
Kania memegang gelas juice yang sudah kosong. Sejak tadi dia memikirkan bagaimana menyampaikan kondisi kehamilannya pada Elvan. Sedangkan Yuda dan Nella kembali diuji dengan Bintang yang juga sedang hamil, Elvan yang sibuk membuat kesalahpahaman dengan Kania. Elvan pulang lebih larut karena kesibukannya dan Kania sudah tidur saat pria itu tiba.
Pagi ini Kania sengaja bangun lebih awal, tapi sudah tidak ada Elvan di sampingnya. Sepertinya Elvan sudah berada di ruang ganti karena pintu ruangan itu terbuka. Kania bermaksud menyapa Elvan tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Elvan sedang berbicara.
“Tidak bisa Alexa, saat ini aku sibuk dengan perusahaan lagipula aku tidak ingin membohongi Kania dengan menemuimu.”
Deg.
Kania menarik nafasnya mendengar nama Alexa yang disebut oleh Elvan. Meskipun dalam percakapan itu, Kania mendengar penolakan Elvan tapi maksud dan permintaan Alexa tidak diketahui. Kania akhirnya menuju toilet, semakin mendengar kan banyak hal hanya akan menambah banyaknya pertanyaan dalam benaknya.
Agak lama Kania berada di dalam toilet, selain membersihkan diri dia harus mengeluarkan isi perutnya karena efek morning sickness dan saat selesai tidak menemukan Elvan di kamar. Entah karena Kania yang terbawa perasaan atau hormon kehamilannya, Kania menangis tanpa suara.
“Apa susahnya menunggu, hanya untuk sekedar menyapa,” gumam Kania.
...***...
Seharian ini cukup berat bagi Kania merasakan gejolak gejala kehamilannya. Wajahnya pucat dengan tubuh lemas bahkan apa yang dia makan tidak bisa dicerna karena langsung dimuntahkan lagi.
“Nona, ada paket untuk anda,” ujar seorang pelayan wanita yang menyerahkan amplop coklat tertera namanya sebagai penerima. “Nona sakit? Apa perlu saya panggilkan Pak Lim?”
“Jangan, aku hanya perlu istirahat.” Kania menerima paket untuknya, “Bisa bawakan aku teh hangat?” pinta Kania.
Setelah pelayan pergi, Kania membuat amplop di tangannya. Ternyata lembaran hasil uji tes DNA yang menyatakan kalau sampel DNA Kania dan Damar 99,9% cocok dan ada hubungan. Kania memijat kepalanya yang terasa pening, urusan kehamilannya belum sempat dia sampaikan pada Elvan dan dia dihadapi dengan kenyataan Ayah kandungnya yang berseteru dengan mertuanya.
“Halo.” Kania menjawab telepon yang berasal dari Damar.
“Halo, sayang. Kamu sudah terima hasil tesnya.”
“Tuan Damar, aku ….”
“Jangan, jangan panggil aku tuan Damar tapi Daddy.”
“Bisa kita bicarakan hal ini nanti, aku sedang tidak sehat.”
“Kamu sakit apa? Biar daddy datang menjemputmu.”
“Kita bicarakan lain kali.”
Kania ingin meletakan ponselnya di atas nakas tapi tiba-tiba pandangannya kabur dan dia tidak sadarkan diri.
Kania mengerjapkan matanya pelan, menyesuaikan pandangan dengan sinar lampu ruangan. Kepalanya terasa berdenyut, lalu menatap sekeliling dan ternyata dia sedang berbaring di ranjang.
__ADS_1
“Kamu baik-baik saja? Apa perlu aku bawa ke rumah sakit?”
Kania menoleh, ada Elvan yang duduk di sofa sambil menatap ke arahnya.
“Kania, bukannya aku tidak memahami kondisimu tapi aku tidak bisa hanya duduk menunggumu yang tidak sadarkan diri. Aku akan panggil dokter keluarga dan ….”
“Tidak perlu,” sela Kania yang sudah beranjak dari posisinya bahkan sudah duduk di tepi ranjang dan siap bangun saat terdengar pintu kamarnya di ketuk.
“Maaf Tuan Elvan, ada tamu dan katanya darurat”
“Siapa?” tanya Elvan.
“Tuan Javis, Ayah dari dokter Alexa.”
