
Nella masih berdiri di depan pintu, dia melihat ke bawah pintu lalu mematikan lampu di lorong membuat pergerakan di dalam terlihat bayangannya di bawah pintu. Wanita itu yakin kalau ada dua orang di dalam kamar.
“Hei,” panggil Nella pada asisten rumah tangganya yang lewat. “Ambilkan kunci cadangan,” titah Nella sambil berbisik.
Sedangkan di dalam kamar, Bintang masih berdebat dengan Lukas. Pria itu enggan pergi dan kembali ke ruang ganti Bintang.
“Aku bisa tidur di sini,” ujar Lukas.
“Apa maksudmu, jangan buat situasi semakin tidak nyaman. Kamu pikir aku tidak muak melihatmu, rasanya aku ingin ….”
“Apa? Ingin membunuhku? Ayo, lakukan. Agar aku lega dan tidak terus menerus merasa bersalah.”
Bintang terdiam mendengar Lukas sepertinya tidak main-main tapi dirinya yang korban di sini.
“Aku hanya ingin menemanimu dan ikut merawat kamu, aku tahu awal kehamilan tidak akan mudah. Aku lihat sendiri Kania tersiksa, apa kamu juga begitu?”
“Aku begini karena ulahmu?”
“Nah, untuk itu biarkan aku tetap di sini. Sudahlah, cepat berbaring. Ini sudah malam.” Lukas mendudukan BIntang di ranjang dengan menekan pelan pundak wanita itu sedangkan dirinya masih berdiri di hadapan Bintang.
Mereka masih berdebat saat kunci pintu dibuka dari luar dan ….
“Apa yang kalian lakukan?” pekik Nella membuat Bintang dan Lukas menoleh ke arah pintu.
“Mamih.”
“Pergi kamu!” teriak Nella yang sudah berdiri di antara Bintang dan Lukas bahkan Lukas sampai mengangkat kedua tangannya bahwa dia tidak bersenjata.
Teriakan Nella dan asisten rumah tangga yang berada di depan kamar Bintang membuat Elvan dan Yuda mendekat.
“Mih, ini tidak seperti yang terlihat,” ujar Bintang.
“Memang aku lihat apa? Apa yang kalian lakukan juga aku tidak bisa lihat, pantas saja kamu sering mengunci pintu jadi karena dia,” pekik Nella lagi.
“Aku bisa jelaskan, keberadaanku di sini karena ingin melihat Bintang dan calon anakku.”
“Apa, calon anakmu?” tanya Nella.
“Ada apa ini?”
“Ah, kebetulan sekali sudah lengkap jadi aku bisa sekalian menyampaikan niatku,” ungkap Lukas ketika melihat sudah ada Yuda dan Elvan yang ikut bergabung.
“Dasar brengsekk,” pekik Elvan yang sudah mencengkram kerah baju Lukas bahkan akan memberikan bogem mentah tapi ditahan oleh Yuda.
“Ikut Papa, kita bicara di bawah. Termasuk kamu, Bintang,” titah Yuda.
Semua sudah berkumpul di ruang kerja Yuda, pria itu merasa masalah semakin pelik dan membuat kepalanya pusing. Bahkan dia sempat memijat kepalanya.
“Hati-hati darah tinggi, jangan emosi,” tutur Nella.
__ADS_1
“Apa tidak kebalik, kamu yang emosi dengan berteriak di kamar Bintang,” sahut Yuda membuat Nella menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Yuda menatap Lukas dan Bintang bergantian, jika Lukas terlihat tetap pongah dan tidak ada rasa takut berbeda dengan Bintang yang hanya menunduk, sambil meremmas celana piyama yang dia kenakan.
“Bimo, bagaimana bisa si lakn4t ini bisa masuk ke kamar Bintang,” tunjuk Elvan pada Lukas saat Bimo ikut hadir atas perintah Yuda.
Bimo menghela nafasnya, kemampuan Lukas memang tidak bisa diprediksi tapi dia yakin kalau Lukas tidak masuk dengan cara baik-baik lewat pintu utama.
“Sepertinya anda menyelinap lewat balkon?” tanya Bimo.
“Ah, sekalian aku sampaikan kalau keamanan rumah ini buruk dan kalau aku ingin berbuat jahat, dia sudah sejak kemarin-kemarin terluka,” tunjuk Lukas pada Bintang.
“Memang hanya kamu yang ingin melukai putriku, bahkan sampai dia hamil,” pekik Nella.
“Nella,” tegur Yuda.
