadi bawahan pria itu dan selalu melakukan hal yang terkadang mengarah pada kejahatan.


...***...


Bintang baru saja mengakhiri kuliah terakhir untuk hari ini. Teringat janjinya pada pria yang dia temui di taman.


“Datang nggak ya? Tapi aku sudah janji,” gumam Bintang.


Gadis itu sudah masuk ke dalam mobil dan supir sekaligus pengawalnya sudah menghidupkan mesin mobil tapi Bintang masih belum memberikan titah ke mana mereka akan pergi.


“Nona, kita langsung pulang atau ….”


Benar saja, tidak lama kemudian ponselnya bergetar dan ternyata ada pesan masuk.


[Jangan ingkar dari janjimu, aku menunggu]


Mobil yang membawa Bintang sudah terparkir di depan sebuah café, sang supir menawarkan diri ikut masuk tapi dicegah oleh Bintang.


“Maaf Nona, sudah tugas saya mengawasi dan menjaga Nona Bintang.”


“Tapi aku tidak ingin terlihat sedang dikawal olehmu,” keluh Bintang.


“Tenang saja Nona, saya akan masuk tidak bareng dengan Nona dan menempati meja yang agak jauh dari tempat Nona berada."


Bintang sudah berada di dalam café dan menatap sekeliling, mendapati pria yang sudah menunggunya dengan meja berada di sudut ruangan.


“Aku pikir kamu akan ingkar.”


“Aku bukan orang yang biasa obral janji, tapi aku ragu kalau kemarin kita kebetulan bertemu. Apa kamu sengaja menemukanku di sana?”

__ADS_1


Pria di hadapan Bintang terkekeh, mendengar pertanyaan gadis itu. Karena kenyataannya memang pertemuan itu sudah diatur dengan sengaja.


“Apa kamu pikir aku tidak ada kerjaan sampai harus dengan sengaja mengatur momen agar kita kebetulan bertemu? Aku orang sibuk, Nona.”


“Siapa namamu?” tanya Bintang.


“Lukas,” jawab pria itu tanpa ragu.


Lukas tersenyum sinis melihat seorang pria memasuki café dan menempati meja tidak jauh dari tempatnya berada. Tentu saja dia tahu kalau pria itu bertugas mengawasi Bintang.


Bintang dan Lukas terlibat dalam percakapan dan Bintang tidak menaruh curiga pada pria dihadapannya. Bahkan terlihat kalau Bintang nyaman dengan pria dihadapannya.


Sedangkan di tempat berbeda, Kania sudah berada di beranda rumah dan akan keluar saat Elvan tiba.


“Mau kemana?”


“Hm ….” Kania ragu untuk menjawab, kalau dia ingin menikmati sore dengan berjalan-jalan.


Elvan mengernyitkan dahinya.


“Aku ingin jalan ke taman, sebelumnya aku pernah lihat ada fasilitas taman di daerah ini,” ujar Kania.


Kediaman Yuda berada di area pemukiman mewah dan memang ada taman yang merupakan fasilitas hunian tersebut.


“Aku temani,” ujar Elvan.


“Eh, tidak perlu. Kamu baru saja pulang, pasti ….”


“Aku temani atau kamu tidak boleh keluar.”


Kania dan Elvan sudah berada di area taman yang sore itu terlihat cukup ramai. Banyak bocah berlarian dan bermain di sarana permainan yang ada, para Ibu dengan balita juga beberapa orang yang terlihat sedang berolahraga sore.


Walaupun terasa aneh karena mereka diikuti oleh dua orang pengawal yang berjalan agak jauh di belakang, tapi Kania menikmati suasana taman sore itu. Tiba-tiba terdengar teriakan seorang Ibu.


“Jambret, tolong … dompet saya.”


Penjahat yang dimaksud ibu itu berlari melewati Kania dan Elvan.


“Kania, minggir,” ujar Elvan karena penjahat itu membawa senjata tajam. Elvan menoleh dan terkejut karena Kania malah mengejar pria yang sudah melakukan penjambretan.


“Kalian kejar istriku,” titah Elvan yang kemudian ikut mengejar Kania.

__ADS_1


 


__ADS_2