Elvan meninggalkan kamar, walaupun masih dengan tanda tanya mengenai kedatangan pria yang gagal menjadi mertuanya. Kania yang mendengar nama Alexa pun penasaran, bergegas meninggalkan kamar untuk mencari tahu apa maksud kedatangan Ayah dari Alexa menemui Elvan.
Elvan menemui tamunya bukan di ruang khusus, Kania berdiri di balik tembok dan mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan.
“Tolong saya, selamatkan Alexa. Walaupun usaha bunuh dirinya dapat digagalkan tapi kemungkinan dia melakukan lagi sangat besar. Alexa putri saya satu-satunya,” tutur Tuan Javis.
“Dengan saya menemui Alexa, sama saja saya memberikan harapan untuknya.”
Kania menjauh, khawatir jika ketahuan dia menguping pembicaraan Elvan dan Javis. Tidak lama kemudian Elvan kembali ke kamar, menghampiri istrinya yang masih duduk di tepi ranjang padahal tadi sempat mendengarkan obrolan mereka.
“Kania, aku harus pergi. Istirahatlah,” titah Elvan.
Alih-alih mengikuti apa yang diminta Elvan, Kania mengambil cardigan serta ponselnya lalu meminta Abil mengantarkan dirinya mengikuti mobil Elvan yang sudah meninggalkan rumah.
“Kita mau ke mana Mbak?” tanya Abil supir sekaligus pengawalnya.
“Ikuti saja mobil Elvan.”
“Mbak, baiknya kita kembali saja ya. Mbak Kania sedang sakit, saya bisa terancam kalau kayak begini.”
Ternyata mobil Elvan memasuki pelataran rumah sakit, tentu saja Kania bisa menyimpulkan untuk apa Elvan ke rumah sakit tersebut selain menemui Alexa. Tanpa diketahui oleh Elvan, Kania berjalan agak jauh mengekor langkah Elvan sampai akhirnya pria itu memasuki salah satu kamar rawat inap.
“Jadi dia benar menemui Alexa.”
Tidak lama setelah Elvan masuk ke ruangan itu, Tuan Javis keluar. sepertinya memberikan waktu untuk Elvan dan Alexa bicara. Kania berjalan mendekat ke pintu dan membuka sedikit celah, mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Elvan dan Alexa.
“Untuk apa kamu kemari?”
__ADS_1
“Alexa, jangan begini. Ini hanya akan menyakitimu,” seru Elvan.
“Aku begini karena tidak bisa tanpamu Elvan. Aku hanya butuh kamu,” rengek Alexa.
Tidak terdengar sahutan Elvan.
“Tidak bisakah kamu lepaskan Kania dan kembali padaku.”
“Alexa, aku tidak bisa putuskan apapun. Aku tidak janji tapi akan berusaha menjengukmu, jangan lakukan hal bodoh yang hanya merugikanmu. Apa yang kamu lakukan bisa mengancam profesimu.”
“Aku tidak peduli. Bagaimana kalau kita pergi dan tinggalkan semua. Hanya kita berdua saja,” ajak Alexa.
Terdengar helaan nafas Elvan. “Alexa, sabarlah dulu. Aku sudah minta waktumu setahun.”
“Bagaimana kalau setahun yang aku berikan kamu malah semakin jauh. Kamu jatuh cinta dengan wanita itu,” pekik Alexa.
“Artinya kita memang tidak berjodoh.”
Alexa terkekeh, “Kenapa aku merasa kalau kamu memang mulai mencintainya? Jangan-jangan kamu sudah tidur dengannya? Iyakan?”
“Alexa ….”
“Ternyata benar, kalau pria bisa melakukan itu meski tanpa rasa cinta berbeda dengan para wanita.”
Deg.
“Ini salah, seharusnya aku tidak dengar ini dan seharusnya aku memang tidak menikah dengan Elvan,” gumam Kania.
Dia memutar tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu tapi kakinya terantuk kaki kursi menimbulkan suara.
Elvan keluar dari kamar dan memandang sekeliling, salah satu pengawalnya menghampiri.
“Tuan mencari siapa?”
“Aku seperti mendengar seseorang ….”
“Ah, tadi ada Nona Kania.”
“Kania, ada di sini?” tanya Elvan.
Untuk apa Kania di sini, apa dia mendengar apa yang aku bicarakan.
__ADS_1