
Kania beranjak dari sofa, selimut yang dipakai saat tidur melorot ke lantai lalu melangkah mendekati Elvan. Saat ini keduanya sudah berhadapan. Gadis itu sedikit menengadah dengan tatapan menghunus tajam ke arah Elvan.
“Kenapa? Tidak suka dengan apa yang aku ucapkan barusan?”
“Aku tidak paham di mana salahnya didikan orang tuamu. Mereka baik, kaya dan terhormat sudah pasti memberikan pendidikan yang paling baik untukmu tapi kenapa mulutmu lebih rendah dari pada aku yang hanya merasakan pendidikan seadanya,” tutur Kania dan cukup membuat mulut pria dihadapannya bungkam.
“Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, jadi jangan bersikap seolah-olah aku adalah penyebab semuanya. Kamu pikir aku bahagia menikah denganmu di hari dan tanggal yang seharusnya aku menikah dengan laki-laki yang aku cintai.” Kania bertutur dengan santai tapi cukup menghujam.
“Kamu bilang satu tahun bukan? Sabarlah, satu tahun itu sebentar. Aku harap kamu tidak berubah pikiran saat itu.”
Kania menunduk meraih kasar selimut dan membawanya ke walk in closet. Elvan masih terpaku dengan ucapan Kania, tidak lama terdengar teriakan gadis itu bahkan Elvan sempat terkejut.
“Ada apa dengannya, kenapa berubah menyeramkan,” gumam Elvan.
Saat ini Elvan dan Kania duduk bersisian walaupun berjarak, di depannya sudah ada Yuda dan Nela. Tentu saja mereka akan membahas Kania yang menjadi viral dengan artikel bersama pria yang diketahui bernama Lukas.
“Untuk sementara ini kamu tidak boleh beraktivitas di luar,” ujar Yuda dan tentu saja perintah itu diperuntukkan kepada Kania. “Kita harus membuat artikel lain untuk meredam hal ini," cetus Yuda.
“Kenapa kalian tidak pergi honeymoon, Mami rasa ini ide bagus,” ujar Nela yang memiliki rencana lain, apalagi kalau bukan semakin mendekatkan Elvan dan Kania.
Kania dan Elvan langsung menatap Nela mendengar ide yang tidak disukai oleh keduanya.
“Mami jangan aneh-aneh, honeymoon … mana mungkin ide itu bisa meredam semua artikel ….”
“Tunggu,” sela Yuda memotong ucapan Elvan. “Mami kamu benar, kita jalankan rencana ini.”
Kania hanya diam mendengarkan Elvan dan Yuda berdebat, karena ide atau apapun yang dia sampaikan belum tentu diterima oleh kedua pria itu. dia lebih tertarik menerima dan menjalankan hidupnya dengan tenang sampai satu tahun ke depan.
“Sebenarnya apa hubunganmu dengan pria itu?” tanya Nela setelah Yuda dan Elvan berhenti bicara.
“Tidak ada Tante, aku mengenalnya beberapa hari yang lalu itu pun tidak sengaja. Mobilnya menghalangi saat aku ingin ke toko. Aku minta Abil balik arah, pria itu menumpang sampai ke bengkel terdekat,” tutur Kania.
Yuda langsung membuka tabletnya dan memperlihatkan artikel di mana foto Kania dan Lukas menaiki mobil.
__ADS_1
“Karangan bunga yang aku kerjakan ternyata pesanan pria itu, saat itu dia mengajakku bersalaman. Aku pikir bukan hal buruk, ya aku jabat saja tangannya.”
Foto Kania dan Lukas yang bersalaman ini pun menjadi materi artikel lainnya.
“Ini terencana, memang ada yang sengaja merencanakan hal ini,” seru Nela yang disetujui oleh Yuda.
“Tapi untuk apa?” tanya Elvan. “Kenapa harus dia, kenapa bukan aku atau Papa yang langsung dituju.”
“Kalau Kania yang dibahas, orang tidak akan mengira kalau ini adalah permainan. Panggil Bimo dan Pak Lim untuk mengatur perjalanan honeymoon kalian,” titah Yuda. Kania bergeming mendengar perintah Yuda, berbeda dengan Elvan yang merespon tidak menyetujui ide tersebut dan beda lagi dengan Nela yang tersenyum penuh arti.
...***...
