(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Dua Wanita Hamil


__ADS_3

Kania terbangun karena rasa tidak nyaman dengan tubuhnya dan menyadari tidak ada Elvan. Lampu kamar masih dengan suasana temaram dan pintu balkon juga tertutup rapat.


“Elvan kemana?”


Kania berjalan menuju pintu tapi terhenti, merasakan perutnya bergejolak. Dia pun bergegas menuju toilet dan membungkuk di wastafel mengeluarkan isi perutnya. Saat mengangkat kepala, Kania merasakan pusing bahkan dia harus berpegangan pada pinggiran wastafel agar tidak terjungkal.


“Ada apa denganku? Jangan sampai aku sakit.”


Setelah merasakan kepalanya tidak sesakit tadi, Kania pun kembali ke ranjang. Berbaring dan menyelimuti diri sambil memijat pelan dahinya. Pandangannya beralih ke pintu karena kedatangan Elvan.


“Loh, kamu bangun?” tanya Elvan dengan raut wajah khawatir, entah khawatir karena apa.


“Dari mana?” tanya Kania.


“Hm, dapur. Tiba-tiba pengen kopi.”


Kania percaya saja dan tidak persoalkan lagi. Dia butuh kembali tidur karena kepalanya terasa semakin berat. Bahkan saat Elvan memanggilnya, Kania bergeming kemudian terlelap.


.


.


Seminggu setelah pertemuan dengan Damar, Kania mendapatkan kabar kalau video sudah di take down termasuk pemberitaan walaupun tidak menyebutkan nama Bintang.


Elvan pun mengakui, bukan karena usahanya masalah Bintang selesai tapi entah siapa yang sudah membantu keluarganya. Tanpa diketahui kalau Kania lah yang bernegosiasi dengan Damar.


[Resto X, jam makan siang]


[Bawa sampel untuk tes DNA]


Lukas mengirimkan pesan pada Kania. Wanita itu masih belum bisa move on dengan ranjang hangatnya. Fisiknya bukan semakin baik tapi semakin lemah. Tiap pagi Kania akan merasakan sakitnya cukup parah, karena rasa mual muntah yang begitu hebat tapi agak lebih baik menjelang siang dan sore hari. Esok pagi, rasanya akan muncul lagi.


“Ah, rasanya aku tidak sanggup kalau harus pergi keluar,” gumam Kania yang kembali menarik selimut.


Elvan yang sudah berangkat sebelum Kania terbangun, ternyata kembali lagi ke kamar karena ada berkas yang tertinggal.

__ADS_1


“Kania, sampai kapan kamu akan terus tidur?”


Deg.


Kania membuka matanya, ucapan Elvan barusan membuat hatinya tidak nyaman. Seakan dia memang seorang yang malas, padahal dia sedang tidak sehat dan Elvan tidak peduli dengan kondisi istrinya.


“Aku tidak enak badan,” sahut Kania yang mencoba duduk. Kepalanya terasa berputar dan mual kembali dia rasakan.


“Jangan manja, aku masih disibukkan dengan perusahaan. Pemberitaan tentang video Bintang baru reda dan Papa serta Bunda masih fokus pada mental dan kesehatan Bintang.”  


Kania menghela nafasnya, berharap dia akan dimanja dan diperhatikan nyatanya Elvan malah acuh. Kania pun merubah pertemuan dengan Lukas menjadi di rumah sakit, sekalian Kania memeriksakan dirinya.


Saat di rumah sakit, Kania sengaja menghindar dari Abil lalu menemui Lukas. Memberikan beberapa helai rambutnya pada pria itu untuk dilakukan tes DNA.


“Pergilah, aku tidak ingin menambah masalah dengan terlihat bersamamu,” ujar Kania.


“Bagaimana kondisi Bintang? Dia tinggal di mana, aku harus menemuinya,” tutur Lukas.


“Untuk hal itu, aku tidak berani sampaikan.”


