
Dua mobil mewah yang di yakini Lamborghini Murcielago LP640 itu berbaris rapih di jalanan. Yah masih ingat dengan ajakan pesain geng Hyperion? Mereka tidak bertengkar ataupun tawuran.
Orang-orang kaya seperti mereka tidak mungkin melakukan hal seperti itu, merepotkan saja. Dan kini di pihak Hyperion adalah Jung Jaehyun yang sudah berada di dalam mobil Lamborghini Murcielago LP640 berwarna hitam miliknya. Dan di sisi lain ada sang lawan dengan mobil yang sama namun warna yang berbeda, terlihat seperti warna biru jika terpantul cahaya matahari, namun akan menggelap ketika sinar itu meredup. Blue-black lebih jelas.
Kedua, nya saling menginjak pedal rem dan gas secara bersamaan. Untuk mengeluarkan suara satu sama lain. Apa untungnya? Yang kalah akan tunduk kepada pemenang, dan dimana pun ia berada, mereka akan menjadi budak bagi kaum pemenang. Itulah yang suka di lakukan mereka.
Taeyong berjalan ke tengah sebagai wasit, di ambilnya sebuah kain berwarna hitam yang di yakini itu adalah sebuah syal milik Winwin.
"Siap?" tanyanya, menjadi penengah.
Lelaki itu mendecih, menatap Jung Jaehyun dengan tatapan mengejek. Sedangkan Jaehyun hanya melayangkan tatapan datar namun mampu mendominasi lawan.
"Oke, gw langsung aja" ucapnya. "One..."
Kedua mesin mobil semakin terdengar jelas, jalanan yang akan mereka lintasi sudah di pastikan tengah kosong. "Two... Three!!"
Mereka langsung melaju dengan kecepatan tinggi, Taeyong mendengus geli, berjalan menghampiri Winwin yang berdiri di tepian bersama anak-anak geng lawan.
Taeyong menepuk bahu Winwin. "Tumbenan si Jaehyun mau main" ucap Winwin.
"I dont know" sahut Taeyong tidak peduli. "Yuta udah stand by?" tanyanya.
Winwin mengangguk pelan. Yah, Yuta menjaga di perbatasan yang akan di lewati oleh kedua mobil yang tengah kebut-kebutan itu, tentu ada pihak lawan di sana.
Jaehyun mendengus sarkas, dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Di lihatnya dari balik jendela kaca mobil yang sudah ada mobil lawan, Jaehyun dengan lagi-lagi menambah kecepatan dari batas pengendara biasa tentunya. Jika dia sampai kehilangan keseimbangan, akan terjadi kecelakaan. Atau bahkan menyebabkan kematian.
Yuta yang berada di perbatasan, melihat kedatangan mobil mereka.
"Gw yakin kali ini kalian bakal kalah" seru seseorang yang berada di belakang Yuta. Pihak lawan.
Yuta terkekeh pelan. "Gak usah berani merayakan dan membanggakan diri sebelum kemenangan terbukti benar" ucapnya, tak berminat untuk berbincang.
Satu truk pengangkut barang yang datang dari arah berlawanan terlihat dengan sangat jelas. Yuta dan orang di belakangnya terlihat sangat terkejut setengah mati.
"APA? INI DI LUAR KENDALI?!" seru Yuta.
"KOK BISA ADA TRUK?" Seru lelaki bersurai hitam pekat itu, Jimin.
Yuta dengan cepat menekan hendsfree di telinganya. "Yong, ada truk yang bakal melintas" ucap Yuta.
"*******!" pekik Jimin sarkas.
Jaehyun membulatkan matanya terkejut, lawan main nya juga sama halnya dengan Jaehyun. Pedal rem mereka juga tidak memungkinkan akan menghentikan mobilnya sekaligus pada kecepatan seperti ini.
"Sial!"
"Jaehyun jangan lakuin ini lagi" ucapan yang entah darimana asalnya itu terdengar, seolah berbisik ke telinganya.
"N-niko!"
Jaehyun membantingkan stir nya, menubruk benteng jalanan yang menyebabkan kap mobil depan nya rusak. Tidak dengan Hoseok, lawan main Jaehyun yang malah terlihat kesulitan mengendalikan mobilnya.
Sang pengendara sopir truk yang tengah mengantuk, melihat kedatangan mobil Lamborghini Murcielago LP640 yang datang ke arahnya dengan kecepatan yang sangat cepat.
BRAKKK
Jaehyun memalingkan pandangannya ke arah lain, memejamkan matanya rapat-rapat. Telinganya seakan berdengung, dia tidak bisa mendengarkan suara sekitar kecuali dengungan itu dan kalimat dari Son Niko.
Brak brak brak!
