»NEVER EVER - Jaehyun

»NEVER EVER - Jaehyun
00.31


__ADS_3

Gadis itu terus saja berlari bahkan Jaemin yang tadinya mengejar gadis itu kini tengah kehilangan jejaknya. Dia menangis tanpa suara, meredam tangisnya sendiri agar tidak ada seorang pun yang dapat mendengar suaranya.


Dia pergi ke arah bukit yang ada di dekat pantai. Gadis itu terduduk di dekat pohon Oak besar yang ada disana, memukuli dadanya, dan sesekali dia meremat ujung bajunya agar menghilangkan rasa gemetar dan takut pada dirinya.


Tidak ini tidak akan menghilang.


Dia semakin terisak, kenapa dengan Jung Jaehyun hari ini? Bukannya kemarin siang ia melemparkan pancake ke wajah Son Niko? Lantas kenapa tadi dia berbicara seperti itu padanya.


Napasnya mulai terengah, kenapa beberapa hari ini dia selalu merasa sesak.


"H-hah..."


Pandangannya menjadi samar dan tidak jelas. Gadis itu meremat rambutnya, meraih sebuah sedikit kesadaran yang ada pada dirinya.


Ia mencoba berdiri tegap, meski sedikit gontai dan lemah, berpengangan kepada batang pohon besar, menyandarkan dirinya sendiri disana dengan mata terpejam.


"Niko!" suara itu, suara lembut seseorang.


Niko mencoba membuka matanya, dan dia melihat sosok Kim Doyoung samar-samar. "K-kak Doy?" tanyanya sedikit ragu.


"Iya ini kakak, kamu kenapa?" terdengar sedikit nada cemas dari cara bicara Kim Doyoung. Laki-laki itu memegang kedua bahu Son Niko, menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh.


"Kamu ngapain disini hah? Kamu kenapa lagi?"


"K-kak..." lirihnya pelan, mencoba untuk menetapkan pandangannya kepada Kim Doyoung.


"Kenapa? Mau bilang apa?" ia semakin cemas.


Gadis itu terdiam, masih mencari titik kesadarannya. Ini seperti mimpi baginya, kepalanya terasa sangat sakit dan berat. Pusing? Tidak. Melainkan seperti orang yang sulit mencari kesadarannya.


"K-kak" ucapnya lagi.


Doyoung dengan sigap menahan tubuh gadis yang tengah ambruk di pelukannya. Beruntung bagi Kim Doyoung dapat menahan tubuh Son Niko.


"Niko?? Niko?! Hei!" panggil Kim Doyoung.


Gadis itu masih terpejam, sedikit meringis ketika merasakan sakit yang menjalar di kepalanya. Tanpa pikir panjang Kim Doyoung menggendong gadis itu di punggungnya. Karena tidak mungkin baginya menggendong Niko secara bridal di jalanan yang menurun seperti ini. Bisa bisa mereka berdua terjatuh secara bersamaan.


"K-kak..." panggil gadis itu pelan.


Doyoung mempercepat langkahnya, udara yang semakin dingin dan salju yang turun kembali tanpa di duga membuat tubuh gadis itu seakan mendingin dan membeku.


Beruntung Kim Doyoung selalu tepat waktu membaya Son Niko. Ah.. Dia sendiri tidak tau kenapa dia selalu menemukan Son Niko dalam kondisi yang tak selalu baik ini. "Iya kakak disini" sahut Doyoung.


Tak jauh dari sana terlihat sosok laki-laki yang Kim Doyoung kenal. "NA! NA JAEMIN!" teriaknya. Dan laki-laki itu menoleh.


Dia di buat terkejut dan langsung berlari menghampiri Kim Doyoung. Mereka saling mengenal satu sama lain, meski berbeda sekolah tapi mereka sering berkunjung ke panti asuhan dan mengajari anak-anak jalanan. Dari sana lah mereka berdua saling kenal.


"Niko kenapa?!" cemas Jaemin.


"Lo kenal Niko?" tanya Doyoung yang tidak menyangka kalau dunia akan sesempit ini.


"Ya, gw sepupunya. Gece bawa dia ke mobil bang Jon" seru Jaemin.


"Mobilnya dimana?"


"Dekat mall"

__ADS_1


Kemudian mereka berdua pergi kembali ke arah Mall, dengan Son Niko yang sedari tadi berada di gendongan Kim Doyoung.


"Heh! Lo pada kemana dari tadi? Gw nyariin" celoteh Seo Johnny yang sedari tadi menunggu kedatangan Jaemin dan Niko. "Lahh Niko kenapa?" tanyanya tak kalah terkejut dengan ekspresi yang di tunjukan Jaemin tadi.


