
"Dengan di saksikan nya rembulan, dan naungan sang malam yang menjadi tempat kita berpijak. Aku benar-benar mencintai gadisku." - Jung Jaehyun.
----
Gadis itu mencibir kesal kenapa kedekatan ibu nya bersama Jaehyun langsung bisa seakrab itu, bahkan mereka terlihat tengah bercanda di meja makan. Ahhh apa mungkin ia tengah cemburu terhadap ibunya sendiri? Oh ini gila Son Niko, lupakan saja.
"Dimakan sayang jangan di liatin doang" suara lembut milik sang ibu mampu membuat nya menoleh cepat lantas ia menggeleng pelan.
"Gak laper mah, nanti malem aja" ujarnya pelan kemudian meminum susu hangat yang telah di buat ibu untuknya.
Jaehyun masih sibuk memakan makanan masakan ibunya, sesekali lelaki itu memuji masakan buatan nya, hah apalah daya nya yang hanya bisa memasak nasi goreng. Itupun gosong.
"Tante Jaemin mau pulang dulu ya" seru anak bersurai blonde itu berpamitan dari arah ruang tengah. Sepertinya dia sudah puas memainkan game di rumah Niko.
"Iya Na, hati-hati" seru Taeyeon sang ibu.
Gadis itu menatap kesal ke arah Jaehyun yang juga menatap ke arahnya, seharusnya dia menolak hal ini. Bisa saja kan dia mengusir Jaehyun dari rumahnya tapi itu tak mungkin, bisa-bisa dia marahi oleh ibu nya karena tidak sopan mengusir tamu seenaknya.
"HUAAAA" teriaknya lolos saking frustasinya.
Jaehyun dan ibu Taeyeon menatap terkejut ke arah anak gadis yang tengah mengacak rambutnya frustasi, lantas ia pergi dengan wajah menekuknya. Sang ibu dan Jaehyun hanya bisa bertatap-tatapan heran.
"Dia emang biasa kek gitu" sepertinya ibu Taeyeon sangat mengerti ekspresi tanda tanya yang muncul dari raut wajah Jaehyun. Merasa pertanyaan nya telah terjawab Jaehyun hanya menganggukkan kepalanya sesekali lantas dia melihat ke arah Niko yang baru saja kembali dari kamarnya.
Lihat anak itu, sekarang dia sudah mengganti baju tidurnya dengan dress pendek yang di balut dengan swetters coklatnya.
"Hei mau kemana? Ini ada tamu kenapa di tinggal?"
Seolah pertanyaan ibu nya tak terdengar di telinga nya, gadis itu bersi kukuh untuk pergi keluar tanpa menjawab ataupun menoleh ke arah sang ibu.
"Tante saya ijin pamit dulu ya" ucap Jaehyun berpamitan lantas menyusul Niko yang sudah berjalan ke arah luar gerbang rumahnya.
Berjalan dengan langkah cepat, mengabaikan Jaehyun yang sedari tadi memanggilnya dari belakang. Berjalan melewati pepohonan di pinggiran jalan begitu menyejukkan baginya.
"Aish" gerutu Jaehyun lantas berlari dan menahan tangan Niko, membuat gadis itu sedikit tersentak dan langsung berbalik ke arahnya.
"Ngapain kabur?"
"Apaan, gak kabur kok" sergah gadis itu tak mau di tuduh secara gamblang seperti itu.
"Jelas-jelas tadi kamu ngehindar"
"Aku gak ngehindar Jung Jaehyun" gerutunya.
__ADS_1
Oke, dengar mereka memanggil satu sama lain dengan kata aku-kamu. "Ya terus kenapa pergi gitu aja?"
"Karena aku mau pergi"
"Ninggalin aku?"
"Iyalah, siapa lagi" enteng anak gadis itu tanpa meperdulikan ekspresi Jaehyun atas perkataan nya.
"Sabar" gumam Jaehyun pada dirinya sendiri.
"Wajib lah" sahut si gadis.
"Mau kemana sekarang?" tanya Jaehyun mengalihkan pembicaraan.
"Kepo"
"Gw wajib tau lah, kan gw pacar lu, jadi gw harus tau semua yang lo lakuin" ujar Jaehyun kembali dengan panggilan lu-gw.
"Dihhh mana bisa gitu?!"
"Bisa, buru kasih tau"
"Mau ke taman depan, main air mancur" tukas gadisnya kesal.
"Ikut"
"Apa hm?"
"Ng-nggak"
Jaehyun menggenggam tangan Niko dan kini mereka tengah berjalan berdampingan, melewati banyak pohon cherry blossom yang ada di pinggiran jalan. Hening tercipta, angin di sore hari membuat keduanya tenang.