Kania meninggalkan Lukas lalu memeriksakan kondisinya. Dia menduga ada masalah dengan pencernaannya jadi dia konsul dengan poli penyakit dalam yang malah diarahkan pada poli kandungan. Ponsel wanita itu terus bergetar baik itu notifikasi pesan dan panggilan dari Abil, sedangkan Kania saat ini sedang diperiksa oleh dokter.


“Ha-mil? Saya hamil, dok?”


“Iya, betul.”


Perawat membantu Kania turun dari brankar pemeriksaan lalu dokter memberikan resep vitamin yang harus dikonsumsi oleh Kania. Wanita itu masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa dia sedang mengandung.


“Bulan depan, konsultasi diantar oleh suaminya ya Bu. Bukan hanya Ibu saya yang menjaga, suami pun harus siaga.”


Kania hanya menganggukkan kepalanya.


“Mbak Kania,” tegur Abil yang melihat Kania sedang duduk di kursi tunggu.


Kania yang sedang memandang hasil USGnya dan surat yang menjelaskan kehamilannya menoleh, melihat ada Abil dia segera menyimpan foto dan surat tadi ke dalam tas.

__ADS_1


“Waduh Mbak, saya bisa habis kalau ketahuan Mbak hilang dan kenapa-kenapa.”


“Aku tidak hilang dan baik-baik saja, lagipula keluarga itu sedang tidak peduli apa yang terjadi denganku.” Kania menuju farmasi dan kasir untuk mengurus pembayaran dan mengambil vitaminnya.


Sepanjang perjalanan, Kania hanya menatap ke luar jendela. Dalam benaknya dia bertanya-tanya dan menduga apa yang akan Elvan lakukan jika mendengar dia hamil.


Sedangkan di tempat berbeda.


Yuda dan Nella kembali dikhawatirkan dengan kondisi Bintang yang kemarin sempat tidak sadarkan diri. Kondisi kejiwaannya yang depresi sudah membaik setelah beberapa kali konsul dan terapi.


“Sayang, makan dulu ya,” ujar Nella yang melihat Bintang sudah lemas dan pucat.


Yuda memutuskan membawa Bintang ke rumah sakit walau sempat mendapat penolakan dari putrinya tapi orang tua itu memaksa. Keduanya menunggu di depan UGD karena Bintang masih dalam pemeriksaan.


“Keluarga pasien Bintang,” panggil seorang perawat.


Yuda dan Nella menghampiri.


“Suami Nona Bintang?”


Baik Yuda ataupun Nella tidak mengerti kenapa malam menanyakan suami. “Kami orang taunya, ada apa dengan putri kami.”


“Ikut saya temui dokter, nanti dijelaskan.”


Dokter pun menjelaskan kondisi Bintang yang termasuk mengkhawatirkan. “Tekanan darah rendah, kurang nutrisi dan pasien sedang hamil. Saran saya untuk rawat inap dan konsultasikan kondisi pasien dengan dokter obgyn.”


“Apa, hamil?” tanya Yuda memastikan yang dia dengar tidak salah.


“Iya, silahkan diurus untuk rawat inapnya.”


Pasangan suami dan istri itu mencoba tegar demi putri mereka, walaupun Nella rasanya ingin berteriak. Bintang yang mengetahui dirinya hamil semakin menutup diri. Dia hanya melamun dan mengikuti apa yang Nella arahkan tanpa banyak bicara.


“Sayang, kamu jangan takut. Ada Mami dan Papa yang temani kamu.”


“Aku … mau pulang,” pinta Bintang padahal baru semalam dia dalam perawatan di rumah sakit.

__ADS_1


“Kamu akan pulang setelah dokter yang menyarankan untuk pulang,” ujar Yuda.


“Aku baik-baiks aja, kita pulang Mih. Di rumah aku akan nurut apa yang diminta Mami dan Papa tapi bawa aku pulang.”


__ADS_2