"Nanti aja bahasnya, sekarang bawa Niko ke rumah sakit" perintah Doyoung yang langsung di turuti oleh mereka.


• • •


"Oh jadi lo yang namanya Somi?" seru Lalisa yang berjalan dengan anggun bersama ketiga temannya. Jeon Somi yang sedang berjalan di sekitar taman kota mendadak berhenti karena mereka menghadang dirinya.


"Sapa lo?" sarkas Somi.


Lisa mendecih, menangkup dagu Jeon Somi. "Sepertinya lo salah dalam bertindak. Lo tau? Jaehyun itu tunangan gw dan bakal terus kek gitu!" pekiknya.


"Lis, menurut gw dia jauh lebih rendah di banding si Niko" seru Rose sambil menepuk-nepuk bahu Somi tanda mengejek.


"Upsss tas kw ya? Haha" tawa Jennie pecah. Yah siapa yang tidak mengenal Jennie? Seorang model yang sangat teliti dalam hal fashion atau segalanya.


Somi tercekat, napasnya seolah berhenti dengan perkataan Jennie padanya. Bagaimana dia tau kalau ini adalah tas plagiat? Yah sebut saja begitu.


"Gw gak ada urusan sama kalian" celoteh Somi, hendak menerobos keempat gadis yang berada di hadapannya.


"Eitss gak semudah itu" Lisa mendorongnya hingga ia terjatuh ke aspal jalanan.


Jisoo menyunggingkan senyumnya. "Lis, dia lebih payah. Gak ada tuh tameng yang mau ngejaga dia" serunya, sambil menoleh ke arah Lalisa.


Gadis Thailand itu terkekeh. "Ya lah, gw tau siapa Jeon Somi. Anak dari pengurus kebun sekolah kan? Yang bahkan gak mau ngakuin bokapnya sendiri" seru Lisa.


Somi semakin membeku dan di buat tidak percaya. "G-gimana lo bisa tau?" gugupnya.


"Heol kayaknya lo anak baru di sekolah. Belum tau kita hm?" ujar Jennie.


"Apa hak lo hah?! Lo tuhan yang bisa ngatur segalanya?" teriak Somi agak nyalang.


Jisoo menendang kaki Somi. "Pembohong kayak lo gak pantas bawa-bawa nama tuhan" sarkasnya.


"Ahh Lis, kayaknya lo gak usah ngejar Jaehyun lagi deh. Selera Jaehyun aja rendahan kayak gini" seru Rose tertawa renyah.


Lisa mendecak kesal. "Heol siapa juga yang mau ngejar Jaehyun" timpalnya.


"Ups lupa" tawa mereka pecah kecuali Jeon Somi.


"Oh ya babby, mulai saat ini gw juga bakalan buat lo menderita" ucap Lisa seperti ancaman. Kemudian mereka pergi meninggalkan Jeon Somi yang masih terduduk di atas aspal.


"S-siapa Lisa?" ucapnya pelan.


• • •


Doyoung, Jaemin dan Johnny menunggu di luar ruang rawat Son Niko. Ketiga orang itu terlihat sangat cemas dengan masing-masing kegiatannya. Jaemin yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, menatapi Son Niko yang tengah di rawat dari lubang kaca yang berukuran tak terlalu besar membuatnya menghela napas kasar dan tak tau harus melakukan apa dan bagaimana.


Doyoung yang tengah sibuk menunduk, berdoa dalam diam. Dan sesekali dia berdiri untuk melihat Son Niko dari lubang kaca yang tertera di pintu ruang rawat.


Berbeda dengan Johnny yang sedari tadi bertanya apa yang terjadi. Berkali-kali Jaemin menjelaskan namun pria yang jauh lebih tua darinya itu hanya bisa mengumpat dan menyumpah serapahi nama Jung Jaehyun.


Tak lama setelah mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing nya. Dokter yang merawat Son Niko akhirnya keluar dan menghampiri ketiga pria berbeda umur itu. "Keluarganya pasien?" seru Dokter tersebut, melepas kacamata bening yang ia pakai dan menaruhnya di saku kemeja serba putihnya.


"Saya dok" seru Jaemin dan Johnny.

__ADS_1


"Bagaimana kabar sepupu saya?" tanya Johnny cepat.


Dokter tersebut sedikit menghela napasnya. "Tak ada yang serius disini, hanya saja dia mengalami Hiperventilasi di saat-saat tertentu." ujarnya.


Doyoung yang mendengar kata Hiperventilasi langsung berdiri dari duduknya. "Hiperventilasi?"


