(Bukan) Suami Pengganti

(Bukan) Suami Pengganti
Rencana Lukas (2)


__ADS_3

Bintang dan Lukas sudah tiba di salah satu kelab malam, dengan tangan saling terpaut. Bintang sebenarnya tidak nyaman dengan tempat itu dan bukan dunianya tapi dia coba bertahan hanya untuk menyesuaikan diri dengan Lukas.


Entah mengapa dia bisa menuruti apa yang diminta oleh pria itu. Cinta atau … entahlah Bintang sendiri ragu. Dia sadar kalau memang Lukas mencintai, seharusnya tidak mengajak ke tempat tersebut apalagi membuat Bintang ikut terjerumus. Namun, dengan alasan menghadiri undangan sahabatnya Bintang pun percaya.


“Woi, bro. Apa kabar?” tanya seorang pria yang diapit oleh dua wanita. Pria itu dan Lukas ber high five dan entah bicara apa dengan bahasa asing daerah yang tidak dimengerti oleh Bintang. Gadis itu merasa dia sedang dibicarakan karena keduanya bergantian menatap dirinya.


“Gue ke sana dulu, kayaknya dia nggak nyaman di sini,” ujar Lukas.


“Oke. Have fun ya,” seru pria itu yang direspon Lukas dengan mengacungkan ibu jarinya.


“Kita kemana lagi?” tanya Bintang agak berteriak.


“Lo nggak nyaman di sini ‘kan? Kita ke private room tempat gue dan anak-anak nongkrong.”


Bintang hanya menganggukkan kepala, dia sempat menatap lantai dansa di mana para pria dan wanita asyik bergoyang bahkan beberapa pasangan terlihat sangat intim.


“Wuih, gandengan baru nih,” ujar salah seorang ketika Lukas dan Bintang masuk ke dalam ruangan.


Menurut Bintang ruangan itu dan tempat tadi tidak jauh berbeda. Para pria dan wanita dengan pakaian yang kurang bahan, botol dan gelas minuman serta aroma rokok dan alkohol yang begitu pekat. Ada penyesalan BIntang berada di tempat itu.


“Duduklah, di sini kamu aman sayang. Bersamaku kamu akan aman,” rayu Lukas sambil berbisik.


Bintang mencoba menyesuaikan diri bahkan saat Lukas sudah mulai menenggak beberapa gelas dan menyerahkan satu gelas ke arah Bintang, gadis itu ragu-ragu menerima.


“Coba saja, sedikit dulu. Kalau tidak enak jangan dilanjutkan. Terkadang kita perlu menghormati tuan rumah,” ujar Lukas.


Bintang pun mendekatkan bibirnya pada pinggiran gelas, meneguk perlahan. Dia memejamkan mata merasakan cairan yang terasa pahit dan panas di tenggorokan.


“Rasanya ….”


“Ah, itu terlalu kuat. mungkin yang ini agak ringan.” Lukas menyodorkan kembali gelas lain dengan warna cairan lebih terang dibanding sebelumnya.


Bintang mengulanginya, kali ini dia meneguk lebih banyak. Rasanya tidak sepahit yang tadi, ada rasa manis walaupun masih agak panas di tenggorokan. Sambil berbincang dengan Lukas bahkan sesekali bergurau, gadis itu tidak menyadari kalau Lukas terus mengisi gelasnya dan mulai mabuk.


“Hm, kalau mami sampai tahu aku minum yang seperti ini dia akan berteriak dan mengirim aku kembali ke asrama,” keluh Bintang yang sudah mulai mabuk.


“Benarkah?” tanya Lukas.


“Hm.”


“Kalau begitu kita nikmati malam ini, jangan sampai ketahuan apalagi kalau sampai kamu dikirim ke asrama. Pasti sangat membosankan.”


“Yah, mari kita bersenang-senang,” pekik Bintang sudah berdiri dan naik ke atas sofa.

__ADS_1


“Dia sudah mabuk,” tunjuk salah satu teman Lukas.


“Hm, apa tempatnya sudah siap?” tanya Lukas yang sudah berdiri dan meraih tubuh Bintang agar turun dari sofa.


“Sudah, tinggal eksekusi,”


“Ayo, kita pindah,” ajak Lukas.


“Kemana? Bagaimana kalau di sana ada Mami atau Kak Elvan. Bisa habis aku,” keluh Bintang.


“Tidak ada, hanya ada kita berdua.”


Lukas membawa Bintang ke sebuah kamar yang masih berada di kelab tersebut. Membaringkan gadis itu itu yang mulai meracau tidak karuan dengan mata terpejam, tidak menyadari ketika Lukas sudah mengungkung tubuhnya.