“Anggap saja berlibur,” ujar Bimo yang duduk di samping kemudi. Elvan yang berada di kabin belakang berdecak mendengar ucapan Bimo.
Pria itu masih tidak terima dengan rencana Papanya. Bimo menggantikan Bayu mengurus dan memastikan keamanan anggota keluarga Hadi Putra, di mana fokus utamanya adalah di sisi Elvan.
“Aku pria normal, walaupun hatiku masih untuk Alexa tapi setiap hari harus melihat gadis itu … bisa-bisa pertahananku runtuh,” keluh Elvan.
Bimo hanya terkekeh mendengar pengakuan Elvan.
“Ck, tidak usah aku bahas di sini. Yang ada kalian membayangkannya, ingat dia wanitanya Bayu,” tutur Elvan.
“Dan sekarang sudah menjadi istrimu Tuan Elvan,” seru Bimo. “Sudah diatur, kalian berangkat besok. Perjalanan satu minggu, Bali dan Lombok. Aku tidak mungkin mempersiapkan perjalanan ke luar negeri dengan waktu sesingkat ini,” tutur Bimo. “Selamat menikmati honeymoon anda Tuan,” ejek Bimo yang mendapatkan decakan dari Elvan.
Bukan hanya Elvan yang sedang sibuk dengan menjalankan salah satu perusahaan Hadi Putra, Kania pun disibukkan dengan ulah Nela yang membuat gadis itu harus mengikuti macam-macam kelas dengan memanggil langsung pengajar ke rumah.
Seperti saat ini Kania sedang mendengarkan arahan dari stylish tentang mengatur rambut dan make up sederhana.
“Ayo silahkan Nona Kania coba!”
“Padahal keluarga ini mampu untuk menyewa MUA untuk apa aku harus sibuk dengan mengatur rambut dan make up sendiri,” gumam Kania.
Kania ternyata mudah menyerap informasi, dia sudah menguasai dasar-dasar make up dan menata rambut sederhana yang bisa digunakan sehari-hari atau acara-acara tidak resmi.
__ADS_1
“Bagaimana?” tanya Nela yang baru saja bergabung.
“Tante, bisa berikan aku kelas lain?”
“Masih ada yang kurangkah? Kepribadian, bahasa asing, kelas ini juga … apalagi yang belum?” tanya Nela.
“Bela diri, boleh aku belajar itu?”
“Hahhh.”
Kania ditemani Abil sudah berada di dalam sasana yang biasa digunakan para pengawal keluarga Hadi Putra melatih bela diri. Ada ring tinju, matras untuk berlatih, juga beberapa alat lainnya. Bahkan saat ini ada beberapa orang yang sedang berlatih.
Kedatangan Kania tentu saja mengalihkan perhatian mereka. Kania yang terbiasa melatih anak-anak dan menggerakan tubuhnya butuh tempat untuk melatih kemampuan bela dirinya. Walaupun dia tidak mengatakan kalau dia sudah memiliki dasar bela diri.
“Ada yang bisa kami bantu, Nona?” tanya salah seorang pria. Tentu saja mereka tahu siapa Kania.
“Owh, tidak ada. Lanjutkan saja aktivitas kalian,” ujar Kania.
“Kamu bantu aku, aku perlu melatih tendanganku. Aku sudah lama tidak bergerak,” titah Kania dan Abil.
Nela yang menyusul Kania dan menyaksikan menantunya berkali-kali menendang kick pad yang dipegang Abil hanya bisa membuka mulutnya tidak percaya.
“Ya Tuhan, menantuku seperti preman. Dia bisa mengangkat kakinya setinggi itu. Bagaimana jika suamiku tahu dan Elvan ….”
“Sayang,” teriak Nela menghentikan latihan Kania. “Kemarilah,” titahnya pada Kania.
“Kenapa Tante?”
“Sudah dulu ya, cukup untuk hari ini. Kamu sudah berkeringat dan …. Mami takut lihat kamu seperti itu, ayo kembali ke kamarmu. Mandi dan terapkan ilmu make up yang sudah kamu dapatkan,” ajak Nela menarik tangan Kania.
“Tapi Tante, ini baru setengah jam. Biasanya aku berlatih sampai dua jam dan ….”
“Apa?” pekik Nela yang menghentikan langkahnya juga langkah Kania. “Dua jam, kamu bergerak seperti tadi selama dua jam?”
__ADS_1
Kania mengangguk pelan menjawab pertanyaan Nela.