»NEVER EVER - Jaehyun

»NEVER EVER - Jaehyun
00.25


__ADS_3

Gadis itu tersenyum cerah, menatap lurus ke depan. Melihat suasana senja yang perlahan tenggelam di dasar lautan. Hamparan pasir yang menyentuh kakinya dan deburan suara ombak yang terdengar begitu menenangkan.


"Lo gak pegel dari tadi berdiri mulu" celoteh Lee Taeyong, yang tengah duduk di hamparan pasir sambil memakan sosis bakar yang mereka beli.


Gadis ikut duduk, memegang sosis bakar miliknya. "Yong" panggilnya.


"Hmm?"


"Makasih" ujarnya pelan, masih menatap lurus ke depan.


Lelaki itu mengerutkan keningnya, menatap lamat-lamat ke arah gadis yang berada di sampingnya. "Makasih buat apaan?" cetusnya, menghabiskan sosis bakar miliknya.


Menghela napas panjang, gadis itu menoleh ke arahnya. "Udah bawa gw ke tempat ini, gw suka laut dan beberapa akhir ini gw lupa sama dia, tapi berkat lo... Gw kembali suka lautan" seru gadis itu, meraih tangan kiri Lee Taeyong dan menggenggam nya erat.


Taeyong hanya terdiam, memerhatikan gadis di sampingnya.


"Yong! Kok lo diem doang sih! Gw daritadi ngomong di dengerin gak?!" bentak Niko mendorong lengan Lee Taeyong.


"Yeuh anjerr dari tadi gw dengerin lo ngomong, cuman napa nih tangan gw sampe di pegang-pegang kek gini" celah Taeyong sambil mengangkat kedua tangan mereka.


Niko malah mencengirkan giginya. "Biarin lah! Toh lo mau kan gw pegang" cibir gadis itu, menatap ke arah Lee Taeyong dengan mata memicing.


"Kagak ya, pede amat lo" decak Lee Taeyong, menarik tangan Son Niko yang memegang sosis bakar, kemudian ia memakan sosis bakar milik gadis itu.


"HEH PEKOK! ITU SOSIS GW!" bentak gadis itu.


"Biarin" sahutnya, mengunyah sebagian sosis yang telah ia ambil dari tangan Son Niko. "Gak pulang?" tanya Lee Taeyong yang melihat suasana pantai telah menggelap.


Niko memakan habis sosis miliknya, takut kalau Taeyong mengambilnya lagi. "Humm pulang?"


"Iya pulang, udah malem"


"T-tapi... Gw gak mau"


Taeyong menukikkan alisnya. "Kenapa?"


"Takut" gumam gadis itu, memelan bahkan dapat tersamarkan oleh deburan ombak yang menghantam terumbu karang.


"Takut?"


Ia mengangguk. "Kemarin malam, ada cowo yang masuk ke kamar gw, gw takut"


Taeyong mengernyit. "Cowo? Siapa?"


"Kim Mingyu"


"Kim Mingyu yang ada di berita tadi pagi?" seru Taeyong mengingat soal berita bunuh diri seorang laki-laki yang bernama Kim Mingyu.


"Hah? M-maksud??"


Taeyong merogoh sakunya, mengambil ponsel miliknya. "Noh cari aja infonya" ia memberikan ponsel kepada Niko, dengan cepat gadis itu mencari informasi tentang apa yang di bilang oleh Lee Taeyong.


Matanya terbelalak ketika melihat dan membaca semua informasi tersebut. "K-kenapa bisa??" kagetnya.


"Hmm gak tau" sahut Taeyong, mengambil kembali ponsel miliknya. Memegang kedua bahu Son Niko, gadis yang kini berada di depan nya.


"Dia mantan gw" ucapnya, dengan tatapan kosong.


Yah oke, bukan saatnya untuk Lee Taeyong terkejut. "Mantan ya, udah lupain aja. Dia juga udah tenang di atas langit, sekarang lo harus percaya sama gw-"

__ADS_1


"Percaya soal apa?" potongnya.


Taeyong mengacak surai coklat gadis di hadapan nya. "Gw bakalan akhirin drama ini, besok lo ke kelas gw oke?"


Gadis itu balas dengan anggukan. "Tapi ada Jaehyun"


"Lo masih suka dia?" celahnya.


Mengulum bibir, kemudian mengangguk pelan. "S-suka" jawabnya sedikit iba terhadap Lee Taeyong.


"Nah itu lo suka, terus kenapa lo minta break"


"Dia kan mau tunangan Yong" ujarnya dengan suara parau.


"Hadeuh lo berdua bikin gw pusing aja" decak Lee Taeyong, membaringkan tubuhnya di hamparan pasir, menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang.


"Lo bukannya suka gw?" seru Niko, menatap ke arahnya.


Taeyong menghela napasnya kasar. "Kalo gw suka pun lo gak bakal pernah suka gw Nik, karena cinta gak seharusnya untuk dimiliki" timpalnya.


"Gw gak enak sama lo"


"Enakin aja" kekeh lelaki itu. "Dan yah, gw punya kewajiban buat ngejaga lo"


"Kewajiban? Apa?"


Taeyong memijit pelepisnya. "Lo yakin kalau dunia ini udah bener? Banyak orang munafik dan kebohongan yang membutakan dunia" ujarnya.