Bahkan saat sesuatu menyentuh bibir lalu perlahan turun ke leher dan meraba area lain di tubuhnya, Bintang mendessah pelan. Lukas mulai beraksi, sudah ada kamera di sana, saat dia perlahan melucuti pakaian Bintang dan mulai menyentuh gadis itu.


“Maaf sayang, kita harus berakhir begini.”


Bahkan saat Bintang mulai tergoda dengan sentuhan Lukas dan penyatuan diri, gadis itu sempat memekik dan mencengkram bahu Lukas membenamkan kuku-kukunya meninggalkan luka.


Sedangkan di kediaman Yuda, tidak ada yang menyadari jika Bintang tidak ada di kamar, karena gadis itu pergi setelah makan malam. Elvan sudah berada di kamarnya sibuk menggoda Kania.


“Elvan minggir,” keluh Kania yang pria itu terus saja memeluk dan tidak lepas dari tubuhnya setelah kembali ke kamar.


“Bukan begitu, aku gugup. Takut kalau kamu ….” Kania menghentikan ucapannya.


“Apa?”


“Malam itu, aku takut mengulangi apa yang terjadi malam itu,” jujur Kania sambil menundukkan wajahnya.


“Kalau begitu kita coba pelan-pelan, agar kamu tidak takut. Semakin takut kamu akan menjadikan kejadian itu sebagai trauma.”


Entah karena rayuan Elvan atau karena ingin memperbaiki hubungan pernikahannya, Kania pun pasrah. Keduanya mengulangi adegan dewasa dalam penyatuan diri. Suasana kamar menjadi panas apalagi dessahan dan erangan keduanya silih berganti, bahkan pendingin udara seakan tidak berfungsi karena keduanya sudah bermandi peluh.


“Hahh,” hela Elvan yang sudah berbaring di samping Kania.


Wanita itu segera menarik selimut menutupi tubuh polosnya. Sedangkan Elvan memejamkan mata sambil terkekeh.


“Apanya yang lucu?”


“Tidak ada yang lucu, hanya aku terlambat menikmati hubungan ini. Kalau memang menikah senikmat ini kenapa tidak dari dulu saja,” ungkap Elvan. “Auwww,” Elvan menjerit lalu menggeser tubuhnya karena Kania baru saja mencubit perutnya.


“Jadi pernikahan bagi kamu hanya kenikmatan di ranjang?”

__ADS_1


“Bukan begitu, kita bisa menikmati ini karena sudah menikah,” jawab Elvan yang sudah beranjak duduk.


“Lalu bagaimana dengan cinta?”


“Cinta itu yang semakin mengeratkan hubungan kita.” Elvan kembali mengungkung tubuh Kania.


“Mau apa lagi?”


“Lagi dong, masih kuat ‘kan?”


“Hahh.”


...***...


“Bintang kemana?” tanya Yuda.


Saat ini keluarga itu sudah berada di meja makan untuk menikmati sarapan. Walaupun hari libur, kebiasaan keluarga itu tetap mengadakan sarapan bersama. Bahkan Elvan masih mengenakan piyama dengan muka bantal, sedangkan Kania sudah terlihat lebih segar.


“Sedang dipanggil,” jawab Nella yang meletakan cangkir kopi di hadapan Yuda.


“Elvan, Tuan Damar menghubungi Papa. Kami akan bertemu, sebaiknya kamu ikut.” Yuda memulai percakapan.


“Kapan?” tanya Elvan.


“Dia belum menyampaikan tempat dan waktu, kita tunggu saja.”


Kania teringat pertemuannya dengan pria bernama Damar yang mengaku sebagai Ayahnya, berharap pertemuan suami dan Ayah mertuanya dengan pria bernama Damar tidak akan membahas mengenai dirinya.


“Nyonya, Nona Bintang tidak ada di kamar,” lapor seorang pelayan.


“Tidak ada di kamar, apa sedang berolahraga? Coba kamu cari di kolam renang atau taman belakang,” titah Nella.


Pak Lim dan Bimo bergabung di ruangan dan mendekat ke arah Tuan Yuda duduk.


“Maaf Tuan Yuda, ada telepon dari kantor polisi,” tutur Bimo.


Semua atensi beralih pada Bimo mendengar kantor polisi.


“Ada kepentingan apa?”


Bimo sempat terdiam kemudian menjawab, “Nona Bintang ada di sana.”


“Apa, Bintang di kantor polisi?” Nella berteriak sambil berdiri.

__ADS_1


 


__ADS_2