Yuta menggebrak kaca jendela mobil Jaehyun. "JAEHYUN BUKA!"
"JAEHYUN BUKA!"
Lelaki itu tersentak, menatap ke arah Yuta dan membuka pintu mobilnya. Kemudian ia keluar dari mobilnya. "Lo gapapa?" tanya Yuta, menepuk bahu Jaehyun beberapa kali, ia menggeleng tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Mobil Jung Hoseok terlihat sangat hancur, truk yang sama sepertinya, menabrak benteng jalanan juga terlihat hancur dan muatan yang berhamburan. "Hoseok mana?" kaget Jaehyun.
"Udah di bawa sama Tiway dan yang lainnya ke rumah sakit, lo serius gak kenapa-napa?" tanya Yuta.
"Gw gapapa" ucapnya. "Yang urus ini nanti siapa?"
__ADS_1
Bukkhh
Belum dapat jawaban dari pertanyaannya, seseorang yang di yakini pihak lawan meninju rahang Jaehyun secara mendadak.
"LO APA-APAAN HAH?!" sarkas Yuta.
"Gw gak ada urusan sama lo" tukasnya. Menarik kerah baju Jaehyun, sudut bibirnya sedikit berdarah.
"Lo, Jung Jaehyun. Sialan lo! Sekarang gara-gara lo, temen gua masuk rs!" umpatnya. Menatap tajam ke arah Jaehyun dengan mata sipitnya.
"Ini bukan salah gua" pekik Jaehyun, mendorong tubuh lelaki yang sedikit pendek darinya.
"Jelas ini karena lo, mau ngelak apa lagi?!"
Yuta menarik bahu Jaehyun yang siap meninju rahang lelaki di depan nya. "Udah *******!" dengus Yuta.
Jimin juga menahan tangan Min Yoongi yang siap meninju kembali Jung Jaehyun. "Truk datang tanpa kendali, di sini gak ada yang salah" ucapnya. Lelaki bernama Min Yoongi itu mendengus.
Tak lama kemudian beberapa mobil polisi datang, dan mau tak mau mereka akan menjadi sasaran introgasi polisi.
...❖❏❖❏❖...
"Sampai kapan lo jadi suruhannya si Lisa?" tanya seorang laki-laki yang tengah duduk di depan nya.
Kim Taera menyesap kopi susu hangat nya. "Sampai gw bisa hancurin hidup saudara tiri gw"
Lelaki itu mendecih. "Lakuin apa mau lo, tapi jangan sampai buat dia terluka" tukasnya kasar.
Kim Taera mengangkat satu alisnya. "Oow jangan bilang lo masih suka sama Niko?" kekehnya penuh selidik terhadap lelaki itu.
"Gw gak pernah bilang kalau gw masih suka sama dia" tekan nya.
"Haha, harus gw percaya?"
"Terserah"
"Yah, oke. Lo tau? Dia udah punya pacar, dia udah ngelupain lo Kim Mingyu, dia udah gak cinta sama lo" ucapnya dengan nada yang sedikit mengejek.
Gadis itu terkekeh geli. "Kim Mingyu, seharusnya lo berterima kasih sama gw, karena berkat gw lo gak jadi tahanan para polisi" kekehnya.
"Taera" tekan nya.
"Karena gw lo bisa bebas dari jeratan jeruji besi yang udah ada di depan mata. Dengan notif mau menculik dan menyekap Son Niko" lanjutnya.
Brak!
Mingyu menggebrak meja kayu di depan nya, menatap tajam ke arah Kim Taera. "Jangan lupa kalo bokap lo masih hidup, dengan alibi terbunuh di tengah lautan, padahal bokap lo Kim Myungsoo malah melarikan diri karena korupsi dan merugikan negara" ucapnya.
Kim Taera membulatkan matanya. "Bagaimana lo tau?!"
"Kim Taera, anak asli yang terbuang, tertukar, dan di abaikan oleh orang tua aslinya. Dengan dalih-dalih membesarkan sang anak mereka lebih memilih untuk mengadopsi anak orang lain" kekehnya.
Seakan perbincangan mereka melawan satu sama lain, dan berhasil membuat satu sama lain tertekan akan kalimat-kalimat yang mereka torehkan. Kim Taera dan Kim Mingyu entah apa hubungan mereka, tidak jelas. Yang ada di pikiran mereka hanya satu, dan tujuan mereka sama. Menjatuhkan Son Niko.
Dengan dendam lama yang masih tumbuh dari keduanya.
...❖❏❖❏❖...
"Bokap lo Kim? Nyokap lo juga Kim? Terus kenapa marga lo Son?"