"Bah bahasa lo" decak gadis itu, ikut berbaring di samping Lee Taeyong. "Kata orang bintang itu bersinar, meski kecil dia mampu membuat suasana malam yang kelam menjadi menghangat. Waktu kecil gw pengen banget bisa ngambil bintang yang ada di atas sana-"


"Terbang dan duduk berdampingan di belahan sang bulan, menikmati malam yang tenang bersama orang yang kita sayang" lanjut Lee Taeyong.


Laki-laki itu terdiam, merutuki dirinya sendiri, kenapa bisa dia keceplosan tentang kalimat itu.


"JAWAB GW ISSS!" bentak Niko memukul lengan Taeyong keras.


"Aduh sakit elah" Taeyong mendengus geli, padahal pukulan itu tidak terasa sakit sama sekali baginya.


"Jawab isss!"


"Iya iya" kesalnya. Taeyong menatap lurus ke arah langit malam. "Kurang lebih sepuluh tahun lalu gw ketemu sama cewe, masih bocil sih. Terus kita main ke pantai malem-malem, kabur dari apartement cuman buat liat bintang sama bulan di tepi pantai. Yaudah secara gak sengaja kita ngomong kalimat itu" jelasnya panjang lebar.


Niko terdiam membeku, menggigit bibir bawahnya. "B-bubu" gumamnya.


"L-lo, apa lo bilang??" kaget lelaki itu.


"Bubu, bubur?" seru gadis itu dengan raut wajah bertanya.


Taeyong mendengus kesal. "Bubur ayam pala lo sengklek. Dah ah pulang sono"


"Dih kok ngusir sih! Bubu na jahat sama Koko" rengek gadis itu.


Taeyong mengubah posisinya menjadi duduk, menatap ke arah gadis yang berada di sampingnya sambil mempoutkan bibirnya. "Demi tuhan Son Niko, enyah sono!" bentaknya, berdiri dan menjauh dari gadis itu.


"HEH! SALAH GW APA! WOE!" teriaknya ketika melihat Taeyong pergi meninggalkannya. "BUBU GAK BOLEH NINGGALIN KOKO SENDIRIAN! BUBU JANGAN JAHAT SAMA KOKO!"


"Alah bacot" dengusnya, kembali berjalan. Tanpa di sadari Niko mengikuti langkahnya.


"Taeyong ihh! Bubu! Bubur! Ibu ibu!"

__ADS_1


"Apaan sih anjip!" decaknya, balik mengejar Son Niko.


Gadis itu tertawa renyah. "UDAH CAPE!" bentak gadis itu sambil memegangi perutnya.


"Ya siapa suruh lari"


"Bentar deh, bubu ama koko itu siapa?" tanya gadis itu masih tidak mengerti.


"Yah somplak!" dengusnya sambil menjitak kepala Son Niko.


"Becanda isss! Om Donghae mana? Aku kangen dia" ujar gadis itu, mengusap kepalanya.


"S-serius?"


Ia mengangguk. "Om Donghae bokap lo kan?"


"Iya, bokap gw. Sapa lagi"


"Bentar deh" ia mengulum bibir bawahnya, menatap ke arah Lee Taeyong. "ELO! LO BUBU?! BUBU YANG SUKA NGAMBIL COKLAT GW KAN!" bentak gadis itu.


Si empu malah tertawa tanpa dosa. Dalam hati dia tersenyum menang. Mungkin Niko kembali mengingat masa-masa kecil mereka yang selalu bersama. Yah, mereka memang selalu bersama terlebih Lee Donghae dan Son Dongwoon adalah teman dan rekan kerja yang baik.


Gadis itu menatap ke arah Taeyong dengan mata memerah dan telah berair. "Yong..."


"Hmm? Kenapa lo?" tukasnya.


"K-kim... M-marga..." ucapnya begitu parau dan terbata, meneteskan air matanya.


Taeyong tersenyum miris, meraih kedua tangan Son Niko. "Apapun itu, kita jalanin aja oke? Gw dari dulu udah nyelidikin ini semua. Dan... Gw bakalan jaga lo, apapun itu" tekan nya pada setiap kata.


"Tapi bokap nyokap gw... Yong lo tau mereka dimana?!"


Ia mengangguk. "Gw tau, besok sore kita pergi ke pemakaman kota. Dah sekarang pulang" ujar laki-laki bersurai merah neon tersebut, meraih tangan mungil gadis di hadapannya, menuntunnya seperti anak kecil.


"Kenapa lo gak bilang dari awal?! Kenapa lo nyembunyiin ini semua!" bentak gadis itu.


"Semua ada waktunya, kalau takdir udah ngijinin semuanya terbongkar, pasti bakal terjadi. Dan ini awalnya, Ko" serunya.


"Humm... Yong" panggilnya lagi tengah perjalanan mereka menuju parkiran.


"Apaan?"


"Kok lo lebih tinggi dari gw sih?! Padahal kan waktu itu lo yang pendek" gerutunya.


Taeyong tertawa keras. "HAHAHA MAKANNYA TINGGI TUH KE ATAS BUKAN KE SAMPING!"


"Heh gw gak kesamping ya" dengusnya.


"Ya iya iya, lo kurus, kecil, cem anak sd. Dahlah" kekehnya.


"Ngeselin ahh!"


TBC.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2