"Yah, Hiperventilasi adalah kondisi saat dirinya mungkin akan lebih banyak mengeluarkan karbon dioksida daripada menghirupnya. Karbon dioksida dalam tubuh pun akan menjadi berkurang." balasnya dengan nada tenang.


Ketiga pria itu mendadak diam dan tidak menyangka bahwa Niko akan mengalami hal semacam ini. Doyoung semakin yakin bahwa hal ini di sebabkan oleh stres berlebih, phobia panik atau bahkan ketakutan. Masih ingatkan tentang dia yang sedikit memahami masalah psikologis orang lain? Tentu dia memahami gejala Hiperventilasi yang di sebut dokter tadi.


"Dok, dia bisa sembuh kan?" tanya Johnny.


Ia menarik senyumnya. "Kondisi seperti ini akan sembuh dengan sendirinya dan kambuh dengan sendirinya. Ini bukan penyakit hanya saja tekanan mental seseorang yang sedikit berlebih yang menyebabkan dia mengalami hal ini. Saran saya, dia harus menyediakan kantong plastik, karena metode itu dapat berguna di saat-saat dia mengalami hal ini lagi" ujarnya dengan sopan. "Kalau begitu saya pamit" ia membungkuk dengan sopan kemudian pergi meninggalkan mereka.


Jaemin hanya bergumam pelan, bisa-bisa nya dia tidak bisa menjaga sepupunya itu.


Tanpa pikir panjang, mereka bertiga memutuskan untuk melihat keadaan gadis yang tengah terbaring lemas namun ia masih menampakkan senyum khasnya kepada mereka.


"Gimana sekarang? Udah membaik?" tanya Kim Doyoung, mengusap surai coklat miliknya.


"Niko baik kok Kak, btw kenapa kalian bisa barengan?" tanyanya, menatap secara bergantian ke arah mereka.


"Gak sengaja berpapasan di jalan" seru Johnny. "Lo kalo pergi jan jauh-jauh tadi gw nungguin su, panas pula" gerutunya mengadu akan penderitaan yang di alaminya. Lebay memang, yah namanya juga Seo Johnny seorang vokalis dari band di kampusnya. Apa hubungannya? Entah.


"Biarin wlee" Niko menjulurkan lidahnya, seolah dia tengah mengejek abangnya itu.


"Dih" cibirnya.


Doyoung menarik senyumnya, kembali mengusap surai lembut milik Son Niko. "Kamu harus sehat" ucapnya.


"Lah kan Niko emang sehat kak. Ngapain harus sehat lagi?" celotehnya.


Ketiga orang itu saling bertatapan, dan mendadak diam beberapa saat, sampai pada akhirnya Jaemin angkat bicara dan memberitahukan semuanya.


"Lo mengalami Hiperventilasi" ucap Jaemin sedikit ragu.


Gadis itu membulatkan matanya dengan alis yang bertaut tanda bertanya, meminta penjelasan lebih mendetail terhadap ucapan Jaemin.


Jaemin yang menyadarinya langsung mengatakan apa yang dokter tadi sampaikan pada mereka. "Hiperventilasi adalah kondisi saat diri lo mungkin akan lebih banyak mengeluarkan karbon dioksida daripada menghirupnya. Karbon dioksida dalam tubuh pun berkurang. Ini bukan penyakit hanya kondisi yang kemungkinan akan terjadi di saat-saat tertentu" ucapnya dengan tutur kata seperti dokter tadi.


"K-kok... B-bisa??" kagetnya dengan rasa tidak percaya.


"Hei tenang, itu masalah kecil. Jangan terlalu di pikirin nanti kamu stres" ujar Doyoung yang langsung menyadari perubahan Son Niko dari raut wajah gadis tersebut.


"I-iya kak" gugupnya.


Johnny menghela napasnya lirih, menghampiri sosok sepupunya. "Makannya kalo buang gas itu di bawah bukan di atas" celotehnya.


"ABANG!!!"


Seketika ketiga orang itu tertawa renyah membuat Niko membuang pandangannya kesal. Dia terdiam, kembali mengingat kejadian saat ia di mall dan Jaehyun...


Ia masih tak bisa untuk melupakan Jung Jaehyun. Meski tak ada kenangan indah selama mereka berpacaran, tapi mengapa sulit untuknya melupakan sosok pria angkuh seperti Jung Jaehyun itu? Dia tidak seromantis romeo dan tidak setampan pangeran di dongeng-dongeng. Tapi dia... Selalu menjadi kenangan dengan tersendiri. Jung Jaehyun.


TBC.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2