“Untuk apa kamu temui Bintang?”
“Bintang mengandung anakku,” sahut Lukas dengan entengnya. “Aku menyesal dengan apa yang pernah aku lakukan bahkan aku sudah jelaskan dan … aku ingin bertanggung jawab.”
“Tidak bisa,” teriak Nella. “Jangan izinkan dia menikahi Bintang, bagaimana kalau putri kita disakiti lagi,” bujuk Nella pada Yuda.
“Tenanglah Nella, kamu semakin panik hanya akan membuat Bintang resah. Lihatlah,” ujar Yuda.
Semua menatap Bintang yang terlihat tremor.
“Maaf, semua karena aku. lagi-lagi aku,” ujar Bintang.
“Kamu lihat? Bintang baru saja membaik setelah dia konsultasi dengan psikolog. Dia depresi dan sekarang hamil. Seharusnya kalau kamu memang punya niat baik bukan begini caranya,” tutur Yuda.
“Pah, maafkan aku. Biarkan dia pergi, aku siap mengikuti apa yang Papa dan Mami minta tapi biarkan dia pergi.”
“Nella bawa Bintang ke kamarnya.”
“Pah, please,” rengek Bintang.
“Tunggu,” pekik Lukas yang sudah berdiri dan akan menghampiri Bintang.
“Mau ke mana lo?” tany Elvan menarik tubuh Lukas agar kembali ke tempat semula.
“Wow, santai bro. Harusnya kita kerja sama biar gue bisa muluskan langkah lo untuk ketemu Kania.”
“Diam!”
Suasana kembali hening setelah Yuda menginterupsi.
“Lukas, pergilah. Kita akan bicarakan lain kali terkait permintaanmu,” ujar Yuda.
“Tapi Pah ….”
__ADS_1
“Elvan, dengarkan Papa. Bukan hanya Bintang yang bermasalah di sini, kamu pun sama.”
“Oke, besok aku kembali lagi. Kali ini lebih manusiawi, lewat pintu utama. Jangan khawatir Bintang, semua akan baik-baik saja,” ujar Lukas bahkan sempat menepuk bahu Bimo.
“Pah, bagaimana bisa kita terima tanggung jawab Lukas,” ujar Nella. Yuda menatap Bintang yang masuk menunduk dengan wajah sendu.
“Ajak putrimu ke kamarnya.”
...***...
Kania masih berbaring di ranjangnya, morning sickness kembali mendera membuatnya lemas dan tidak berdaya. Damar sudah beberapa hari ini kembali ke luar negeri, mengurus perusahaannya. Walaupun masih berkomunikasi dengan Kania lewat telepon.
Lukas mendatangi Kania karena laporan asisten rumah tangga yang mengkhawatirkan kondisi Kania.
“Hei, ada apa denganmu? Apa perlu aku bawa ke rumah sakit?”
Kania menggelengkan kepalanya.
“Pergilah, aku tidak suka bau dirimu.”
“Hah, aku bau?”
“Hm, bau rokok dan segala macam.”
“Sebaiknya kamu makan atau aku akan bawa ke rumah sakit. Tuan Damar bisa menggantungku kalau tahu kondisi kamu seperti ini,” ungkap Lukas.
Kania menghela nafasnya, dia ingin mengatakan kalau dia begitu merindukan Elvan.
“Semalam, aku bertemu suamimu,” ujar Lukas dan sukses mendapatkan perhatian dari Kania. “Kalau dia benar ingin berubah dan menyesal, apa kamu percaya?”
Kania hanya diam, dia belum sepenuhnya percaya karena kendala hubungannya dengan Elvan adalah Alexa.
“Aku tidak tahu.”
Siang harinya, Kania sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Lukas memaksa membawa wanita itu karena kondisi Kania yang semakin mengkhawatirkan. Kania akhirnya harus di rawat inap, apalagi sempat tidak sadarkan diri.
Lukas sudah menyampaikan kondisi Kania pada Damar dan meyakinkan pria itu kalau Kania sudah aman tapi tetap saja Damar marah bahkan memaki Lukas.
“Aish, aku ada wanita hamil yang juga harus aku urus.”
Lukas pun menghubungi Elvan.
“Aku tidak akan membiarkan Papa menerimamu menjadi menantu,” ujar Elvan di ujung telepon membuat Lukas terkekeh.
“Aku bukan membicarakan masalah aku tapi kamu dan Kania. Dia sedang dirawat karena kondisinya mengkhawatirkan.”
“Apa? Di rumah sakit mana?”
__ADS_1