Ucapan itu selalu memutar di benak pikiran gadis yang kini tengah duduk di depan meja makan. Dengan mulut yang berisi mie ramen hangat. Di tatapnya sang ibu yang tengah mencuci piringnya.
Apakah dia harus bertanya?
Sepertinya, begitu.
"Mah" panggilnya pelan.
"Iya? Kenapa Nik?" tanyanya.
"Anu, i-itu.." dia terlihat ragu membuat ibunya itu tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa? Kayaknya ini pertanyaan yang berat buat kamu. Tanyain aja, nanti mamah jawab" seru wanita berparas cantik itu.
"Mamah, marga papah Kim kan?" tanyanya.
"Iya, marga nya Kim, sama seperti mamah"
Niko mengulum bibir bawahnya, membasahi bibirnya yang mulai kering. "Lalu, kenapa marga Niko harus Son? Bukan Kim?"
Deg...
Pertanyaan itu seakan menghantam ke ulu hati sang ibu. Dia terdiam, menghentikan aktivitasnya. "Karena kamu spesial, makannya mamah sama papah ngasih marga Son ke kamu" ucapnya.
Niko mengambil senyum di sudut bibirnya. "Beneran mah?"
"Iya sayang"
"Hehe" gadis itu terkekeh pelan, berjalan menghampiri sang ibu lantas memeluk tubuh ibunya. "Niko sayang mamah"
"Mamah juga sayang kamu"
Sepertinya jawaban ini mampu membuat anak gadis itu melupakan semuanya. Dan dia tidak akan pernah mempermasalahkan ini lagi, dia anak spesial. Itu saja.
...❖❏❖❏❖...
Permasalahan atas kejadian tabrakan tadi telah selesai, dan pihak lawan mengaku telah kalah dan siap untuk menjadi kaki tangan anak geng Hyperion. Oh tentu saja.
Taeyong menghela napasnya ketika berada di markas Hyperion. Tiba-tiba hendsfree nya berbunyi dengan cepat dia menekan tombol untuk menghubungkan ke saluran.
"Tuan, kami mendapat informasi bahwa Kim Taera bekerja sama dengan Lalisa anak direktur sekolah"
"APA LO BILANG??" kagetnya setengah mati, membuat ketiga orang yang berada di sana menatap ke arahnya.
"Hah apaan?"
"Apa nya?"
Tanya Yuta dan Winwin, tidak dengan Jaehyun yang hanya menatap tanpa bertanya padanya.
"Oh kagak ini nyokap gw masa mau motong uang jajan gw lagi ragara kejadian ini" sahutnya, seketika mereka tertawa.
"Yah oke nanti kabarin gw lagi" ucapnya Taeyong, mengakhiri percakapan singkat mereka.
Taeyong berdiri dari duduknya, mengambil kunci motornya yang ia simpan di atas meja. "Gw cabut dulu"
"Lah mau kemana?" tanya Winwin.
"Ada tugas dari nyokap gw" tentu saja dia berbohong.
"Ngakak"
"*******" kesal Taeyong.
Lelaki bersurai merah neon itu kemudian menaiki motornya, melajukan nya dengan cepat namun tak secepat angin. Entah apa tujuan dari Lee Taeyong membantu Niko dalam permasalahan ini, tapi kalau dia tidak membantunya mungkin semua akan berantakan.
Kenapa dia bisa dengan cepat mengetahui semua informasi tentang Kim Taera? Dan bar itu... Adalah salah satu cabang bar milik keluarga Lee.
Dan dia sangat tau jelas tentang poto yang menyebar di web itu berlatar belakang kan bar milik keluarganya. Jadi dengan mudah dia bisa mendapat kabar ini. Lee Taeyong dia sebenarnya bukan anak nakal, tujuan terbentuknya geng Hyperion bukan untuk menindas dan mencari masalah.
Tapi tujuan utama mereka adalah untuk di hargai, di segani, tanpa merasakan apa itu di intimidasi. Yah memang mereka melakukan itu dengan cara yang salah, tapi yang meraka mau bukan itu.
Kaya, harta, dari keluarga berada, hidup berkecukupan. Tapi itu bukan hak mereka mengambil alih semua harta tatah dan banda milik orang tuanya, mereka ingin bekerja sendiri meski tidak terlalu memuaskan. Semua orang patuh kepada mereka karena mereka berasal dari kalangan bangsawan, sebut saja begitu. Karena itu mereka memilih cara yang salah bahwa mereka bisa berdiri tanpa penopang dari latar belakang keluarga mereka sendiri.
Mereka mencari masalah bukan untuk di hukum, mereka ingin kalau orang tua nya fokus kepada mereka bukan kepada harta yang nantinya akan hangus sementara waktu. Itu tujuan terbentuknya geng Hyperion.
TBC
.
.
.
__ADS_1