Di rasanya tangan Niko yang begitu mungil di telapak tangan Jaehyun membuat lelaki itu merasa bahwa ia tengah memegang tangan anak kecil yang takut untuk tersesat atau ia akan cemas ketika tangan tersebut melepaskan genggaman darinya.
Semilir angin yang sesekali menbuat anak rambut Niko bergerak, membuat lelaki di sampingnya menoleh dan tak lepas memerhatikan wajah cantik gadisnya. Begitu lugu dan tidak ada noda sedikitpun yang tersirat dari penampilan wajahnya.
Jaehyun menghentikan langkahnya membuat Niko juga ikut berhenti. Di tatapnya lamat-lamat raut wajah gadisnya membuat sesekali gadis itu mengerjap polos. "Ada apa? Ada yang salah?"
Jaehyun menggeleng, kemudian melanjutkan langkahnya.
...• • •...
"Uwaww Son Niko, ralat duplikat Son Niko" tawa gadis Thailand itu pecah di ikuti dengan tepuk tangan nya.
Gadis bernama Kim Taera yang di panggilnya sebagai Son Niko jiplakan itu mendengus geli, kini ia telah memotong rambutnya sama persis dengan style rambut milik Son Niko. Tahi lalat di bawah matanya ia tutupi dengan make tentunya, dan siapapun yang melihatnya pasti akan menyangka kalau dia adalah Son Niko sungguhan.
__ADS_1
"Mulai dari mana?" tanya Taera.
Lisa menghela napasnya terlihat senyum miring yang selalu ia tunjukan pada lekuk bibirnya. "Rencana nya simple, hal pertama yang harus lo lakuin adalah mengkambing hitamkan Niko sama temen nya" ucap Lisa.
Taera mengangkat alis kirinya. "Temen? Yang mana?"
Gadis Thailand itu menunjukan sebuah poto, dimana ada sepasang kekasih yang sedang berdiri di tepi jembatan Banpo Bridge Park. "Mereka?" tanya Taera yang masih belum paham akan maksud dan tujuan Lisa.
"Yah, lakukan seperti apa yang gw bilang" ucap Lisa penuh dengan ke angkuhan nya.
Taera tersenyum miring. "Tentu" kekehnya.
...❖❏❖❏❖...
"Berisik ihhhh!" gerutu Niko, menyiram Jaehyun dengan air di tangan nya. Suasana sudah mulai gelap, penerangan taman dengan lampu warna warni membuat kesan semakin menarik dan romantis. Tapi tidak dengan Son Niko yang sama sekali enggan untuk di gombali olehnya.
Jaehyun mencibir kesal, menarik tangan Niko untuk mendekat. "Duduk yuk, gw cape pegel *****"
"Iye iye"
Mereka berjalan ke arah kursi yang tak jauh dari tempat mereka. Keduanya duduk saling berdekatan. Gadis itu terlihat menunduk dalam diam, mencuri perhatian Jung Jaehyun yang berada di sisinya. Entah apa yang di pikirkan gadisnya sekarang.
Niko menyandarkan kepalanya di bahu Jaehyun, laki-laki yang tadinya diam lantas menatap ke arah Niko yang tengah terpejam di bahunya. Jaehyun mengusap punggung sempit milik Niko. Pantas saja gadis itu terdiam sedari tadi, nyatanya ia merasa ngantuk berat.
Di ciumnya pucuk rambut milik Niko, dengan perlahan dia mengubah posisinya, membantu Niko untuk bersandar ke punggungnya. Di tatapnya jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya tengah menunjukan pukul delapan malam.
Mungkin dia benar-benar harus menggendong Niko untuk mengantarnya pulang. Di raihnya tangan Niko yang lantas ia lingkarkan ke lehernya, yah Jaehyun dia benar-benar menggendong Niko di punggung kekarnya.
Kepala sang gadis bersandar di bahu Jaehyun, gadis itu sangat terlelap dalam tidurnya. Beruntung cuaca malam hari ini sangat bagus, tidak turun hujan.
Terlihat rembulan malam cerah yang tengah bertengger di dinding langit malam yang kelam, seakan menjadi saksi mereka berdua yang kini tengah berada di bawah naungan nya.
Jaehyun menghela napasnya lirih, dia benar-benar berterimakasih kepada sang tuhan karena tengah mengabulkan doa nya untuk memiliki gadis yang kini berada dalam gendongan nya.
Di usapnya pucuk rambut Niko dari samping, lantas ia melanjutkan perjalanan nya menuju rumah gadisnya.
"Cuman lo yang bisa buat gw takut hanya karna gertakan kecil dan ancaman yang lo lontarin buat gw, Nik" ucap pelan hingga dapat tersamarkan oleh hembusan angin malam.
"Nice dream" gumamnya.
TBC.
.
.
__ADS_1
.